Kresna Dibalik Keadilan yang Kontroversif July 20, 2009
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment

Dalam perang itu Kresna bertindak seblaku penasehat perang Pandawa setelah melalui referendum. Sebelumnya ia diminta kaum Kurawa untuk menjadu penasehat di pihaknya tetapi sebenarnya akan dimanfaatkan kesaktiannya untuk memukul hancur kaum Pandawa. Tetapi niat licik itu telah terbaca dan Kresna tetapi pada pendiriannya hanya bersedia menjadi penasehat tanpa terilbat secara fisik dalam perang, hinggu akhirnya Kurawa menarik kembali permintaanya. Sebalikany Pandawa lebih tanggap bahwa justru petunjuk itu yang lebih berharga, karena Kresna adalah seorang ahli strategi dan mampu mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi sedangkan Kurawa mendapat pakar-pakar perang seperti Bisma, Dorna, diperkuat Prabu Salya yang dapat mendatangkan ribuan bala tentara dengan Aji Chandra Birwayanya.
Tindakan tegas kresna dalam mengawal jalannya perang dibuktikan ketika menyaksikan Arya Bisma perang secara mem**** buta membantai bala tentara Pandawa hingga banyak menimbulkan korban. Dengan lantang ia mencaci: “hei Bisma, ternyata engkau ksatria yang tidak tahu atuan perang, mem**** buta membantai prajurit yang bukan tandinganmu. Tidakkah lebih pantas engkau bertanding dengan sesama satria. Aku tahu kau sukar dilawan dewa maupun manusia. Sekarang ayo lawan aku. Keluarkan semua kepandaian dan senjata andalanmu, ayo maju,” tantangnya penuh emosi. Bisma kget lalu tergopoh-gopoh turun dari keretanya menghampiri Kresna seraya memberi hormat dan berucap: “Duh Sang Kesawa, hamba mengaku salah bertanding tanpa pilih lawan.
Karena itu hukumlah hamba. Mati ditangan awatara Wisnu amat membahagiakan. Lepaskan senjata pusaka paduka bagi kematian hamba,” ujarnya pasrah. Di saat situasi menegangkan datanglah Arjuna merangkul kaki Kresna seraya memohon agar Kresna menepati janji untuk tidak terlibat langsung dalam perang. Akhirnya Kresna sadar dan berlalu. Begitulah kresna mengawasi jalannya perang dengan tindak tegas tanpa pilih bulu.
Tetapi pada bagian lain keadilan yang dilakukan menimbulkan masalah ketika Antareja putra Bima dari Saptapertala datang ingin bakti diri serah nyawa membantu Pandawa melawan Kurawa. Tentu saja kehadirannya seharusnya diterima dengan senang hati karena akan menambah kekuatan di kubu Pandawa. Tetapi tidak demikian, Kresna mempunyai catatan matinya seseorang dalam perang, termasuk Baladewa, saudara yang sangat dihormati justru akan mati di tangan si anak Bima itu. Tentu saja hal itu membuat resah hatinya dan berniat untuk mencari jalan keluarnya. Dasar Kresna berpikiran cerdas pandai mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi, manakala ia mengetahui bahwa Antareja memiliki senjata berupa Taring yang amat berbahaya yang tidak boleh dalam perang. Janganpun terkena taringnya, terlanggar bayangnya saja orang bisa mati seketika. Maka entah apa yang terjadi apabila putra Bima itu dibiarkan terjun dalam perang. Jelas, Kurawa akan hancur sebelum waktunya. Bagaimanapun, ini bertentangan dengan perikeadilan.
Untuk mencegah Antareja terjun dalam kancah peperangan, tidak ada pilihan lain kecuali nyawanya harus dikorbankan dengan cara halus. Maka dengan pura-pura memuji keampuhan senjati taringnya, Kresna minta Antareja memperlihatkan senjata itu kepada ayahnya. Dengan bergengsot ia menyerahkan senjata itu kepada ayahnya. tetapi baru saja senjata itu berada di tangan Bima, Kresna membaca aji “Pelumpuhan” hingga tangan Bima mendadak lemas dan terjatuhlah senjata yang mematikan itu menimpa tubuh anaknya hingga tewas seketika. Mengkaji tindakan Kresna ditinjau dari satu sisi, matinya cucu Hyang antaboga itu merupakan pengorbanan suci demi tegaknya keadilan sehingga kaum Kurawa akan terhindar dari kehancuran yang tidak semestinya.
Hukum keadilan tidak berarti salah satu pihak yang sedang perang tidak harus lebih cepat mengalami kekalahan, tetapi juga tidak dibenarkan pihak yang akan unggul harus lebih awal meraih kemenangan. Akan tetapi ditinjau dari sisi lain, tindakan Kresna itu jelas merupakan pembunuhan yang direncanakan secara halus, bahkan tidak berperikemanusian karena matinya Antareja meminjam tangan ayahnya sendiri, selain memanipulasi matinya Baladewa oleh Antareja. Secara hukum, setiap perbuatan menghilangkan nyawa seseorang, meski hal itu berdalih demi keadilan, tetap harus mendapat hukuman.
Walaupun kedudukan Kresna sebagai pengatur jalannya perang dan pengendali keadilan, tidak berarti dirinya kebal terhadap hukum keadilan itu sendiri. Maka dalam kisah Baratayudha, hukuman terhadap Kresna pun berlaku, karena kutukan Dewi Anggandari (ibunya Kurawa) yang menuduh Kresna telah mengadu domba Kurawa dan Pandawa hingga kedua golongan yang masih bersaudara itu ludas. Hukuman itu akan terbukti dimana kelak leluhur dan keturunannya akan saling membunuh hingga ludas dan tak bersisa.
Dua belas tahun (menurut Mahabarata 35 tahun) telah berlalu setelah perang usai dengan Pandawa sebagai pemenangnya. Ini berarti tugas Wisnu akan segera berakhir dan kematian Kresna pun akan segera tiba. Ketika itu Kresna sedang beristirahat sambil bersemedi di semak belukar di dalam hutan. Sementara itu Ki Daruka (nama lain, Ki Jara) yang sedang menunggu tuannya datang ketempat itu. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam semak, penglihatannya seperti seekor rusa. Tak ayal lagi kusir yang gemar berburu itu melepas senjata panahnya dan tepat mengenai dada Kresna hingga roboh. Sang kusir kaget dan mohon ampun telah salah penglihatan, tetapi Kresna malah berterima kasih karena dengan demikian telah memberi “jalan” bagi sang Wisnu untuk kembali ke tempat asalnya.
Sementara itu di angkasa terdengar suara gemuruh para dewa dan bidadari menyambut yang akan kembali. Kendaraan Wisnu, Garuda Kencana, telah tiba dan keluarnya Wisnu dari tubuh Kresna. Yang tinggal hanya raga tak berdaya. Gagah sakti punjul agung telah sirna. Kresna seorang besar dan berwibawa dengan sejuta kesaktian bukan mati di tangan seorang raja bukan pula oleh seorang ksatria, tetapi ia mati hanya oleh seorang rakyat kecil berpangkat kusir. Di mata Tuhan semua makhluk adalah “sama” tanpa mengenal tinggi rendahnya martabat atau golongan.
Pohon Tua… July 5, 2009
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.
Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah,dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. “Pohon yang sangat berguna,”begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.
Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.
Sang pohon pun bersedih.
“Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?” begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan.
“Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.
Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hinggapada saat pagi menjelang.
“Cittt…cericirit…cittt” Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burungyang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.”Cittt…cericirit…cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anakburung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu…dua…tiga…dan empat anak burung lahir ke dunia.”Ah, doaku di jawab-Nya,” begitu seru sang pohon.
Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya.Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. “Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini”, gumam sang pohon dengan berbinar.
Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.
Dear friends , begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana?
Allah SWT memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita.
Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita.
Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah,Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah.
Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia.Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.
Jadi , yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.