jump to navigation

Romantis… March 9, 2008

Posted by tintabiru in Kayungyun.
trackback
Bukan rahasia lagi, seorang isteri tetap butuh hal-hal romantis dari suaminya walau sudah puluhan tahun menikah. Istri mana yang tak akan tersanjung kalau suaminya sering bilang I love you dengan tatapan mata lembut dan penuh cinta. Atau, kalau sang suami membuat kejutan dengan sekuntum bunga plus makan malam spesial pada saat ulang tahunnya. Namun gimana sebaliknya, jika sang suami seorang kutu buku yang tak punya waktu bermesraan dengan istrinya? Seorang istri mungkin gregetan berusaha agar suaminya lebih romantis. Tapi ternyata ada juga istri yang pasrah. Baginya, yang penting sang suami mencintainya apa adanya.

Romantis adalah ekspresi cinta yang menggelora, begitulah setidaknya definisi WordWeb Thesaurus/ Dictionary dari Princeton University. Pengertian ini lebih diperjelas oleh Robert Billingham, seorang profesor di bidang perkembangan manusia dan studi keluarga dari Indiana University, AS.

“Sebelum bicara lebih lanjut, pertama-tama kita harus menyamakan ‘bahasa’ dengan mengganti kata ‘romantis’ dengan kata ‘sayang’ atau ‘peduli’, karena itulah sebenarnya yang dicari wanita,” ungkap Billingham. “Bagi wanita, sikap romantis adalah refleksi dari kepercayaannya terhadap pasangannya”.

Ekspresi kemesraan dapat diwujudkan oleh sang suami berupa perhatian berlebih, hadiah, atau pujian, misalnya terhadap kecantikan dan kehandalan isteri mengurus rumah tangga. Lebih dari itu, psikolog Sawitri Supardi mengatakan, di mata para isteri, suami yang romantis digambarkan sebagai sosok yang peka dan peduli pada kebutuhan individu sang isteri. Praktisnya, kebutuhan romantis suami istri ini bisa berupa kontak fisik maupun batin yang dinikmati secara bersama.

Namun harapan sering berbeda dengan realitas. Istri tidak selalu mendapatkan sikap romantis dari suaminya seperti yang diinginkan walaupun suami merasa telah memberi yang terbaik dan tidak selingkuh. Menurut psikolog, persepsi istri dan suami tentang romantisme memang tidak selalu sama. Istri mengasosiasikan kemesraan dengan hal-hal yang mengarah pada hubungan serasi, penuh cinta kasih, tidak selalu fisik. Itu sebabnya seorang istri menganggap pemberian bunga, puisi dan rayuan sebagai perilaku romantis. Lain halnya dengan suami. Sense of romance-nya lebih pada tujuan, jadi harus nyata bukan simbol. Jelasnya, romantis bagi suami berarti kedekatan dengan istrinya secara fisik. Baginya, kartu ucapan bertuliskan “I miss you” dari sang istri mungkin kurang romantis. Begitu pula, suami tidak ingin agar anak, orang tua, mertua atau pihak ketiga lain ikut nimbrung dalam menikmati momen romantis dengan istri.

Ada kisah kasih pasangan pengantin baru yang seharusnya masih dalam masa-masa romantis. Namun sang istri justru bilang, ”Suamiku tidak romantis sama sekali. Ia tak mengerti kalau bunga dapat membuat wanita sampai terjongkok-jongkok saking senengnya. Ia juga tak mengerti kalau mendapat kertas kecil ada tulisannya ”I love you” bisa membuat wanita terbang ke langit ke 12”. Konon langit cuma ada tujuh lapis, namun dalam kisah tersebut ternyata sang suami memiliki versi romantis yang lain. Saat menonton bersama acara film di TV, dia senang membelai-belai istrinya dari awal sampai film berakhir. Alhasil si istri malah kabur karena kegelian.

Bunga atau tanda cinta yang lain perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat pula. Ada kisah seorang suami yang selalu mengirim bunga pada waktu ulang tahun istrinya. Bunga itu dikirim lewat jasa kurir ke kantor sang istri pagi-pagi sekali sebelum ia datang. Sang isteri malah merasa malu, ”Rekan satu kantor selalu menanyakan bunga itu dari siapa dan ada acara apa. Karena setiap tahun seperti itu, lama kelamaan mereka jadi tahu duluan kalau ada bunga datang ke meja kantorku. Malu-maluin, kenapa tidak kirimnya ke rumah saja”.

Memberi bunga ternyata tak selamanya romantis. Cerita lain ketika seorang suami ingin mengejutkan isterinya dengan membawa seikat bunga. Betapa terperangahnya sang suami saat isterinya malah berkomentar, “Ngapain beli bunga? Sayang banget duitnya. Lebih baik buat temanku yang kebetulan baru saja melahirkan”. Untunglah sang suami bukan hanya romantis tapi juga berpikir positif. Dia malah senang karena menurutnya istrinya lebih mementingkan untuk membahagiakan orang lain.

Tapi yang lebih menjengkelkan adalah jika alasannya agar praktis. Seorang isteri protes terhadap suaminya yang tidak memberikan hadiah pada saat ia ulang tahun. Suaminya justru tidak habis pikir, “Lha saya kan sudah kasih uang dan credit card, kamu mau beli apa saja bisa”.

Nah, beda persepsi inilah yang dapat membuat tujuan dari ritual romantis, yaitu kemesraan dan kebahagiaan, tidak selalu tercapai. Hal itu tak akan jadi masalah bagi isteri selama suaminya setia. ”Yang penting dia menyayangi dan mencintai kita apa adanya. Ya, daripada romantis tapi selingkuh”, demikian komentar salah seorang isteri.

***

Memang tak dapat dipungkiri, sebuah perkawinan akan lebih serasi jika dibumbui hal-hal yang romantis walaupun kadarnya relatif sedikit. Untuk itu suasana romantis perlu dihidupkan dalam rumah tangga. Seribu jalan menuju ke Roma, banyak cara dapat ditempuh menuju keluarga yang mesra.

Yang mula-mula perlu dilakukan adalah mengetahui bagaimana persepsi suami mengenai romantisme. Sekecil apapun pengertiannya, istri perlu memberikan respon atau apresiasi positif. Ketika suami melakukan hal-hal kecil untuk istri, ucapan terimakasih dan wajah gembira dari istri akan jadi kebahagiaan dan sekaligus kebanggaan bagi suami.

Menunjukkan wajah yang cerah dan saling mengucapkan salam bila bertemu juga dapat membuat pasangan saling lebih mencintai. Panggilan sayang, ciuman, sentuhan pada lengan dan punggung sangat mententramkan dan terasa romantis. Jari-jemari yang saling menggenggam ibaratnya menggugurkan dosa-dosa keduanya. Bahkan di meja makanpun suami istri bisa bermesraan. Makan sepiring berdua, minum segelas berdua dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat. Trik ampuh lainnya adalah saling memberi hadiah karena dapat mengokohkan rasa kasih sayang, tentunya dengan jenis hadiah dan saat yang tepat untuk memberikannya.

Pada kasus yang lain, tidak jarang hadirnya ”pihak ketiga”, seperti orang tua atau mertua, kerabat, dan anak, dapat mengurangi frekuensi kemesraan namun tidak harus mengurangi kualitasnya. Oleh karena itu sangatlah penting untuk menjaga hubungan baik dengan mereka. Namun tidak urung ada perubahan pada hubungan suami istri tatkala si buah hati hadir. Curahan kasih sayang suami kadang hanya tertuju pada anak, akibatnya isteri jadi cemburu. ”Tadinya tiap hari suami memanggilku ”sayang”. Sekarang hampir tak pernah lagi. Kata-kata sayang hanya untuk anak. Aku merasa shock dia berubah menjadi begini. Walau sikap mesranya itu pada anak sendiri.”

Usia pernikahan juga bukan alasan untuk mengurangi kemesraan. Seorang isteri menuturkan, ”Setelah 10 tahun lebih kami married, justru makin romantis. Kalau jalan berdua kami gandengan. Saat duduk di taman sambil menemani anak-anak bermain, kami berangkulan. Di rumah, kami masih sering bermain gelitik-gelitikan atau rebutan suatu barang sampai jungkir balik. Anak-anak sering ikutan, ada yang pro ayahnya, ada juga yang pro ibunya”

Kabur dari rutinitas juga perlu dilakukan khususnya jika usia pernikahan sudah lama. Ada kisah pasangan yang telah menikah 7 tahun dan memiliki 2 anak. Sang suami bukan tipe yang romantis. Namun sang isteri tak patah semangat. Hari demi hari ia mengompori hingga akhirnya berhasil meromantiskan suaminya. ”Yang jelas kami selalu menyempatkan waktu untuk pergi berdua seminggu sekali tanpa diganggu anak-anak untuk tetap menjaga keromantisan. Pergi nonton, ke cafe, atau jalan-jalan ke mall berdua layaknya ABG“.

Ada kalanya suami membutuhkan penyegaran karena setelah menikah secara bertahap hubungan intim berubah menjadi rutinitas. Oleh karena itu, variasi dapat juga diwujudkan dalam melakukan hubungan intim. Kadang suami ingin melakukan hal-hal yang kreatif dan spontan. Misalnya mengganti lampu dengan lilin aroma terapi, tampil dengan baju seksi, makan malam diterangi lilin dan disertai percakapan yang hangat membuat suami merasa sedang berpacaran kembali. Umumnya suami suka makan enak dalam suasana romantis, jadi apa salahnya memuaskannya di meja makan?

****

Kontak secara fisik dan batin adalah kunci dalam menumbuhkan sikap romantis dalam hubungan suami istri. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kesediaan untuk berkomunikasi dua arah dan hati yang ikhlas untuk menerima sang belahan jiwa apa adanya. Menceritakan rahasia terdalam akan menunjukkan totalitas hubungan suami istri. Totalitas ini pulalah yang dapat meluncurkan kata-kata maaf untuk menyudahi pertengkaran yang mungkin terjadi.

Romantisme dalam rumah tangga dapat mencairkan jiwa suami istri, karena jiwa dapat berkarat seperti besi. Canda ria suami istri begitu penting di tengah kepenatan hidup sehari-hari. Kalau tidak, bisa-bisa cinta akan berkarat.

Terakhir, ada rahasia yang harus kita ketahui mengapa suami istri harus romantis. Suami adalah titipan Tuhan kepada istri yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Karena itu perlulah memberikan kesan terbaik pada saat bersamanya.

(Tulisan Vita Sarasi di www.wrm-indonesia.org)

                     

Comments»

1. Miftah - January 14, 2009

Kereenn…

thx 4 blog nya, valid buat referensi nih…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: