jump to navigation

Gaya Suami Mencemburui Istri June 20, 2009

Posted by tintabiru in Renung, Spirit.
add a comment

Orang bilang cemburu itu biasa, milik semua orang. Pria, wanita, ulama atau orang kebanyakan, semuanya pernah didera rasa cemburu. Umar Tilmisani, misalnya ulama besar yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum ke tiga Al Ikhwan Al muslimin, pun mengaku pernah dilanda cemburu. Dengan terus terang ia mengatakan “Setelah menikah denganku, selama 17 tahun istriku tidak pernah keluar rumah untuk berkunjung ke keluarganya, atau menghadiri undangan dan kematian tanpa memakai mobil. Ia tidak pernah menggunakan trem, bus ataupun berjalan kaki di jalan, karena aku sangat ghirah (cemburu) kepadanya. Aku cemburu melihat sinar matahari menerpa tubuhnya, atau udara membelit pakaiannya. Dan istriku sangat tahu benar akan perasaanku itu. Karena itu ia tidak pernah merasa dirinya dibatasi sehingga harus marah padaku”.

Tak hanya itu, Syaikh Umar pun mengungkapkan bahwa ia merasa cemburu ketika istrinya terpesona nyanyian seorang penyanyi bernama Riyadh an Sanbthi. Ketika dikomunikasikan istri sang tokoh mengerti dan tidak pernah mendengarkan lagu itu atau menyebut nama an Sanbathi lagi.

Cemburu akan menerpa hati suami bila ia merasa dilupakan, diabaikan atau tidak diikutsertakan ketika istri membuat keputusan penting tanpa melibatkan suami, bisa jadi suami akan cemburu. Demikian pula ketika istri terlalu sibuk dengan kegiatan yang tidak melibatkan suami, rasa cemburu akan serta merta melanda.

Sesaat setelah lahirnya anak pertama, istri akan sibuk mencurahkan waktu, perhatian dan kasih sayang untuk bayi barunya. Aktivitas ibu memeluk, menimang, memandikan dan menyusui yang tidak pernah melibatkan sang ayah, membuat sang ayah merasa tersisihkan. Waktu yang tersita untuk mengurus bayi, anak-anak dan rumah tangga membuat suami merasa terabaikan, apalagi bila suami istri mulai kehilangan waktu yang biasa digunakan berdua.

Laki-laki juga akan cemburu jika kehilangan status dan harga diri di muka umum. Egonya akan terluka parah jika dilecehkan, dihina dan disindir tajam di muka umum oleh pasangannya. Atau bila suami terlihat dan mendapat perlakuan yang dirasa lebih rendah dari istrinya. Misalnya perbedaan perlakuan karena sang istri yang pejabat sedangkan suaminya bukan. Selain itu laki-laki akan merasa nyaman dan dicintai, jika ia dikagumi oleh pasangannya. Sebaliknya ia akan cemburu bila pasangannya mengagumi orang lain selain dirinya.

Namun, laki-laki selalu terang-terangan memperlihatkan rasa cemburunya, ini penting untuk menjaga harga dirinya. Sebab tidak jarang suami merasa kurang nyaman bila rasa cemburunya diketahui oleh orang lain, termasuk oleh istrinya yang sedang ia cemburui. Yang biasa dilakukan laki-laki dalam kecemburuannya adalah :

- Berusaha tidak peduli (pura-pura tak acuh).
- Menasehati bahwa perilaku yang membuat ia cemburu adalah penghinaan terhadap masyarakat, bukan terhadap dirinya sendiri.
- Berusaha mempertahankan kuasa atau kontrol terhadap pasangannya dengan ancaman dan permohonan, atau terus menerus mengawasi segala kegiatan pasangannya.
- Menyatakan bahwa ia cemburu, yang artinya ia masih cinta dan masih memiliki hasrat terhadap pasangannya.

(Sumber: eramuslim.com)

`

Berhenti Mencoba June 15, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Suatu saat, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin tersebut bisa kehilangan kepercayaan.

Sebuah kotak yang tidak terlalu besar diisi air. Kemudian, ditengah kotak tersebut diberi pembatas sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Sedangkan di sisi lainnya, dimasukan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar.

Melihat hadirnya ikan-ikan kecil yang biasa menjadi mangsanya itu, ikan besar langsung menjadi beringas. Dengan penuh semangat ia berenang ke arah ikan-ikan kecil berada. Apa yang terjadi? kita semua sudah dapat menduganya. Setiap kali ikan besar berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.

Rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan… menyerahlah si ikan besar.

Percobaan dilanjutkan, kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah kotak air tersebut diambil. Sekarang apa yang yang terjadi?

Ajaib! Dengan leluasa ikan-ikan kecil dapat berenang, bahkan sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang ikan besar yang tetap diam dan tak bergerak sedikitpun. Bisa saja sebenarnya si ikan besar melahap ikan-ikan kecil, tapi ia diam saja.

Ikan besar telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia mempunyai kesempatan.

Kisah ini ada persamaannya dengan kita saat menjalankan pekerjaan sehari-hari. Banyak orang yang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan tidak mungkin dapat teratasi.

Di sisi lain dia juga tidak berbuat apapun untuk mengatasinya sehingga menghasilkan sikap peduli amat (I don’t care), sama seperti ikan besar dalam cerita di atas yang akhirnya menyerah, pasrah.

Manusia pesimistis, seperti si ikan besar, sering membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Banyak hal sebenarnya yang dapat anda lakukan agar pekerjaan menjadi lebih menarik, menantang dan memuaskan. Anda juga dapat menganalisa metode-metode atau teknik-teknik apa yang cocok untuk meningkatkan hasil kerja anda. Sejuta cara dapat kita coba dan lakukan terus untuk mencapai target kita. Jauh lebih memuaskan daripada sekedar mengkritik tanpa sedikitpun melakukan tindakan positif.

Sumber : Anonymous