jump to navigation

Magisnya Komunikasi dalam Perkawinan April 8, 2008

Posted by tintabiru in Uncategorized.
trackback
(Tulisan Kasandra Putranto di Harian Kedaulatan Rakyat 7 April 2008)
             
BUKAN sulap, bukan sihir, ini hanyalah sebuah kenyataan yang begitu ampuh  lebih dari segala macam rapalan. Ini hanya sebuah aktivitas sederhana yang  kita tahu, tapi sering diabaikan: Komunikasi.
            
Di zaman yang heboh ini, kita sering mendengar berita perceraian, ketidakharmonisan rumah tangga, perselingkuhan dan seterusnya. Bahkan, salah satu  prakiraan yang amat diminati di awal tahun adalah berapa orang yang bakal  cerai tahun ini dan siapa saja. Ngilu rasanya kalau tahu bahwa pada  kenyataannya, di Indonesia ada 200-ribuan (!) pasangan bercerai saban  tahun. Kebanyakan dari masalah perpecahan hubungan sakral perkawinan ini  sebenarnya bisa diatasi dengan berkomunikasi. Sayangnya, banyak orang  tidak melakukan seperti semestinya.
               
Banyak pasangan yang bercerai mengatakan ini sudah takdir. Seandainya  mereka ingat, Tuhan tidak pernah menyukai perceraian, karena itu sulitnya  rasanya meyakini bahwa Tuhan menggariskan perceraian pada nasib seseorang.  Bukankah yang baik datang dariNya, sedang hal buruk adalah hasil kerja  kita, manusia. Jadi kalau manusia yang memang memutuskan untuk menikah  dengan siapa, layaknya ia juga yang harus mempertahankan perikatan yang diikrarkan dengan nama Tuhan.
               
Masalahnya pada waktu timbul ketidakharmonisan hubungan istri-suami, salah  satu atau kedua pasangan sering meninggikan ego daripada memilih untuk berkomunikasi. Banyak orang sudah menentukan persyaratan lebih dulu dalam sebelum melakukan komunikasi, misalnya, “Saya mau ngomong kalau dia mau  mendengarkan”, “Saya mau menyelesaikan masalah, kalau dia juga mau”, “Kan tidak mungkin cuma saya yang mau mempertahankan perkawinan, dia juga  harus mau”, dan lain-lain.
            
Peran Istri Tradisional Versus Modern
Dalam pandangan yang populer di masyarakat, perempuan terbagi dua, perempuan tradisional dan perempuan modern. Dalam pengelompokan yang  tradisional, perempuan melakukan bakti sebagai istri, menjadi  pendamping, melayani kebutuhan suami, mengurus rumah tangga, melahirkan,  mengasuh dan mendidik anak, kalaupun bekerja, maka itu untuk menambah  penghasilan. Perempuan yang diklasifikasikan modern adalah perempuan yang  mandiri tidak bergantung kepada pria, memiliki pendapatan dan karir kerja  yang menjadikan dirinya punya status sendiri (bukan istri si-anu), meski  menikah, tapi tidak berarti dialah satu-satunya yang bertanggung jawab  untuk urusan rumah tangga, memiliki lingkungan pergaulan sendiri, dan  memiliki porsi yang sama dengan suami dalam mengambil keputusan.
             
Perempuan tradisional melakukan tugasnya sebagai istri karena hal tersebut  merupakan kewajiban yang harus dipenuhi tanpa syarat, sedangkan perempuan  modern bisa sangat berkeras menuntut perlakuan yang sama dari suaminya  sebagaimana perempuan tersebut sebagai istri. Bila perempuan tradisional  melakukannya sebagai sebuah kemuliaan dari pengabdian, maka perempuan  modern melakukan tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga merupakan  kesepakatan.
         
Akibatnya, pada saat terjadi ketidakharmonisan rumah tangga. Perempuan  tradisional akan merasa tertekan karena ia tidak bisa menjadi pribadi  merdeka sebagaimana ketika mereka belum menikah.  Pada perempuan modern  masalahnya adalah, ia seperti tidak mendapatkan respons yang diinginkan  dari suami atas tuntutan kesepakatan yang mereka buat sebelum menikah.
            
Kebuntuan komunikasi dialami oleh kedua klasifikasi perempuan tersebut  dalam hubungan istri-suami. Ini mengakibatkan masalah-masalah yang ada di  antara istri dan suami jadi berlarut-larut dan merambat ke hal lain, dan  menjadi bom waktu yang berujung pada perceraian.
           
Jadi sebenarnya kericuhan rumah tangga dialami oleh istri yang bergaya  perempuan tradisional, maupun perempuan modern. Pendekatan yang harus  dilakukanpun sebetulnya sama, yaitu komunikasi.
          
Merajut Benang Komunikasi
Kebanyakan pendapat mengatakan perempuan itu lebih menggunakan emosi,  sedangkan laki-laki banyak memakai logika. Perempuan punya dorongan untuk  menceritakan banyak hal, terutama emosinya, laki-laki tidak demikian  adanya. Laki-laki cenderung menyampaikan apa yang perlu dikatakan pada  waktu yang dia anggap tepat. Karena itu sering istri jadi kesal kepada  suami yang hanya menanggapi sekadarnya atas apa yang sang istri ceritakan.
Suami terlihat dingin dan tidak serius mendengarkan.
           
Jurang pemahaman dan emosi acapkali membuat sebuah percakapan sederhana  menjadi perdebatan sengit yang membawa masuk masalah lain ke dalam pembicaraan, sehingga berkepanjangan dan tidak menyelesaikan masalah.
Mirip dengan saluran antara perangkat komunikasi, jalur komunikasi  antarmanusia juga terdiri dari benang-benang komunikasi yang menghubungkan  dua individu atau lebih. Benang yang satu dengan benang yang lain harus  dirajut sehingga membentuk sebuah jalur komuni-kasi yang kukuh, di mana  individu-individu yang terkait dapat menyampaikan pesan pikiran dan  perasaan antara satu dengan yang lain.
             
Sapaan atau sambutan hangat di tiap kesempatan merupakan salah satu cara  merajut benang-benang komunikasi antara istri dan suami. Pernikahan yang  masih penuh romantisme selalu melakukan aktivitas seperti ini. Pada  pasangan yang sudah dibebani masalah-masalah keseharian, sering tatapan mesra, sapaan, dan percakapan ringan tidak dilakukan lagi karena dianggap  basa-basi yang kurang perlu. Padahal bertemu tiap hari tidak selalu  membuat istri dan suami memahami keadaan masing-masing. Istri dan suami   sering memiliki persepsi masing-masing terhadap pasangannya tanpa tahu  keadaan sebenarnya. Kondisi ini dapat menciptakan perbedaan yang makin  jauh seiring berjalannya waktu.  Mulailah muncul misunderstanding, lalu  meningkat menjadi bibit miscommunication.
Benang komunikasi sebetulnya bisa dirajut dengan cara-cara sederhana,  misalnya membuat kesempatan untuk minum teh bersama. Jangan melihat ini  sebagai kegiatan istri melayani suami, tapi lihatlah kesempatan ini  sebagai bentuk berkomunikasi, untuk berbagi cerita. Melayani itu sama  artinya dengan memahami kesukaan orang yang dilayani.
Ada nilai kebijakan  di situ dan sama sekali bukan sikap merendahkan diri. Inisiatif melayani  adalah sikap orang yang dewasa, matang, dan mampu mengatasi masalah.
               
Inisiatif menyediakan minuman teh untuk dinikmati bersama bukanlah sebuah  tindakan merendahkan diri atau mengalah. Inisiatif ini merupakan sikap  kedewasaan dalam membangun hubungan yang harmonis dalam rumah tangga.
              
Menyeduh teh dan menyajikan untuk kebersamaan bukanlah meladeni keinginan  pasangan, namun suatu cara berbagi (sharing), memahami lagi pribadi masing-masing (rediscovering each otherís personality), dan menghidupkan  kembali kemesraan istri-suami (revitalizing romance), kegiatan sederhana  namun berarti ini. Kesempatan duduk berdua tersebut dapat menjadi cara  untuk berbagi rasa dan pikiran antara istri dengan suami. Obrolan yang  diselingi dengan canda dan tawa dapat menjadi gerbang menuju pembicaraan  yang lebih serius tentang masalah rumah tangga. Pada kesempatan yang   berikutnya, bisa saja meminta suami membawa makanan kecil untuk teman  minum teh. Bahkan, mungkin di saat lain sang suami yang membuat teh untuk  berdua.
            
Perlu seorang perempuan dan seorang laki-laki untuk menikah, perlu istri  dan suami untuk menyatakan bercerai, tapi hanya perlu anda seorang untuk  menyeduh teh agar pernikahan menjadi harmonis.
                    

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: