jump to navigation

Saat Tubuh Perlu Ketenangan February 27, 2012

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

 Panik bisa terjadi kapan saja dan berhubungan dengan banyak hal, seperti uang, pekerjaan, anak-anak atau mertua. Tapi pada kondisi tertentu tubuh juga perlu ketenangan dan terbebas dari serangan panik.  

Ini dia 12 tanda saatnya tubuh perlu ketenangan. 

Saat panik datang atau berada dalam situasi tertekan, maka seseorang memiliki pilihan untuk melawan rasa panik tersebut atau justru melarikan diri. Pada saat bersamaan hormon stres akan mengalir melalui sistem tubuh, jika tidak segera diatasi hormon stres ini dapat menimbulkan kerusakan fisik dan mental. 

Dikutip dari Health24, ada 12 sinyal yang dikeluarkan sebagai tanda bahwa tubuh memerlukan ketenangan, yaitu: 

1. Merasa pusing. Saat panik, seseorang tidak bisa berpikir dengan jernih. Lonjakan adrenalin akan menyebabkan sebagian aliran darah dialihkan dari otak dan dikirim ke otot. Hal ini akan menimbulkan rasa sakit kepala ringan. 

2. Bernapas lebih cepat. Otot-otot tubuh membutuhkan peningkatan kadar oksigen agar bisa berfungsi dengan baik saat panik. Satu-satunya cara untuk mendapatkan banyak oksigen adalah dengan mempercepat proses bernapas. 

3. Tidak bisa tidur. Ketika panik, akan muncul banyak pikiran dan perasaan cemas sehingga membuat seseorang tetap terjaga. Sebuah proses kimia yang kompleks akan memicu seseorang tertidur setiap malamnya, tapi proses ini akan terhambat jika adanya hormon kortisol yang tinggi. Padahal seharusnya hormon ini berada di tingkat terendah saat malam hari. 

4. Tubuh merasa gatal dan muncul eksim. Kelebihan hormon kortisol saat panik akan merangsang pelepasan histamin di dalam tubuh. Kondisi ini akan memicu timbulnya gatal-gatal di kulit atau eksim yang tiba-tiba muncul kembali. 

5. Tubuh berkeringat. Ketika panik, maka denyut jantung dan tekanan darah akan meningkat. Hal ini menyebabkan seseorang berkeringat lebih banyak untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. 

6. Penglihatan menjadi kabur. Ada banyak penyebab penglihatan seseorang menjadi kabur. Tapi ketika terjadi serangan panik, akan membuat tekanan darah tinggi yang memicu sakit kepala dan menyebabkan penglihatan kabur. 

7. Menjadi lebih sering ke toilet. Beberapa orang yang menderita kecemasan atau kepanikan akan membuat tubuh kehilangan vitamin B6 dan menyebabkan seseorang menjadi sering buang air kecil. 

8. Berat badan naik atau turun. Saat panik menyerang beberapa orang ada yang mencoba mengatasinya dengan cara makan yang tidak sehat atau justru tidak memiliki nafsu makan. Kondisi ini membuat berat badan seseorang menjadi bertambah atau justru menurun. 

9. Mudah terkena sariawan. Salah satu penyebab sariawan adalah kekurangan vitamin B12, dan pemicunya bisa berasal dari adanya tegangan atau kepanikan secara terus menerus. 

10. Mengonsumsi alkohol lebih banyak. Beberapa orang ada yang mengatasi rasa paniknya dengan mengonsumsi alkohol, tapi jika konsumsinya berlebihan akan membuat tubuh menjadi stres dan memperburuk kondisinya. 

11. Sering terkena infeksi. Ketika tubuh sering mengalami panik, maka secara tidak langsung tubuh selalu berada dalam kondisi siaga. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi sistem kekebalannya, sehingga lebih mudah terkena infeksi. 

12. Tidak tertarik pada seks. Percaya atau tidak saat tubuh merasakan kepanikan, maka seks tidak termasuk dalam daftar kebutuhan yang penting. Dan jika kepanikan terus menerus terjadi, maka akan menjadi malapetaka bagi tingkat libido seseorang. 

Jika mengalami kondisi tersebut, berilah tubuh waktu untuk beristirahat atau tenang. (ver/ir/detik health)  

=== 

Meraih Ketenangan Jiwa 

Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Namun, tak sedikit yang salah arah. Lihat saja orang rela menghabiskan berjam-jam nongkrong di tempat hiburan sembari minum minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan uang jutaan untuk mengkonsumsi pil-pil penenang. Sementara, ketenangan yang diproleh cuma sesaat. Itu pun sifatnya semu. Alih-alih ingin meraih ketenangan jiwa yang ada malah kehancuran. 

Berbagai persoalan sehari-hari bisa menjadi pemicu stress. Apalagi di kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini. Banyak hal yang membuat seseorang merasa tertekan, kecewa dan tegang. Masalahnya tinggal pada intensitas. Bila stress itu terjadi terus menerus akan menjadi distress yang berujung pada depresi. Pada tingkat ini penderita kerap melakukan tindakan di luar akal sehat. 

Faktanya, tak ada seorang pun terbebas dari persoalan hidup. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya.  

Namun, Islam memberikan solusi terhadap tekanan hidup itu agar jiwa tetap tenang. Tak ada istilah stress hagi seorang mukmin. Soalnya, Islam telah memberikan solusi menghadapi tekanan hidup, b erikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk meraih ketenangan jiwa: 

1. Membaca dan mendengarkan al-Quran, 2. Menyayangi orang miskin, 3. Melihat orang yang di bawah, jangan lihat ke atas, 4. Menjaga silaturahmi, 5. Banyak mengucapkan La hawla wa la quwwata illa billah, 6. Mengatakan yang haq (benar) sekalipun pahit, 7. Tidak ambil peduli terhadap celaan orang lain asalkan yang kita lakukan benar-benar karena Allah, 8. Tidak mengemis kepada orang lain, 9. Menjauhi utang, 10. Selalu berpikir positif 

(Lentera Kehidupan)

Bahagia adalah Pilihan February 18, 2012

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Hidup ini hanya sementara.., ada tempat terakhir dari kehidupan ini, hidup ini kadang berlika – liku kadang senang, kadang bahagia, kadang suka kadang duka…

Semua dari kita pasti menginginkan kebahagian di dunia ini, dan juga kebahagian yang kekal di akhir kehidupan kelak…

* Ternyata untuk membuat hidup itu bahagia hanya perlu 4 langkah :

1. BERSYUKUR.

Jika kita mensyukuri apa yang kita dapat, pasti akan selalu bahagia, sikap mensyukuri pemberian Tuhan akan membuat kita menerima dengan ikhlas setiap takdir yang kita terima sekecil apapun…

Lalu bagaimana CARANYA BERSYUKUR ?

Caranya : dengan mencari cermin sebagai introspeksi diri kebawah…

Artinya sebagai barometer kita melihat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita, sehingga kita akan merasa sangat beruntung dan akan berterima kasih pada Tuhan atas apa yang telah di berikanNya.

2. BERSABAR.

Sabar yang sesungguhnya tidak akan pernah habis dan tidak akan ada batasnya…

Lalu, MANFAAT SABAR untuk kebahagian hidup kita apa ?

Dengan Bersabar kita yakin bahwa dalam kehidupan ini ada yang mengatur, dengan bersabar kita akan menerima kesusahan tersebut dengan tersenyum ….

3. BERUSAHA.

Tanpa ada usaha tidak akan ada yang namanya kebahagian, berusaha/ ikhtiar merupakan kewajiban manusia… Kebahagiaan harus di raih, tapi tanpa usaha jangan harap kebahagian akan datang sendiri…

Jadilah pemimpi bukan penghayal, seorang pemimpi akan berusaha mewujudkan impiannya bukan hanya berandai-andai…

4. BERPIKIR POSITIF.

Nah, ini yang akan membuat ketiga tips diatas akan mudah kita jalankan…

Dengan berpikir positif kita bisa mengerahkan semua daya yang kita punya untuk melakukan hal positif, karena setiap tindakan di instruksikan oleh pikiran, dan berlaku sebaliknya jika pikiran negatif yang kita ciptakan maka kita akan melakukan tindakan negatif pula …

~ Katakan pada Diri Sendiri :
“Saya sudah memilih untuk Bahagia, apapun yang akan terjadi… Ada Tangan Kokoh-NYA Yang Senantiasa Membimbing” …

Allahumma Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin……

Sumber : suryarahadianto.wordpress.com

Kisah Julaibib dan Pengantin Perempuan February 13, 2012

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Adalah seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernama Julaibib. Wajahnya tidak begitu menarik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menawarinya menikah. Dia berkata (tidak percaya), “Kalau begitu, Anda menganggapku tidak laku?” 

Beliau bersabda, “Tetapi kamu di sisi Allah bukan tidak laku.” 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa terus mencari kesempatan untuk menikahkan Julaibib… 

Hingga suatu hari, seorang laki-laki dari Anshar datang menawarkan putrinya yang janda kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar beliau menikahinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya,  “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.” 

“Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang. 

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…” 

“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.  Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…” 

Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….” 

Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melamar putrimu.” 

Dia menjawab, “Ya, dan itu suatu kenikmatan…” 

“Menjadi istri Rasulullah!” tambahnya girang. 

Dia berkata lagi, “Sesungguhnya beliau tidak menginginkannya untuk diri beliau.” 

“Lalu, untuk siapa?” tanyanya. 

“Beliau menginginkannya untuk Julaibib,” jawabnya. 

Dia berkata, “Aku siap memberikan leherku untuk Julaibib… ! Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak lamaran si fulan dan si fulan…” katanya lagi. 

Sang bapak pun sedih karena hal itu, dan ketika hendak beranjak menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba wanita itu berteriak memanggil ayahnya dari kamarnya, “Siapa yang melamarku kepada kalian?” 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” jawab keduanya. 

Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” 

“Bawa aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya. 

Sang bapak pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.” 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,  “Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.” 

Tidak selang beberapa hari pernikahannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dalam peperangan, dan Julaibib ikut serta bersama beliau. Setelah peperangan usai, dan manusia mulai saling mencari satu sama lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” 

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab,“Kami kehilangan si fulan dan si fulan…” 

Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Mereka menjawab, “Kami kehilangan fulan dan fulan…” 

Beliau bersabda, “Akan tetapi aku kehilangan Julaibib.” 

Mereka pun mencari dan memeriksanya di antara orang-orang yang terbunuh. Tetapi mereka tidak menemukannya di arena pertempuran. Terakhir, mereka menemukannya di sebuah tempat yang tidak jauh, di sisi tujuh orang dari orang-orang musyrik. Dia telah membunuh mereka, kemudian mereka membunuhnya. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri memandangi mayatnya, lalu berkata,“Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya. Dia dari golonganku dan aku dari golongannya. 

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membopongnya di atas kedua lengannya dan memerintahkan mereka agar menggali tanah untuk menguburnya. 

Anas bertutur, “Kami pun menggali kubur, sementara Julaibib radhiallahu ‘anhu tidak memiliki alas kecuali kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia digalikan dan diletakkan di liang lahatnya.” 

Anas radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah orang Anshar yang lebih banyak berinfak daripada istrinya. Kemudian, para tokoh pun berlomba melamarnya setelah Julaibib…” 

Benarlah, “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”(An-Nur: 52). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, sebagaimana dalam ash-Shahih, “Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang engan itu?” Beliau bersabda, “Barangsiapa taat kepadaku, maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti ia telah enggan.” 

Sumber: Abu Thalhah Andri Abdul Halim, di nukil dari, “90 Kisah Malam Pertama” karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, Pustaka Darul Haq.

Arti Bahagia Bersama Yang Dicinta February 1, 2012

Posted by tintabiru in Kayungyun.
add a comment

Salah satu kebahagiaan adalah ketika melihat orang yang kita cintai bahagia. Kebahagiaan jenis ini levelnya lebih tinggi dari kebahagiaan yang bersifat individual. Boleh jadi, ini masuk dalam kategori kebahagiaan sosial. 

Tidak gampang untuk memperoleh kebahagiaan jenis ini. Apalagi bagi mereka yang bersifat egois. Semua kebahagiaannya diukur dari kebahagiaan diri sendiri. Orang yang demikian adalah tipikal ‘pemburu kebahagiaan’, yang justru tidak pernah menemukan kebahagiaan… 

Berumah tangga adalah sebuah cara untuk memperoleh kebahagiaan, dengan cara membahagiakan pasangan kita. Partner kita. Istri atau suami. Bisakah itu terjadi? Bisa, ketika berumah tangga dengan berbekal cinta. Bukan sekadar berburu cinta. Lho, memang apa bedanya? 

Berbekal cinta, berarti kita mencintai pasangan kita. Ingin memberikan sesuatu kepada pasangan agar ia merasa bahagia. Sedangkan berburu cinta, berarti kita menginginkan untuk dicintai. Menginginkan sesuatu dari pasangan kita, sehingga kita merasa bahagia. 

Menurut anda, manakah yang lebih baik? Mengejar cinta atau memberikan cinta? Mengejar kebahagiaan ataukah memberikan kebahagiaan? Mengejar kepuasan ataukah justru memberikan kepuasan? Mana yang bakal membahagiakan, yang pertama ataukah yang ke dua? 

Ternyata, yang ke dua. Mengejar cinta hanya akan mendorong anda untuk berburu sesuatu yang semu belaka. Yang tidak pernah anda raih. Karena, keinginan adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi keserakahan. 

Hari ini Anda merasa memperoleh cinta dari pasangan Anda, maka berikutnya anda akan merasa tidak puas. Dan ingin memperoleh yang lebih dari itu. Sudah memperoleh lagi, berikutnya anda akan ingin lebih lagi. 

Ini hampir tak ada bedanya dengan ingin mengejar kesenangan dengan cara memiliki mobil atau rumah. Ketika kita masih miskin, kita mengira akan senang memiliki mobil berharga puluhan juta rupiah. Kita berusaha mengejarnya. Lantas memperolehnya. Dan kita memang senang. 

Tapi, tak berapa lama kemudian, kita menginginkan untuk memiliki mobil yang berharga ratusan juta rupiah. Mobil yang telah kita miliki itu tidak lagi menyenangkan, atau apalagi membahagiakan. 

Benak kita terus menerus terisi oleh bayangan betapa senangnya memiliki mobil berharga ratusan juta rupiah. Jika kemudian kita bisa memenuhi keinginan itu, kita pun merasa senang. Tetapi, ternyata itu tidak lama. Benak kita bakal segera terisi oleh bayangan-bayangan, betapa senangnya memiliki mobil yang berharga miliaran rupiah. Begitulah seterusnya. Coba rasakan hal ini dalam kehidupan anda, maka anda akan merasakan dan membenarkannya. 

Kesenangan dan kebahagiaan itu bukan anda peroleh dengan cara mengejarnya, melainkan dengan cara merasakan apa yang sudah anda miliki. Dan jika anda mensyukurinya, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya pada perubahan yang datang berikutnya. 

Anda tak perlu mengejar kebahagiaan, karena anda sudah menggenggamnya. Yang perlu anda lakukan sebenarnya adalah memberikan perhatian kepada apa yang sudah anda miliki. Bukan melihat dan mengejar sesuatu yang belum anda punyai. Semakin anda memberikan perhatian kepada apa yang telah anda miliki, maka semakin terasa nikmatnya memiliki. Jadi, kuncinya bukan mengejar, melainkan memberi. 

Demikian pula dalam berumah tangga. Jika kita ingin memperoleh kebahagiaan, caranya bukan dengan mengejar kebahagiaan itu. Melainkan dengan memberikan kebahagiaan kepada pasangan kita. Bukan mengejar cinta, melainkan memberikan cinta. Bukan mengejar kepuasan, melainkan memberikan kepuasan. 

Maka anda bakal memperoleh kebahagiaan itu dari dua arah. Yang pertama, anda akan memperolehnya dari pasangan anda. Karena merasa dibahagiakan, ia akan membalas memberikan kebahagiaan. 

Yang ke dua, kebahagiaan itu bakal muncul dari dalam diri anda sendiri. Ketika kita berhasil memberikan kepuasan kepada pasangan kita, maka kita bakal merasa puas. Ketika berhasil memberikan kesenangan kepada partner kita, maka kita pun merasa senang. Dan ketika kita berhasil memberikan kebahagiaan kepada istri atau suami kita, maka kita pun merasa bahagia. 

Ini, nikmatnya bukan main. Jumlah dan kualitasnya terserah anda. Ingin lebih bahagia, maka bahagiakanlah pasangan anda. Ingin lebih senang, maka senangkanlah pasangan anda lebih banyak lagi. Dan, anda ingin lebih puas? Maka puaskanlah pasangan anda dengan kepuasan yang lebih banyak. Anda pun bakal merasa semakin puas. Terserah anda, minta kesenangan, kepuasan, atau pun kebahagiaan sebesar apa. Karena kuncinya ada di tangan anda sendiri. Semakin banyak memberi semakin nikmat rasanya. 

Anda yang terbiasa egois dan mengukur kebahagiaan dari kesenangan pribadi, akan perlu waktu untuk menyelami dan merenungkan kalimat-kalimat di atas. 

Contoh yang lebih konkret adalah perkawinan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Perkawinan semacam ini sungguh membuat menderita pihak yang tidak mencintai. Padahal ia dicintai. Segala kebutuhannya dipenuhi oleh pasangannya. Katakanlah ia pihak wanita. 

Segala kebutuhan sang wanita selalu dipenuhi oleh suaminya. Rumah ada. Mobil tersedia. Pakaian, perhiasan, dan segala kebutuhan semuanya tercukupi. Tetapi ia tidak pernah merasa bahagia. Kenapa? Karena tidak ada cinta di hatinya. 

Sebaliknya, sang suami merasa bahagia, karena ia mencintai istrinya. Ia merasa senang dan puas ketika bisa membelikan rumah. Ia juga merasa senang dan puas ketika bisa membelikan mobil. 

Dan ia senang serta puas ketika bisa memenuhi segala kebutuhan istri yang dicintainya itu. Semakin cinta ia, dan semakin banyak ia memberikan kepada istrinya, maka semakin bahagialah sang suami. Kalau ia benar-benar cinta kepada istrinya, maka ukuran kebahagiaannya berada pada kebahagiaan si istri. Jika istrinya bahagia, ia pun merasa bahagia. Jika istrinya menderita, maka ia pun merasa menderita. 

Akan berbeda halnya, jika si suami tidak mencintai istri. Ia sekadar menuntut istrinya agar mencintainya. Memberikan kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan kepadanya. Ketika semua itu tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia bakal selalu merasa tidak bahagia. Tidak terpuaskan. 

Sebaliknya, jika istri tersebut kemudian bisa mencintai suaminya – karena kebaikan yang diberikan terus menerus kepadanya – maka si istri itu justru bakal bisa memperoleh kebahagiaan karenanya. 

Pelayanan yang tadinya dilakukan dengan terpaksa terhadap suaminya, kini berganti dengan rasa ikhlas dan cinta. Tiba-tiba saja dia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terkira. 

Kalau dulu ia memasakkan suami dengan rasa enggan dan terpaksa, misalnya, kini ia melakukan dengan senang hati dan berbunga-bunga. Kalau dulu ia merasa tersiksa ketika melayani suami di tempat tidur, kini ia merasakan cinta yang membara. 

Ya, tiba-tiba saja semuanya jadi terasa berbeda. Penuh nikmat dan bahagia. Padahal seluruh aktivitas yang dia lakukan sama saja. Apakah yang membedakannya? Rasa cinta! 

Ketika ‘berbekal cinta’, semakin banyak ia memberi, semakin banyak pula rasa bahagia yang diperolehnya. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa yang bahagia itu sebenarnya bukanlah orang yang dicintai, melainkan orang yang mencintai. Orang yang sedang jatuh cinta… 

Karena itu keliru kalau kita ingin dicintai. Yang harus kita lakukan adalah mencintai pasangan. Semakin besar cinta kita kepadanya, semakin bahagia pula kita karenanya. Dan yang ke dua, semakin banyak kita memberi untuk kebahagiaan dia, maka semakin bahagialah kita… 

Begitulah mestinya rumah tangga kita. Bukan saling menuntut untuk dibahagiakan, melainkan saling memberi untuk membahagiakan. Karena di situlah kunci kebahagiaan yang sebenar-benarnya memberikan kebahagiaan..

( copas dari kembanganggrek.com )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.