jump to navigation

Sejenak Antar Suami July 29, 2010

Posted by tintabiru in Spirit.
trackback

“Orang mukmin yang imannya paling sempurna adalah yang terbaik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya” (HR. Tirmidzi belia berkata hadist hasan shohih)

Bukankah kita selalu menyadari kalau istri-istri kita, anak-anak kita adalah merupakan amanat yang terpikul di pundak kita? Yang harus kita penuhi hak-haknya di dunia ini? Dan nanti di hari akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawabannya?

Salah satu dari lubang besar yang menganga di tengah dinding rumah tangga kita, adalah ketidakpedulian kepada ilmu agama, baik dalam hal menuntut dan mengkaji ilmu, menghadiri tempat-tempat kajian, atau memiliki kaset-kaset Islami yang merekam kajian ilmu yang bermanfaat untuk didengarkan.

Jelas, lubang ini termasuk kekurangan besar dalam biduk rumah tangga kita. Hal ini akan berubah menjadi lebih buruk, bila sang suami termasuk orang yang berilmu, penuntut ilmu, atau setidaknya rajin membaca buku atau mendengar kaset Islami, yang disayangkan ia tidak memiliki kepedulian mengajari istri dan anak-anaknya tentang agamanya.

Kemudian, ia mengeluh dan menggerutui istrinya tentang perilaku anak-naknya. Ia tidak sadar bahwa dirinyalah sebenarnya biang perilaku buruk anaknya itu, disebabkan ketidakseriusannya mengajari mereka tentang persoalan agamanya.

Ketika sang istri tidak mengerti tentang ajaran agamanya tentu tidak bisa benar dalam memahami hak suaminya yang harus dipenuhi, mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islam yang benar, menjaga rumahnya sebagaimana mestinya, serta memenuhi kewajiban ibadah kepada Rabbnya dengan cara ibadah yang sesuai dengan sunnah Rasul Shallahu ‘alaihi wa Sallam.

Para suami, selaras dengan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, wajib mengajari istri-istrinya tentang ilmu yang mendukung para istri mampu memenuhi kewajiban serta menanamkam dalam hati para istri itu sikap hormat sehingga mempermudah dalam melaksanakan tugas tanggung jawab mereka.

Oleh karena itu suami wajib mengajari istri tentang prinsip-prinsip dien (agama), menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasu-Nya serta kesungguhan berkomitmen dalam Islam, mengajarinya hukum-hukum bersuci dan ibadah, tentang ibadah nafilah (sunnah), hak-hak suami, akhlaq mulia, serta menjauhi akhlak tercela.

Pernahkah kita menanyakan kepada istri-istri kita perihal ibadah mereka, shalat, puasa, dzikir dan lain sebagainya?, Kapankah kita akan menyempatkan waktu spesial setelah kepenatan fisik dan jiwa ketika usai dari melengkapi ambisi dunia, untuk bercengkrama, memberikan nasihat dan peringatan tentang Neraka, Jannah (surga), kematian dan alam kubur, juga ketaqwaan untuk menggapai kebahagian hakiki dan abadi dunia dan akhirat?

Tak terlupakan pula kita pilihkan teman atau tetangga yang baik bahkan lingkungan yang kondusif untuk keimanan mereka. Tidakah terketuk nurani Islam kita, kalau saja kecantikan paras dan kesempurnaan tubuh belahan hati kita di nikmati oleh mata-mata jalang pria berpenyakit hati, yang tak ada hak sedikitpun untuk melihat? Mengapa tidak kita pahami bahwasanya itu adalah kehormatan istri? aurat istri kita yang harus kita tutup dan kita jaga kesuciannya?

Salah satu buah manis yang akan dipetik suami bila ia serius membantu istri mempelajari ilmu agama adalah kelak istrinya akan menjadi wanita yang berbakti dan taat kepadanya, bertaqwa kepada Allah dalam bersikap kepadanya dan menjaga amanat keluarga ketika suami pergi mencari nafkah.

“Wahai para suami mengapa kita tidak menjadikan suri tauladan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam mendidik Istri dan keluarganya?”

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhuma yang berkata: Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“jika seorang suami bangun di malam hari, membangunkan istrinya, kemudian keduanya shalat dua roka’at, maka keduanya ditulis dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban, serta di shohihkan oleh Al Albani dalam shohihu ‘l-jami’ no. (333))

Betapa bahagianya dalam relung hati seorang istri bahkan terpancar di wajahnya yang polos, saat-saat bersama suami memotivasinya tentang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Alangkah bahagianya, keluarga muslim ini terlebih di ahkhirat nanti. Benar-benar pemandangan yang menyejukan hati dan jiwa, saat-saat istri duduk di samping suaminya, membaca kitab suci Al-Qur’an, sang suami membenarkan bacaan istri, menjelaskan tafsir ayat kepadanya, mengajarkan adab-adab dari Al-Qur’an maupun Sunnah, serta manfaat lainnya sebagai bentuk kerjasama dalam kebajikan dan takwa.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengajarkan pada salah satu dari istri belau tentang dzikir pagi dan petang kepada umul mukminin Juwairiyah binti Harist radhiyAllahu ‘anha :

سُبْحَانَ اللهُ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، ورِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَدَ كَلِمَاتِهِ

“Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya, sejumlah makhluk-Nya, seridho Diri-Nya, seberat ‘arsy-Nya, dan sebanyak bilangan kalimat-kalimat-Nya.”

Kapankah kita memulainya, memperbaikinya, agar menuju kepada kebahagiaan sejati?

(Sumber: bacagerimis)

                                                                                .

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: