jump to navigation

Ibu, Pengasuh Utama dan Pertama September 17, 2008

Posted by tintabiru in Renung.
trackback

(Tulisan: Dra S Hafsah Budi A SPsi MSi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sarjana Wiyata di Harian KR tgl 14 September 2008) 

SEORANG ibu memiliki peranan penting dalam mendidik akhlak anak-anaknya. Ia adalah pembuka jalan bagi pendidikan akhlak. Melalui seorang ibu, anak-anak akan belajar sopan santun lebih banyak. Karena sejak sebelum lahir sampai usia remaja biasanya lebih dekat dengan ibu.

Banyak tatakrama yang ditanamkan seorang ibu mulai dari hal yang sepele sampai hal-hal yang istimewa. Mulai dari cara makan, bergaul, tidur, berpakaian dan lain-lain. Ibu adalah pengasuh anak yang utama dan pertama. Kegagalan seorang ibu dalam menanamkan moralitas kepada anak, berarti awal kegagalan pula dalam pendidikan akhlak. Sebaliknya, jika seorang ibu mampu meletakkan fundamental pendidikan akhlak, otomatis dalam melangkah ke lingkungan berikutnya anak-anak akan relatif berhasil.

Menciptakan kondisi yang nyaman di rumah merupakan bagian terpenting terhadap pembentukan kepribadian dan akhlak anak-anak. Pembentukan spiritual untuk mendapatkan jati dirinya dan keteladanan dari orangtua harus diperhatikan kedua orangtuanya terutama ibu.
Rumah adalah tempat pendidikan yang pertama bagi anak-anak. Dan, rumah merupakan tempat pembentukan akal, jiwa, kebiasaan dan kecenderungan individu. Mereka itu ibarat bibit yang masih lunak yang siap untuk menerima bimbingan dan arahan.

Thomas Edison dapat menjadi orang terkenal dan besar berkat ibunya. Ketika sekolah Edison dikeluarkan karena dianggap bodoh dan bermasalah. Berkat kegigihan ibunya akhirnya menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia seluruh dunia. Dalam sejarah tercatat banyak wanita yang telah mencetak kebesaran dan kemuliaan ke dalam jiwa putra-putrinya dan menanamkan akhlak mulia ke dalam diri mereka. Ibu-ibu merekalah yang ada di belakang kesuksesan dan kehormatan yang diraih anak-anaknya.

Rasulullah SAW bersabda. “Tidak termasuk umatku, orang yang tidak memberikan rasa hormatnya kepada orangtua dan mencurahkan kasih sayangnya kepada yang kecil”. Anak-anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kasih sayang tidak menjadikan mereka orang yang manja dan cengeng, tetapi tegar, kuat dan mandiri. Memiliki rasa kepercayaan diri yang baik, sehingga memunculkan akhlak dan moralitas yang terpuji, serta memiliki komitmen tinggi terhadap agamanya.

Orangtua yang telah mendapatkan sinar agamanya tentu tidak akan berbuat kasar, sadis dan memberikan contoh yang buruk terhadap anak-anaknya. Dengan demikian, orangtua merupakan pijakan kasih sayang bagi anak-anaknya. Selain itu, mereka berdua sebagai tempat bersandar dan berlindung atau memberikan curahan kasih sayang dan keteladanan yang kurang atau tidak tepat. Sebab, hal seperti itu sering kali membuat anak mencari kasih sayang dari orang lain.

Mengutamakan satu anak daripada anak yang lain, sering kali menimbulkan kecemburuan, sehingga terkadang anak itu tidak betah berada di dalam rumah. Bukan sekadar itu, terkadang muncul rasa dendam dan dengki terhadap saudaranya, serta tidak diperlakukan adil oleh orangtuanya. Akhirnya, rasa kepeduliannya terhadap saudaranya dan empati kepada orang lain bisa hilang, belum lagi rasa hormatnya terhadap orangtuanya pun bisa terkikis.

Tidak menyumpahi anak, “Janganlah kalian menyumpahi diri kalian dan jangan pula menyumpahi anak-anak dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah mengabulkan sumpah itu”. (HR Muslim). Menyumpahi anak merupakan kebiasaan buruk dan akhlak yang tercela. Seorang ibu melakukan tindakan emosi pada saat marah akan menyesali apa yang telah dilakukannya setelah kemarahannya reda.
Seorang ibu yang telah disinari pancaran iman, dapat kehilangan kesadarannya dan keseimbangannya sehingga menyumpahi anak. Naudzubillah.

Puasa Ramadan untuk mencapai ketakwaan yang berarti meraih kebahagiaan dunia akherat dan sebagai sarana efektif untuk introspeksi dan menata kembali yang telah dilakukan orangtua pada anak-anak. Anak sebagai amal jariyah kedua orangtua dan baik buruknya akhlak anak sangat tergantung dari kedua orangtuanya terutama ibu.

                                                               

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: