jump to navigation

Kebenaran Sejati October 21, 2008

Posted by tintabiru in Renung, Spirit.
add a comment

Alkisah ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.

Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia pulang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar.

Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. ia menggelepar- gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut.. Semenjak itu, pria tersebut selalu membawa-bawa abu anaknya dalam sebuah tas. Sampai setahun setelah itu ia suka mengucilkan diri, tenggelam dalam tangis sampai berjam-jam lamanya; kadang orang melihat ia tertawa sendiri, mungkin kala itu ia teringat masa-masa bahagia bersama keluarganya. Ia terus larut dalam kesedihan tak terperikan..
Musim berlalu. sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas pulang ke kampung halamannya.

Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, “Ayah, ini aku pulang!”
Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu.
Ia berpikir, “Ini pasti ulah anak-anak nakal yang suka meledekku itu!”
“Pergi! Jangan main-main!”
Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, “Ayah! Ini aku, anakmu!
Dari dalam rumah terdengar lagi, “Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!”
Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang,
“Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!”
Mereka saling bersahutan. sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu..

Sang Guru menutup cerita itu dan menyampaikan: “Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka ‘anggap’ sebagai kebenaran. Ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.”
                                          
(Sekali lagi.., artikel bagus dari haryoardito.com)
                                                  

Kura-kura October 17, 2008

Posted by tintabiru in Spirit.
1 comment so far

Ada sekelompok kura-kura memutuskan untuk pergi bertamasya. Dasarnya kura-kura, dari sononya memang sudah serba lambat, untuk mempersiapkan piknik ini saja mereka butuhkan waktu tujuh tahun.

Akhirnya kelompok kura-kura ini meninggalkan sarang mereka, untuk pergi mencari tempat yang cocok untuk kegiatan piknik mereka. Baru di tahun kedua mereka temukan lokasi yang sesuai dan cocok. Selama enam bulan mereka membersihkan tempat itu, membongkar semua keranjang perbekalan piknik dan membenahi tempat itu. Lalu mereka baru sadar dan lihat bahwa ternyata mereka lupa membawa garam.  Astaga.. sebuah piknik tanpa garam?! Mereka serentak berteriak  dan sepakat bahwa ini bisa menjadi sebuah bencana luar biasa. Setelah panjang lebar berdiskusi, seekor kura-kura hijau diputuskan terpilih untuk mengambil garam di rumah mereka. Meskipun ia termasuk kura-kura tercepat dari semua kura-kura yang lambat, si kura-kura hijau ini mengeluh, merengek, menangis dan meronta-ronta dalam batoknya tanda tak suka dengan tugas yang diberikan kepadanya. Namun atas desakan semua pihak akhirnya dengan terpaksa dia bersedia pergi tapi dengan sebuah syarat, bahwa tidak satupun dari mereka boleh makan sebelum da kembali membawa garamnya.

Mereka semua setuju dan si kura-kura hijau ini berangkatlah.  Tiga tahun lewat dan kura-kura hijau itu masih juga belum kembali.  Lima tahun.. enam tahun.. lalu memasuki tahun ketujuh kepergiannya, seekor kura-kura tua sudah tak kuat menahan laparnya.  Lalu dia mengumumkan bahwa ia begitu lapar dan mengajak lainnya untuk makan dan mulailah dia membuka kotak perbekalan.

Pada saat itu juga tiba-tiba muncul si kura-kura hijau dari balik akar pohon dan berteriak keras: “Lihat!! Benar kan!? Aku tahu kalian pasti tak sabar menungguku, kalau begini caranya aku tidak mau pergi mengambil garam.”

Sementara orang sering memboroskan waktu sekedar untuk menunggu hingga orang lain memenuhi harapannya. Dan sebaliknya, dia juga sering begitu kuatir, prihatin, sering-sering malah terlalu memperdulikan apa yang dikerjakan orang lain sampai-sampai dan bahkan tak ada apapun yang dia perbuat.

(Sumber: haryoardito.com)

                                                                                                   

Agar Anak Pede October 2, 2008

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Penerimaan Diri

Orang tua menerima anak apa adanya. Bukan menghargai anak ketika anak melakukan sesuatu yang diharapkan orang tuanya. Anak selalu berharga dengan segala keterbatasannya.

Ketika orang tua menerima anak dengan tulus, misalnya pada anak yang menderita autis, Insya Allah terapi padanya pun akan lebih cepat berhasil. Anak akan merasa PD bahwa ia pun memiliki kelebihan.

 

Memperlakukan Anak Secara Lugas

Dengan bersikap lugas, anak akan terlatih untuk mandiri. Hingga mucullah percaya diri padanya.

 

Tidak Memberi Labeling

Tak ada yang positif pada labeling. Labeling hanya akan membuat anak terpuruk.

 

Tidak Memaki

Daripada memaki, lebih baik memberi nasehat. Termasuk menunjukkan kepada anak bagaimana yang semestinya.

 

Tidak Membandingkan

Tak ada orang yang senang dibandingkan begitupun anak. Tiap pribadi itu unik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

 

Beri Kesempatan Untuk Bersosialisasi

Dengan bersosialisasi, anak dapat mengembangkan potensinya. Ketika sadar akan kemampuan diri, rasa percaya diri pun akan melesat cepat.

 

Beri Hadiah dan Sangsi Sesuai Porsi

Memberi punish dan reward sesuai porsi dapat menghindari rasa dianaktirikan. Hendaknya segala konsekuensi yang dipikul didasari oleh nilai-nilai agama.

 

Biasakan Berjamaah

Berjamaah bukan sekedar menyatukan dan ritual saja. Lewat berjamaah, hubungan hati antara masing-masing anggota keluarga akan semakin tercipta. Tunjukkan kepedulian dan cinta kasih saat menatap atau mendengar keluh kesah anak.

 

Berikan Tanggungjawab

Tanggungjawab akan menghasilkan penilaian obyektif. Penilain obyektif dinilai atas prestasi anak, bukan penilaian subyektif. Hindari kalimat semisal, “Wah pintar, kamu memang hebat.” Lebih baik pilih kalimat obyektif, “Alahamdulillah, ternyata kamu bisa ya.” Setelah beberapa kali anak menunjukkan prestasi, kalimat pertama bisa digunakan.

 

Ciptakan Humor

Lewat, humor, ketegangan yang terjadi antara anak dan orang tua dapat diminimalisir.

 

Arahkan Keterampilan Anak

Orang tua ditakdirkan untuk mengarahkan anak, bukan sebagai penentu. Mendorong anak terlibat ekskul atau kursus bukan karena agar waktu luang anak terisi. Kegiatan-kegitan tersebut baik agar anak dapat mengeluarkan kemampuannya.

 

Semoga Bermanfaat…

                                

(Sumber: CyberMQ.com)