jump to navigation

Pertanian Lahan Rawa February 4, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
trackback

Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak masing-masing dengan luas 20,15 juta hektar dan 13,28 juta hektar. Lahan rawa yang telah dibuka atau direklamasi, termasuk eks lahan PLG Sejuta Hektar di Kalteng mencapai sekitar 5 juta hektar.

Dari keseluruhan lahan yang telah dibuka oleh pemerintah tercatat baru dimanfaatkan sekitar 1 ,5 juta hektar, di antaranya 0,80 juta hektar berupa lahan pasang surut dan 0,73 hektar berupa lahan lebak dan secara fungsional yang digunakan untuk pertanian sekitar 1 ,2 juta hektar, masing-masing 0,689 juta sebagai sawah, 0,231 juta hektar sebagai tegalan, dan 0,261 juta hektar untuk pemanfaatan lainnya.

Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.lmpor beras Indonesia pada masa itu mencapai hampir 20% dari pangsa yang diperdagangkan di pasar dunia sehingga secara murad (significant) mengurangi peruntukan dana pembangunan.

Komitmen pemerintah terhadap pengembangan rawa dimulai sejak tahun 1968 yang merencanakan membuka sekitar 5 juta hektar lahan rawa di Kalimantan dan Sumatera selama 15 tahun. Rencana pengembangan terhadap lahan yang dibuka ini kebanyakan tidak dilanjuti secara optimal dan semakin terancam menjadi lahan telantar atau bongkor (sleeping land). Luas lahan rawa yang menjadi lahan bongkor ini diperkirakan mencapai antara 60-70% atau 600 ribu hektar. Tingkat kesejahteraan kehidupan petani di lahan rawa juga terlihat masih memprihatinkan karena produktivitas kerja dan hasil produksi pertanian yang dapat dicapai masih rendah.

Pada keadaan laju pertambahan penduduk 1 ,5% (3 juta jiwa) dan laju konversi 3-50 ribu hektar per tahun, maka untuk mencukupi persediaan pangan nasional dipertukan tambahan produksi setiap tahun sekitar 1 juta ton gabah kering giling. Sementara, pertanian Pulau Jawa mengalami hambatan besar di tengah pesatnya penyempitan dan penyusutan lahan akibat alih fungsi lahan. Penyempitan pemilikan lahan usaha tani dari rata-rata 0,58 hektar menjadi 0,48 hektar dengan jumlah petani gurem (pemilik lahan <0,5 hektar) membengkak dari 8 juta rumah tangga menjadi 13 juta.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan persoalan pertanian lahan rawa berhubungan dengan potensi dan kendala pengembangannya.

Ekosistem dan Produktivitas

Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh (fragile) yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena alam (kekeringan, kebakaran, kebanjiran) maupun karena kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai beragam kendala. Misalnya, tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan kahat hara (nutrients defisiency). Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2-3) dan meningkatnya kelarutan Fe2+dan AI3+.

Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang holistik menyangkut gatra (aspect) perbaikan agrofisik lahan (tanah, air, dan tanaman) dan kemampuan sosial ekonomi (modal, kelembagaan, dan adaibudaya). Keragaman hasil yang dicapai pertanian lahan rawa cukup memadai walaupun masih beragam akibat keberagaman dari sifat agrofisik lahan (tipologi lahan, tipe luapan, mintakat perairan), teknologi pengelolaan, dan penggunaan masukan (input) seperti varietas, kapur, pupuk, dan lainnya.

Selain tanaman pangan (padi, palawija, dan umbi-umbian) dan perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit), beberapa tanaman sayur-mayur (kubis, tom at, selada, dan cabai) dan buah-buah seperti rambutan, yang memadai dengan pengelolaan yang baik.

Produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun seperti pada umumnya petani, penanganan pasca panen, termasuk pengelolaan hasil masih lemah, terkait juga dengan pemasaran hasil yang terbatas sehingga diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah propinsi/kabupaten dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani rawa.

Memajukan Pertanian Lahan Rawa

Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik, termasuk sifat-sifat tanah, air, dan lainnya sangat diperlukan dan tidak dapat diremehkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa walaupun cukup banyak tersedia, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus-menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan.

Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan lahan tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi, gambut menjadi kering tak balik (ineversible drying) dan hidrofob (benciu air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya pemasaman (pH turun 2-3), kahat (deficiency) hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, dan peningkatan kelarutan racun AI3+, Fe2+, dan H2S, CO2 dan asam-asam organik.

Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpensatif. Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.

(Tulisan: Muhammad Noor dan Achmadi Jumberi, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)

                                                                        .

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: