jump to navigation

Lahan Gambut Indonesia & Pengembangan Kebun Sawit February 14, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
trackback

(Tulisan : Abet Nego Tarigan dan Jefri Saragih)

Lahan Gambut
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata gambut berasal dari bahasa Banjar (bahasa sehari-hari penduduk Kalimantan Selatan). Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob atau jenuh air.

Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi empat tipe :
1. Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 – 1.0 m
2. Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 – 2.0 m
3. Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 – 3.0 m
4. Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0 m

Selanjutnya berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Fibrik: bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasi atau sedikit mengalami dekomposisi
2. Hemik: apabila tingkat dekomposisinya sedang
3. Saprik: apabila bahan vegetasi aslinya mengalami tingkat dekomposisi lanjut/ tinggi.

Lahan gambut secara umum memiliki kadar keasaman (pH) tinggi, unsur hara dan kejenuhan basa (KB) yang rendah. Akibatnya produksi tanaman pertanian atau perkebunan di lahan gambut sangat rendah. Inilah karakteristik gambut di Indonesia.

Manfaat Lahan Gambut
Masyarakat yang tinggal di wilayah gambut secara turun-temurun memanfaatkan lahannya untuk budidaya pertanian, peternakan dan perikanan. Saat musim kemarau tiba, penduduk di lahan gambut biasanya menanam padi dan sayur-mayur serta lidah buaya. Di bagian gambut lainnya, juga dibudidayakan tanaman keras yang menjadi penghasilan utama masyarakat tempatan seperti karet dan kelapa. Saat musim penghujan tiba, penduduk lokal mulai membenihkan ikan dalam keramba serta mengembangbiakkan ternak seperti unggas-unggasan. Sebagian lain tetap rajin memelihara kerbau atau sapi yang dianggapnya sebagai simpanan (tabungan).

Selain itu, menurut para pakar lingkungan, lahan gambut sangat bermanfaat sebagai daerah sumber air, resapan dan cadangan air. Bahkan ketika pemanasan global dan perubahan iklim menjadi permasalahan dunia saat ini, keberadaan lahan gambut semakin penting karena ia mampu menahan gas-gas rumah kaca (seperti karbon dan metan), salah satu penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

Dampak Konversi Lahan Gambut jadi Perkebunan Sawit
Menurut lembaga Wetland International, Luas rawa-gambut di pulau-pulau besar Indonesia mencapai 26 juta ha. Diperkirakan setiap tahunnya ada 200 – 300 ribu ha lahan gambut dikonversi untuk pengembangan usaha HTI (hutan tanaman industri), perkebunan sawit skala besar dan budidaya tanaman pangan oleh penduduk tempatan. Khusus untuk kebun sawit, berdasarkan penelitian pada tahun 2008, Sawit Watch mendapati setidaknya 100 ribu ha lahan gambut dikonversi menjadi perkebunan sawit setiap tahunnya.

Misalnya saja di Provinsi Riau, Sawit Watch mencatat 792.618, 08 hektar lahan gambut dikonversi oleh 110 perusahaan menjadi perkebunan kelapa sawit. Apabila dihitung secara merata, setiap perusahaan sawit mengubah 7.205 ha lahan gambut mejadi kebun sawit.

Di Provinsi Kalimantan Barat terdapat 324.051 ha lahan gambut diubah menjadi perkebunan sawit skala besar yang dimiliki oleh 133 perusahaan kelapa sawit. Kedalaman lahan gambut yang dikonversi tadi berkisar 50 – 400 cm. setiap perusahaan rata-rata mengelola 2.436 ha. Masih menurut data Sawit Watch, PT Berkah Tanjung Mulya merupakan perusahaan pemilik kebun sawit paling luas di lahan gambut Kalimantan Barat seluas 20.206 ha.

Di daerah lain, tepatnya di Kalimantan Tengah, Sawit watch mendata 592.939 ha lahan gambut diubah menjadi kebun sawit skala besar oleh 178 perusahaan. Bila dihitung secara merata, maka setiap perusahaan mengonversi 3.331 ha lahan gambut yang memiliki kedalaman 50 – 400 cm perkebunan kelapa sawit.

Teknis pembukaan lahan gambut terutama untuk membangun kebun sawit baru, biasanya dilakukan dengan cara membangun kanal untuk mengeringkan air lalu membakar lahan. Tahapan selanjutnya adalah menaburi lahan dengan kapur dolomite dan pupuk kimia demi kesuburan tanah. Akibat konversi lahan gambut tersebut, menurut Wetlands International, Indonesia melepaskan 2 miliar ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya. Ini sebanding dengan 8 persen dari emisi karbon manusia secara global. Sungguh tidak mengherankan ketika Indonesia diletakkan pada urutan ke-3 negara pembuang emisi karbon terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat.

Meski telah diperingatkan dunia internasional perihal dampak negatif dari pembukaan lahan gambut terhadap perubahan iklim dan pemanasan global, pemerintah Indonesia tetap tak bergeming. Demi alasan pertumbuhan ekonomi, pemerintah melalui menteri pertanian bahkan memberikan landasan hukum bagi perusahaan dan banyak pihak lainnya yang berminat membuka lahan gambut di Indonesia. Peraturan baru yang memicu kontroversi tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian No.14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit.

Selain persoalan iklim, pembukaan kebun sawit di lahan gambut juga dapat memicu konflik sosial yang berkepanjangan antara masyakarakat adat/ tempatan yang pro maupun kontra terhadap keberadaan kebun sawit(vertical), juga antara masyarakat adat/ tempatan dengan perusahaan sawit dan pemerintah lokal (horizontal). Konflik sosial ini biasanya berawal dari sengketa lahan yang berujung pada jatuhnya korban, baik nyawa maupun harta.

                                                                    .

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: