jump to navigation

Dibalik Gigitan Si Kecil July 22, 2007

Posted by tintabiru in Renung.
trackback

Sebuah artikel dari Media Muslim, saya copy karena mengingatkan saya akan si Thole ganteng yang akhir-akhir ini sering menggigit teman, kakak dan ibunya, juga mbah serta buliknya. 

Mengapa Anak Suka Menggigit? 

Sebagian anak kecil usia 2-4 tahun memang suka menggigit. Mengapa anak suka menggigit? Penyebabnya bisa bermacam-macam. Di antaranya:

Cara mengekspresikan emosi

Bagi anak, menggigit adalah salah satu ekspresi emosi untuk melampiaskan kemarahan, kejengkelan atau rasa frustasi. Bisa pula karena anak memerlukan perhatian, capek, cemburu pada adik, dan sebagainya. Jadi, menggigit adalah cara dia untuk menyalurkan emosi negatif.

Dijadikan sebagai ‘alat komunikasi’ anak

Anak yang belum pandai berkomunikasi, kadang suka menggigit untuk mengungkapkan  keinginan atau rasa ketidaknyamanan dalam dirinya.

Dijadikan sebagai cara untuk memecahkan masalah

Anak juga sering menggunakan gigitannya untuk memecahkan masalah jika ia dalam keadaan terjepit. Misalnya saat anak sedang asyik bermain tiba-tiba mainannya direbut temannya. Karena marah dan tak tahu bagaimana cara mendapatkan mainannya kembali, tangan temannya digigit supaya mainannya terlepas dari tangan temannya. Dengan kata lain, anak menggigit sebagai cara untuk mempertahankan diri.

Meniru orang lain

Bisa juga anak suka menggigit karena meniru ayah ibunya, jika mereka senang mengekspresikan rasa gemasnya dengan menggigit-gigit si anak. Meski gigitannya lembut dan disertai ungkapan sayang, yang dipahami anak adalah bahwa perilaku menggigit itu dibolehkan. Maka, ia pun menirunya. Karena itu jika kita ingin menunjukkan rasa sayang atau gemas, sebaiknya tidak dengan cara menggigit. Pelukan, ciuman, belaian dan tatapan lembut pada anak adalah tindakan yang benar untuk mengekspresikan kasih sayang dan gemas pada anak. 

Luruskan dengan Disiplin 

Anak-anak dalam rentang usia 2-4 tahun biasanya suka menggigit. Umumnya, gejala ini berlaku pada anak yang kurang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika anak merasa takut dengan lingkungan baru, ia selalu dalam keadaan siaga untuk menggigit. Kecenderungan ini juga terjadi pada anak yang kemampuan bicaranya belum bagus. Ketika mainannya diambil temannya, ia belum bisa mengatakan, “Jangan, itu milikku!” sehingga akhirnya gigitannya yang ‘bicara’.  

Akan tetapi, kebiasaan menggigit ini akan berkurang, bahkan hilang dengan sendirinya, jika si anak sudah pandai bicara. Meski begitu, orang tua harus tetap memberikan perhatian kepada anak yang suka menggigit. Misalnya dengan mengatakan, “Jangan sayang, itu tidak boleh!” Sebab, kebiasaan buruk ini jika dibiarkan bisa berlanjut menjadi kebiasaan hingga anak besar. Anak pun merasa perbuatannya benar karena tidak pernah ditegur atau diberi penjelasan. 

Meski demikian, menjadi kurang bijaksanan  jika orang tua menghukum anak yang suka menggigit dengan cara menggigit pula. Misalnya setelah anak menggigit, orang tua pun menggigitnya dengan maksud memberi tahu betapa sakitnya jika digigit. Cara ini tentu tidak benar. Sebab, anak akan berpikir, “Kok ibuku juga menggigitku?” 

Menghukum anak mestinya dimaksudkan untuk menunjukkan kesalahan anak dan memperbaiki tingkah lakunya. Orang tua tidak perlu mengancam anak semisal, “Awas, kalau menggigit lagi, ibu pukul kamu!” Lebih baik, orang tua meluruskan kebiasaan anaknya melalui kedisiplinan. Sebab, kedisiplinan akan mengajarkan bagaimana bertingkah laku yang baik.  

Tentang kedisiplinan, ada tiga komponen yang mesti  dipenuhi, yakni aturan, komunikasi, dan penguat positif atau konsekuensi.  Dalam hal aturan, orang tua dapat mengatakan pada anaknya, “Kamu boleh bermain, tapi tidak boleh menggigit.” Untuk menyampaikan aturan tersebut, orang tua harus punya kemampuan berkomunikasi. Selanjutnya jika anak bermain dengan baik, ia perlu diberi penguat positif, misalnya pujian, pelukan, hadiah atau apa saja yang bisa memperkuat perilakunya. 

Sedangkan jika anak tidak bermain dengan baik atau tetap menggigit temannya, konsekuensi pun perlu diberikan. Hanya saja, konsekuensi jangan terlalu ‘kejam’, misalnya  ketika anak menggigit temannya, lalu Anda melarang ia bermain lagi ke rumah temannya itu. Anda bisa mencoba cara lain untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan mencabut sementara waktu hal-hal yang disukai anak. Seperti tidak memperbolehkannya jalan-jalan naik motor bersama abi, tidak membelikannya makanan kesukaan  dan sebagainya. 

Jika perilaku menggigit pada anak  terjadi secara tetap dan frekuensinya  cenderung meningkat, berarti anak memerlukan penanganan serius. Anak perlu dibawa ke psikolog untuk diperiksa, apakah ada kesulitan dalam bicara atau mungkin ada masalah dengan kemampuan mentalnya. Biasanya, anak cacat mental lebih lambat bicara dan frekuensi menggigitnya lebih tinggi. Anak kemudian akan dievaluasi kondisi psikologisnya, misalnya dilihat potensi kecerdasan dan kepribadiannya.  

Tips Agar Anak Tidak Suka Menggigit 

Berikut beberapa tips yang bisa dicoba agar anak tidak suka menggigit:

Ciptakan suasana nyaman

Adanya suasana nyaman akan membuat perasaan anak juga lebih nyaman dan rileks. Hal ini bisa meminimalkan timbulnya emosi negatif, sehingga anak pun tidak merasa perlu untuk menggigit.

Jaga kondisi psikologisnya

Sejak dini orang tua perlu menjaga kondisi psikologis anak. Jika marah, hindari memarahinya dengan membentaknya atau merendahkan harga dirinya. Tegurlah perilakunya tanpa mencela dirinya. Selain itu, jika orang tua sedang ada masalah atau marahan, sebaiknya jangan diperlihatkan di hadapan si kecil.

Beri perhatian cukup

Kadang si kecil menggigigit untuk mencari perhatian. Karena itu berilah ia perhatian yang cukup. Sesekali (kalau tidak bisa sering), luangkanlah waktu untuk menemaninya bermain. Jaga jangan sampai anak kurang perhatian, lebih-lebih setelah ia punya adik. Sebagai orang tua, sebisa mungkin berlaku adillah, khususnya dalam memberikan perhatian kepada anak-anak.

Perhatikan pola makannya

Anak harus dibiasakan untuk makan secara teratur, dan jaga agar jangan sampai ia kelaparan. Sebab, bisa jadi anak menggigit untuk memberi tahu bahwa ia lapar. Selain itu, pola makan yang baik dan teratur juga akan sangat bermanfaat untuk menjaga kondisi kesehatannya.

Berikan waktu istirahat yang cukup

Kondisi fisik yang lelah bisa mempengaruhi emosi anak. Karena itu anak harus dijaga jangan sampai kelelahan. Berikan waktu istirahat yang cukup untuknya. Misalnya dengan menyuruhnya tidur siang minimal 2 jam, dan tidur malam sehabis isya’, jangan terlalu malam.

Latih anak untuk berkomuniksi dan mengungkapkan emosi

Agar tidak terbiasa menggigit, anak perlu dilatih berkomunikasi dan mengungkapkan emosi sejak dini. Rajin membacakan buku  cerita  merupakan salah satu cara yang efektif untuk melatih anak berkomunikasi.  

Semoga bermanfaat.

  

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: