jump to navigation

Uang Saku Anak May 21, 2012

Posted by tintabiru in Serbaneka.
trackback

Bagi sebagian orangtua mungkin ada anggapan anak belum membutuhkan uang saku, apalagi ketika anak mendapatkan katering untuk makan siang di sekolah atau selalu disiapkan bekal dari rumah, pergi ke sekolah dengan antar jemput dan selalu didampingi kemanapun ia pergi. Kondisi demikian dianggap anak tidak membutuhkan uang saku. Namun benarkah sepenuhnya demikian?

Orang tua terkadang bingung apakah anaknya perlu diberi uang saku atau tidak? Karena banyak anak yang menggunakan uang saku tersebut untuk membeli makanan yang tidak bergizi atau hal yang tidak berguna. Sebaiknya orang tua membedakan antara uang saku dengan uang jajan. Uang saku adalah uang yang diberikan oleh orang tua dengan perencanaan keuangan yang jelas. Sedangkan uang jajan adalah uang yang diberikan kepada anak untuk membeli jajanan berupa makanan dan minuman selama berada di luar rumah.

Banyak para orang tua memberikan anak-anak mereka uang saku untuk memperkenalkan kepada mereka dasar-dasar bagaimana mengelola uang. Memberian uang saku secara reguler merupakan cara yang baik bagi anak untuk belajar tentang nilai uang dan sekaligus menumbuhkan kemampuan pengelolaannya. Selain itu, uang saku akan mengajarkan tanggung jawab dan disiplin sejak dini. Uang saku membantu anak memahami prinsip dasar pengelolaan uang.

Manfaat

Daripada anak memaksa minta dibelikan barang dari dompet Anda, lebih baik anak diberikan uang sakunya. Dengan uang tersebut anak dapat memutuskan apa yang akan dibelinya. Sehingga anak tahu bahwa uang yang tersedia jumlahnya terbatas. Dengan uang saku, anak anda dapat mulai belajar mengambil keputusan, menghadapi keterbatasan finansial, dan mengerti keuntungan dari menabung dan bersedekah.

Mengenalkan pengelolaan uang berarti juga memperkenalkan nilai uang, cara membuat anggaran, serta menabung. Semakin cepat diperkenalkan, anak akan semakin siap mengelola keuangannya secara mandiri. Konon, kebiasaan anak mempergunakan uang, kelak akan mempengaruhi kemampuannya mengelola keuangan. Untuk itu orangtua perlu mendidik anak dimulai dari hal yang sederhana terlebih dulu yaitu bagaimana memanfaatkan uang saku.

Uang sakunya akan berdampak terhadap gaya hidup anak nantinya. Jika anak tidak terbiasa mengelola uang saku, dampaknya akan terlihat ketika harus tinggal terpisah dari orangtuanya. Misalnya, ketika kuliah di luar kota dan menerima uang saku bulanan, mungkin anak akan kikuk dalam mengelola uang sakunya. Atau ketika ia menerima gaji pertamanya kelak. Karena semasa sekolah anak tidak pernah dididik memegang uang saku bulanan. Dampaknya, ia akan merasa gajinya itu sangat besar dan lupa bahwa gaji itu harus cukup hingga waktu gajian berikutnya. Pada anak yang telah terbiasa diberi uang saku untuk sepekan atau per bulan, maka ia akan terbiasa menahan keinginan untuk menghabiskan uangnya di awal pekan/bulan. Jika pembiasaan ini tidak dilakukan sejak kecil, bukan tidak mungkin anak akan kehilangan kontrol dalam kehidupan keuangannya

Kapan Memulai

Tidak ada satu cara baku yang berlaku universal untuk seluruh anak dalam menangani uang saku karena dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: cara anda mendidik anak, kondisi keuangan, budaya, dsb. Sangat penting untuk memilih cara yang paling tepat untuk keluarga anda pada saat memutuskan kapan untuk memulai.

Orangtua perlu menetapkan peraturan pada anak perihal barang-barang yang bisa dibeli dengan uangnya. “Tanamkan pada dirinya bahwa uang saku bukanlah untuk dihabiskan dan bebas membeli apapun, anak harus belajar mempertanggungjawabkan pengeluarannya pada orangtua. Kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku. Orang tua bisa menilai apakah anaknya siap dibebani tanggungjawab untuk membawa, menyimpan dan menggunakan uangnya sendiri. Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima, tidak bisa diukur dari usia. Namun sebagai patokan saja, pada anak TK, sebaiknya jangan diberi uang saku dulu, namun dampingi anak jika ingin membeli sesuatu.

Pada usia SD kelas awal (1-2-3)  untuk keperluan jajan dan biaya transportasi sekolah, bisa diberikan uang saku yang sifatnya harian. Pada anak usia SD kelas akhir (4-5-6) yang sudah terbiasa mendapat uang saku harian bisa diubah menjadi mingguan. Orangtua perlu melakukan evaluasi, apakah anak sudah mampu mengelola uang saku mingguan dengan baik, sebelum memutuskan memberikan uang saku bulanan.

Jika anak sudah dipercaya menerima uang saku bulanan bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain, misalnya membayarkan uang les, berlanggananan majalah, sampai hiburan di akhir pekan, membeli buku sekolah, pakaian, dll. Orangtua juga perlu membiasakan anak  menyisihkan uang sakunya bukan untuk keperluan dirinya saja, namun juga untuk  membelikan kado saat teman berulang tahun, untuk kegiatan amal-sosial dan sebagainya.

Seiring waktu, orangtua bisa menambah jumlah uang saku anak. Sehingga anak pun bisa menyesuaikan pengelolaan pengeluaran uang sakunya dengan kebutuhannya selama sebulan. Tujuannya, mengajarkan anak untuk membuat pengeluaran yang seimbang antara kebutuhan utama dan belanja yang sifatnya impulsif. Anak akan belajar memilah-milah kebutuhan yang menjadi prioritasnya.

Tidak ada penetapan umur yang tepat untuk seluruh anak, tapi pertimbangkan pemberian uang saku selambat-lambatnya pada saat anak anda berusia 10 tahun.  Pada saat itu sebagian besar anak-anak sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mempertimbangkan pengeluaran dan penggunaan uang sakunya, meskipun masih membutuhkan bimbingan dari orang tua.

Bagian dari Sedekah

Perlu menetapkan peraturan pada anak perihal barang-barang yang bisa dibeli dengan uangnya. Uang sakunya bukan untuk keperluan dirinya saja, tetapi juga untuk amal sosial/charity, misalnya membelikan kado saat teman berulang tahun. Dan tak kalah pentingnya juga untuk tabungan yang bersifat investasi.

Tanamkan pada diri anak bahwa uang saku bukanlah untuk dihabiskan dan bebas membeli apa pun. Anak harus belajar mempertanggungjawabkannya. Kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku. Orang tua perlu melakukan evaluasi apakah anak sudah mampu mengelola uang saku mingguan dengan baik sebelum memutuskan memberikan uang saku bulanan. Jika anak sudah bisa dipercaya menerima uang saku bulanan, bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain, misalnya membayarkan uang les, berlanggananan majalah, hiburan di akhir pekan, membeli buku sekolah, pakaian, dan lain-lain.Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima tidak bisa diukur dari usia. Sebagai patokan, anak SD kelas I-III bisa diberikan uang saku harian untuk keperluan jajan dan biaya transportasi. Jika mulai kelas IV-VI dan sudah terbiasa mendapat uang saku harian bisa diubah mingguan, dan seterusnya.

Seberapa besarkah uang saku yang sebaiknya diberikan? Ini bergantung kepada situasi finansial Anda dan komitmen yang dapat Anda penuhi. Namun agar perencanaan keuangan sesuai dengan sunah, uang saku diberikan dari bagian 3 sepertiga pada pos 1/3 sedekah (charity). Nah bagian dari sedekah inilah yang akan menjadi sumber uang saku anak. Rasul bersabda: “Bersedekahlah kamu! Seorang laki-laki bertanya: Saya punya satu dinar. Nabi bersabda: (1) Sedekahkanlah itu untuk dirimu sendiri. Laki-laki itu berkata: Saya punya satu dinar lagi, Nabi bersabda: (2) Sedekahkanlah untuk istrimu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: (3) Sedekahkanlah untuk anak-anakmu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: (4) Sedekahkanlah untuk pembantumu. Padaku masih ada satu dinar lagi, Nabi bersabda: (5) Kamu mengetahui dengannya [HR Abu Dawud, Nasa`i dan Imam Hakim mensahihkannya. Lihat: Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq bab Shadaqah Tathawu`]Dari gambaran hadis tersebut sedekah untuk anak (uang saku) bisa mendapat porsi 1/5 dari 1/3 pendapatan di pos charity/sedekah atau 1/15 (setara 7 persen dari pendapatan keluarga). Contoh jika pendapatan keluarga 2,5 juta, sekitar Rp 170.000 sebulan atau Rp 5.000-6.000 sehari. Halifax, bagian dari Lloyds Banking Group, beberapa bulan lalu melakukan survei terhadap 1.204 anak yang berusia antara 8 dan 15 tahun di Inggris. Hasilnya, rata-rata mereka diberi uang saku mingguan 5,89 pound (setara 9,23 dolar AS; jika 1$ = Rp 9.000,- sepekan Rp 83 Ribu atau 12 ribu sehari). (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com

                                                                           .

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: