jump to navigation

Seni Berkeluh-kesah August 14, 2007

Posted by tintabiru in Renung.
trackback

Pernah merasa jengkel dengan keluh-kesah seorang teman? Ya, beberapa orang teman punya kecenderungan sering berkeluh kesah tentang berbagai hal. Rasanya hidup ini jauh dari indah.

Kalau Anda penggemar film kartun SpongeBob SquarePants, tentu Anda mengenal betul karakter Squidward yang selalu merasa muram. Ketika nonton kartun tersebut boleh jadi kita menertawakan perilaku Squidward. Nah, jangan-jangan kita pun secara tak sadar berperilaku seperti dia. Kapan itu? Ya, kalau kita punya hobi berkeluh-kesah.

Berkeluh-kesah itu penting bagi kesehatan mental seseorang. Itu ibarat lubang angin dari sebuah kamar yang sumpek tertutup rapat karena jendelanya macet tidak bisa dibuka. Dengan lubang angin itu tentu ada sedikit kelegaan, walau tentu saja bukan merupakan solusi final.

Namun tahukah Anda bahwa tidak seorang pun di dunia ini yang menyukai keluh-kesah Anda, kecuali diri Anda sendiri? Mendengarkan keluh-kesah adalah sebuah perjuangan berat bagi kebanyakan orang. Itu dikarenakan melalui keluh-kesah sebenarnya seseorang menularkan energi negatif kepada orang lain. Mendengarkan keluh-kesah, dan juga asyik menimpalinya, sebenarnya membuat ‘mood’ seseorang ikut menjadi negatif. Kalau berkeluh-kesah itu ibarat –maaf- buang angin yang bisa melegakan perut mules, maka mendengarkan keluh-kesah ibarat mendapat hadiah ‘buang angin’ tersebut. Kalau sedikit sih, nggak apa-apa. Kalau banyak? Kitanya yang jadi sakit perut.

Menyadari bahwa sebenarnya tidak ada orang lain yang menyukai keluh-kesah, saya belajar untuk mengurangi berkeluh-kesah. Alasannya sederhana, biasanya orang yang kita keluh-kesahi itu sebenarnya tidak banyak bisa membantu. Paling-paling dia ikut mengiyakan.Lalu bagaimana kiat berkeluh kesah yang benar? Ada prinsip sederhana yang selalu saya ingat :

Kita ‘berkeluh-kesah’ hanya kepada Tuhan.
Kita cukup ‘bercerita’ kepada manusia lain, sebagai bagian mencari wujud pertolongan Tuhan.

Contoh berkeluh kesah : “Tuhan, mengapa aku belum juga mendapat jodoh, mengapa hidupku masih susah padahal aku bekerja keras, mengapa temanku mengkhianati aku, mengapa aku sakit, mengapa aku tidak juga naik karirnya, mengapa hutangku banyak dan tidak juga lunas, mengapa rumahku kebanjiran, mengapa wajahku tidak cantik, mengapa aku bukan anak orang kaya, …dsb.” Semua uneg-uneg dalam hati ini sah-sah saja, bahkan benar, untuk ditumpahkan langsung kepada Tuhan (dan salah kalau dikeluhkan kepada manusia). Tumpahkan semua emosi saat berkeluh-kesah. Adukanlah semua masalah kehidupan yang menyesakkan dada. Menangislah. Mudah-mudahan dengan mengadu itu hati menjadi lebih lega.

Contoh bercerita : “Aku punya masalah nih, hutangku kepada si Anu tidak juga lunas. Sebaiknya apa tindakan yang perlu kuambil?” Dalam hal ini kita tidak berkeluh-kesah, tapi hanya bercerita sebagai bagian pengantar mencari solusi. Ketika kita sudah mengadu kepada Tuhan, ketika sudah kita tumpahkan segala kekecewaan, kebencian, kemarahan, dan kesedihan kepada Tuhan, maka kita bisa bercerita kepada manusia lain dengan emosi yang lebih terkendali. Persoalan kehidupan ini banyak yang sulit. Siapakah yang tak akan bosan mendengarkan keluhan kita? Ya tentu saja Tuhan. Siapakah yang sesungguhnya punya solusi atas masalah kita yang rumit dan menyesakkan itu? Ya tentu saja Allah, Tuhan kita.

Lalu bagaimana Allah akan menolong? Jalan yang paling sering adalah melalui kesempatan yang terbuka dan pertolongan manusia lain. Jadi, ketika kita ‘berkeluh-kesah’ kepada orang lain, carilah orang yang kira-kira memang bisa membantu. Hindari berkeluh-kesah ke semua orang karena biasanya lebih banyak ruginya dibandingkan untungnya. Berkeluh-kesah kepada sembarang orang seringkali berakhir dengan kehinaan diri sendiri karena aib yeng terbuka kepada banyak orang.

Bila kita menyadari bahwa ‘berkeluh-kesah’ ke orang lain hanya ditujukan untuk mencari solusi, maka tentu kita akan pilih-pilih kepada siapa kita akan menceritakan persoalan kita. Tentu saja hanya kepada orang-orang yang kita yakini akan menjaga nama baik kita, dan berpotensi memberikan bantuan yang kita butuhkan (sebagai wujud pertolongan yang kita pinta dari Tuhan). Itupun kita sampaikan dalam bentuk ‘bercerita’ bukan berkeluh-kesah.

Jika kita membatasi diri cukup ‘bercerita’ saja kepada manusia, dan senantiasa mengadu hanya kepada Tuhan, maka insya Allah akan terpelihara kemuliaan diri ini dari kehinaan dalam pandangan manusia.

(sumber : sepia.com)

  

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: