jump to navigation

Dongeng tentang Perangkap Tikus May 18, 2008

Posted by tintabiru in Renung.
trackback

Sepasang suami istri petani pulang ke rumah dari berbelanja ke pasar. Ketika mereka membuka belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil berfikir “Mmmm makanan apa lagi nih yang mereka bawa dari pasar??”

                 

Ternyata salah satu barang yang dibeli oleh petani adalah Perangkap tikus. Si tikus tentu saja kaget. Ia segera berlari menuju kandang binatang ternak sambil berteriak: “Ada perangkap tikus di rumah! Ada perangkap tikus di rumah!!” berniat hendak memberitahukan teman-teman binatang yang lain

               

Pertama-tama ia mendatangi ayam dan berteriak: “Ada perangkap tikus!!”

                     

Si ayam berkata: “Tikus yang baik, aku turut bersedih, tapi itu tidak ada pengaruhnya bagi diriku”

                    

Si tikus lalu berlari menemui seekor kambing, sambil kembali berteriak:”Ada perangkap tikus!!”

                      

Namun si kambing pun berkata: “Aku turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, lagi pula buat apa repot-repot? perangkap tikus itu tidak dapat melukaiku”

                    

Si tikus lalu menemui Sapi. Sayangnya Ia pun mendapat jawaban yang sama: “Maafkan aku, perangkap tikus itu tidak berbahaya sama sekali untukku”

                             

Si tikus lalu berlari ke hutan dan bertemu ular. Si ular pun merespon sama “Aaah perangkap tikus sekecil itu tidak akan dapat mencelakaiku”

                               

Akhirnya si tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui bahwa ia akan menghadapi bahaya ini sendiri.

                          

Suatu malam petani dan istrinya terbangun mendengar suara keras. Ternyata suara tersebut datang dari perangkap tikusnya yang menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata bukan tikus, melainkan seekor ular berbisa yang terperangkap buntutnya pada perangkap tikus tersebut.

                           

Merasa putus asa karena terperangkap, si ular menyerang dengan ganas, hingga akhirnya menggigit istri petani. Petani pun mengambil golok dan membunuh si ular.

                       

Si petani membawa si istri ke tabib di desanya, namun si istri malah makin parah dan demam terus-menerus.

Di tengah demamnya si istri menggigau minta dibuatkan sop ayam oleh suaminya. Si petani dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak menjadi sop.

                    

Ketika masih saja demam, sang tabib menyarankan untuk memberi si istri hati kambing. Si petani serta merta menyembelih si kambing untuk diambil hatinya.

                     

Namun ternyata selang beberapa hari si istri akhirnya meninggal dunia akibat racun ular tersebut.

Teman-teman, sanak saudara, dan handai taulan petani datang untuk melayat si istri. Sehingga petani untuk menjamu para pelayat menyembelih sapinya.

                         

Sementara dari kejauhan si tikus hanya bisa menatap penuh kesedihan. Perangkap tikus yang menjadi sumber masalah sudah lama tidak dipakai lagi.

                      

Maka jika suatu hari datang kepada anda seseorang yang dalam kesulitan dan meminta tolong, jangan sekali-kali mengira itu bukan urusan anda….. fikirkan sekali lagi.

                    

We are live in the same boat. When someone make a hole, but anybody don’t care, then everybody will drown.

                         

(Sumber: Anonymous, regards to Beranigagal.com)

                                 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: