Manajemen Perut August 31, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
(Tulisan: HM Nasruddin Anshoriy Ch di Harian Kedaulatan Rakyat)
BAGI mereka yang terbiasa hidup dengan perut lapar, melakukan puasa memang bukan sebuah ‘kemewahan’. Para fakir-miskin yang sebagian besar adalah petani dan nelayan itu, hidup ini seakan seperti burung-burung gagak yang tidak pernah menabur benih atau memanen. Orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah menjadi kekasihNya itu memang tidak memiliki lumbung atau gudang untuk menimbun, sebab hidup mereka langsung ditangani oleh Allah, diberi makan olehNya.
Jika ada waktu, sejenak marilah kita cermati kebiasaan orang-orang kecil itu, kaum proletar, para dzuafa, wong-wong cilik yang dikategorikan marhein oleh Bung Karno, sesungguhnya ‘gaya hidup’ mereka yang sungguh-sungguh melodramatik itu telah ada sejak zaman dahulu. Di zaman Rasulullah Muhammad SAW, ada seorang sahabat yang kokoh iman dan teguh berprinsip: menolak makanan haram yang masuk ke dalam perutnya. Lelaki yang tak pandang bulu dan menolak dengan tega terhadap barang haram itu bernama Abu Dzarr al Ghiffari, yang hingga akhir hayatnya memilih hidup sunyi daripada harus tergoda oleh benda-benda, kapitalisme dan konsumerisme.
Mereka mengelola perut dengan sungguh-sungguh, bukan dengan cara wal geduwal halal-haram, semua diuntal. Mereka puasa bukan hanya di bulan puasa, tapi hidup itu sendiri adalah puasa. Buruh-buruh gendong di pasar, para kuli bangunan, para pekerja kasar di pabrik-pabrik, para petani penggarap, para nelayan yang digusur oleh pukat, serta orang-orang miskin korban bencana, mereka semua adalah lapisan masyarakat yang jauh lebih mengerikan hidupnya dibandingkan apa yang pernah dilukiskan oleh sebuah buku yang diterbitkan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial berjudul “Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok”.
Bandingkan dengan ‘adegan berpuasa’ pada sebagian besar sinetron kita. Bandingkan pula dengan realitas sosial para elite politik di pusat-pusat kekuasaan yang melakukan puasa hanya sebatas retorika. Sungguh merupakan kontras sosial yang luar biasa. Berpuasa tapi masih bersifat ornamental belaka, sebab nafsu pamer dan gaya hidup hedonis tetap menjadi primadona. Na’udzubillah.
Padahal teks di dalam kitab suci terkait dengan perintah puasa sudah sangat jelas, yaitu: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa”. Jika memang perintah puasa itu memang ditujukan secara khusus oleh Allah hanya kepada orang-orang yang beriman saja, adakah fenomena sosial yang terjadi dewasa ini berupa semaraknya perilaku “puasa sebatas retorika” itu pertanda makin menipisnya iman di sebagian besar bangsa ini?
Tafsir sosial puasa memang tak hanya sebatas menahan syahwat dan lapar saja, melainkan juga menahan diri dari ‘rangsangan materialisme’ maupun ‘syahwat hedonisme’ dalam segala gaya dan bentuknya. Jika para elite politik dan orang-orang kaya itu melakukan puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus saja tapi tidak membangun solidaritas sosial kepada para fakir-miskin, maka puasanya itu hanya sebatas retorika. Solidaritas sosial juga bisa berupa membuat kebijakan dan program-program kerja di pemerintahan yang bermakna pemihakan kepada rakyat miskin.
Dalam tafsir politik, puasa lebih bermakna pada menahan diri dari ‘nafsu ingin menang sendiri’ dan ‘syahwat berkuasa’ yang tak ada habis-habisnya. Begitu menjadi penguasa, biasanya, yang mendapatkan keuntungan dari jabatannya itu hanya sebatas partainya, kelompoknya, sanak-familinya, serta orang-orang yang menjadi kroninya. Segala tindakannya tetap koruptif, kolutif dan nepotis.
Menipisnya iman, menebalnya kerakusan. Mungkin itulah yang menjadikan bangsa ini makin terpuruk. Baik di tingkat lokal hingga di tingkat nasional, model birokrasi dan perilaku birokratnya serta gaya pemerintahannya nyaris sama, yakni tidak memberi keteladanan. Sungguh tragis nasib orang-orang miskin di negeri ini: alam menggeliat menimbulkan bencana, para penguasa bertingkah dan berpidato mengundang kecewa.
Barangkali inilah saatnya bagi orang-orang miskin melakukan nawaitu tapabrata.Bukankah weteng luwe alias perut lapar sudah menjadi gaya hidupnya? Bukankah Allah sendiri menjadikan puasa sebagai milikNya? Sehingga Allah sendiri yang akan menyerahkan pahala puasa itu kepada umat manusia yang menjalankannya dengan totalitas iman dan penuh perhitungan karena Allah semata?
Mengelola Emosi August 30, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
(Tulisan: dr. H. Inu Wicaksana, SpKJ di Harian KR, 30 Agustus 2008)
Emosi adalah salah satu unsur yang membentuk kepribadian manusia yang sangat berharga. Boleh dikata ini unsur yang berdiri sendiri, tapi juga sangat dipengaruhi pola pikir. Emosi sudah terbentuk sejak manusia dilahirkan.
Seorang bayi yang lahir kedua, merasa tidak nyaman dengan keadaan dunia yang tak senyaman dalam kandungan ibunya. Maka ia langsung menangis sekeras-kerasnya. Bila ada suatu rangsangan yang menyakiti dirinya, atau ia merasa lapar, bayi itu langsung menangis meronta-ronta.
Sesudah besar, pikiran semakin mempengaruhi emosinya. Bila ia memperoleh apa yang ia inginkan, pikirannya puas, emosinya pun bahagia. Tapi bila pikirannya mengharapkan sesuatu dan terbentur suatu hal, emosinya pun kecewa, frustrasi sedih atau marah. Maka dapatlah dikatakan, mengendalikan emosi sesungguhnya adalah mengendalikan pikiran kita, karena sampai batas tertentu pikiran bisa menguasai emos.
Yang menjadi problem adalah seringkali emosi tak bisa dikendalikan oleh pikiran kita, meski kita ingin sekali menguasai atau mengelolanya. Di sinilah kadang emosi bergerak sendiri, sesuai karakter, sifat dan kepribadian kita.
Para ahli seperti Fehr san Russel menyatakan bahwa “Setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri, setelah itu tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya”. Ketika kita menggunakan istilah tersebut, emosi merupakan sebuah pengalaman rasa. Kita merasakan adanya emosi, kita tidak sekadar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita akan meresponsnya, biasanya diikuti dengan pikiran yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, perubahan psikis dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Bila ada seorang teman yang semena-mena menyuruh kita melakukan sesuatu, psikis kita mengalami perubahan, tekanan darah kita meninggi karena terpacu adrenalin dan kita siap untuk marah.
Emosi itu bisa menjadi positif, tetapi bisa juga negatif. Emosi yang positif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Apakah itu bangga, harapan, kelegaan, emosi ini akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dalam interaksi dengan orang lain, emosi yang positif bisa membangun kedekatan, sebuah hubungan yang ditandai dengan keinginan baik, pemahaman dan perasaan menjadi bagian dari sebuah ‘kebersamaan’. Sebaliknya, perasaan marah, frustrasi dan emosi-emosi negatif lainnya secara personal menghasilkan perasaan susah, kecewa, sakit hati atau marah. Emosi-emosi ini kecil kemungkinannya digunakan untuk membangun kedekatan.
Emosi bisa mengalihkan perhatian dari persoalan pokok yang akan dibicarakan. Emosi bisa menghancurkan hubungan. Emosi bisa mengeksploitasi kita. Sebaliknya emosi positif bisa mempermudah terpenuhinya beberapa kepentingan yang substantif. Emosi positif bisa mempererat hubungan. Emosi positif tidak akan menambah risiko bahwa kita akan dieksploitasi.
Mematikan emosi, adalah suatu hal yang mustahil karena itu suatu hal yang alamiah. Demikian juga menghilangkan emosi. Emosi muncul sebagai reaksi atau respons manusia terhadap suatu rangsang eksternal maupun internal. Setiap rangsangan akan mendapat reaksi dari kita. Namun ada titik-titik waktu, yang bisa kita pikirkan, bagaimana bentuk reaksi yang kita ambil, inilah yang disebut respons, bentuk reaksi emosi yang sudah diatur oleh pikiran dengan pertimbangan yang bijak. Tentunya emosi yang timbul adalah emosi positif dan menguntungkan semua pihak, bukan emosi yang merusak segalanya.
Dengan demikian lebih baik perhatian kita arahkan kepada apa-apa yang membangkitkan reaksi emosi-emosi tersebut. Perhatian utama adalah keinginan manusia yang penting dalam semua hubungan antarmanusia. Keinginan itu sering kali tidak terucapkan, tetapi tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan ketertarikan yang tampak.
Keinginan utama itu memberikan kerangka yang sangat kuat kepada kita untuk mengatasi emosi tanpa mendapatkan masalah dengannya. Ada lima keinginan yang merangsang, baik maupun buruk, munculnya berbagai emosi dalam sebuah interaksi manusia. Lima keinginan itu adalah apresiasi, afiliasi, otonomi, status dan peran.
Manfaat Jalan Kaki bagi Kesehatan August 22, 2008
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment
Jalan kaki, aktivitas sederhana yang sudah semakin ditinggalkan karena tuntutan hidup serba cepat yang difasilitasi oleh pesatnya perkembangan tekhnologi. Ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Duke University Medical Center baru-baru ini ditemukan bahwa berjalan kaki 30 menit dalam sehari dapat mengurangi metabolic syndrome, yaitu salah satu penyebab tingginya risiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Sebanyak 24 juta perempuan di AS menderita metabolic syndrome.
Sementara itu dalam sebuah penelitian di Inggris menyebutkan bahwa dengan berjalan kaki selama setengah jam dalam sehari dapat mengurangi bahaya penyakit jantung sebesar 11%, terutama bagi perempuan.
Studi lain, yang pernah dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association menyebutkan bahwa berjalan kaki beberapa jam saja dalam sepekan bisa mengurangi bahaya risiko terkena kanker payudara. Ketika berjalan kaki, lemak pada perempuan akan berkurang dan menjadi sumber estrogen.
Dalam studi ini disimpulkan 74 ribu perempuan mengalami post-menopause yang berumur antara 50-79 tahun dengan berat badan normal, ternyata mengalami penurunan risiko kanker payudara sebesar 30%, dan sekitar 10-20% bagi perempuan yang kelebihan berat badan.
Membuat tidur lebih nyenyak. National Sleep Foundation menyebutkan bahwa berjalan cepat di sore hari akan membuat tidur lebih nyenyak. Para ahli mengatakan bahwa berjalan kaki akan meningkatkan hormon serotonin yang memebuat anda akan merasa lebih nyaman. Akan tetapi hindari berjalan kaki dua jam sebelum tidur.
Mengurangi rasa sakit atau nyeri. Dengan berjalan kaki secara reguler akan membuat tubuh anda merasa nyaman karena adanya gerakan yang terjadi pada tubuh, termasuk pergerakan tangan dan yang paling utama adalah kaki.
“Berjalan kaki akan mengurangi risiko cedera atau kram dan membuat tubuh Anda terasa labih baik,” ujar instruktur kesehatan Alice Peters Diffely.
Membuat bahagia. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Texas menyimpulkan bahwa berjalan kaki selama 30 menit dalam sehari bisa mengurangi depresi dan stres.
Bahkan studi Universitas Temple menyebutkan berjalan kaki 90 menit selama lima kali dalam seminggu bisa membuat anda merasa lebih bahagia, karena tubuh manusia memproduksi endorphin, yaitu semacam hormon yang membuat orang menjadi bahagia.
Berjalan kaki selama 30 menit/hari pun dapat mengurangi berat badan. Bahkan dalam sebuah penelitian Brown University dan University of Pittsburgh menyebutkan bahwa perempuan yang berjalan kaki satu jam selama lima hari dalam satu mingu dan mengkonsumsi 1.500 kalori tiap hari, dapat mengurangi berat badan sebanyak 11,3 kilogram dalam setahun. Jadi dengan jalan kaki anda bisa menghindari obesitas yang sering memicu berbagai penyakit.
Awet muda. Beberapa studi yang telah dilakukan menyarankan pada manula untuk lebih sering berjalan kaki karena dapat mengurangi terkena risiko penyakit alzheimer. Berjalan kaki juga membuat otak menjadi aktif.
Mengurangi keropos tulang. Berjalan kaki selama 30 menit sebanyak tiga kali dalam seminggu dapat mencegah dan mengurangi keropos tulang. Berjalan kaki yang menggunakan 95% otot tubuh akan membuat tulang lebih kuat untuk menahan beban tubuh.
(Sumber : Ciptapangan.com)
Apakah Anda Orangtua yang Protektif? August 16, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
(Tulisan: Ariesandi, dari sebuah sumber)
Antara menjaga keselamatan anak dan terlalu protektif terdapat batas yang tipis. Orangtua yang berhasil adalah yang tahu kapan harus melangkah mundur dan membiarkan anak terbang begitu dia siap. Di zaman seperti ini, rasanya semakin sulit menjaga anak agar selalu sehat dan selamat. Masih bayi dan berada di rumah sendiri pun sudah sudah dikelilingi berbagai bahaya, dari benda-benda tajam, cat yang mengandung timah, sampai virus-virus misterius penyebab penyakit berbahaya.
Sejalan dengan pertumbuhan anak Anda, rasa cemas Anda juga ikut tumbuh bersamanya. Untuk tumbuh menjadi anak yang sehat sejahtera, anak Anda memerlukan perhatian dan perlindungan. Perhatian dan perlindungan yang berlebihan membuat anak sulit mengembangkan rasa percaya diri dan ketangguhan yang diperlukan di kemudian hari. Karena itu, sebagai orangtua, Anda dituntut untuk menemukan keseimbangan antara tidak melindungi, di mana anak-anak Anda mengalami sesuatu yang sebenarnya mereka belum siap hadapi. Dan terlalu melindungi, menghilangkan kesempatan penting untuk perkembangan dan meruntuhkan kemampuan mereka untuk bernegosiasi dengan tantangan-tantangan kehidupan.
Perlu diingat, orangtua yang sukses adalah yang mendidik anak yang bisa mengurus dirinya sendiri. Untuk itu, Anda harus mengizinkan anak Anda menguji sayapnya. Anda tidak mendorongnya keluar dari sarang sebelum dia dipersiapkan untuk terbang. Anda juga tidak menahannya ketika dia sudah siap.
Berikut langkah bijak bagi orangtua dalam memberikan perlindungan sejalan dengan pertumbuhan dan usia anak, dari Dr. Ava L. Siegler, Ph.D., ahli psikologi anak dalam buku The Essential Guide To The New Adolescence.
Lahir sampai 1,5 tahun : Bayi perlu keterlibatan total dari Anda
Saya selalu menenangkan bayi saya kalau dia menangis. Tapi suami saya bilang, saya terlalu protektif dan bahwa saya harus membiarkannya agar lebih kuat dan tidak manja. Apakah dia benar ?
Seorang bayi masih tergantung pada bujukan dan hiburan Anda untuk merasa nyaman. Mencoba bersikap lebih keras terhadap bayi bisa menimbulkan hasil yang bertentangan dengan apa yang Anda inginkan, yaitu seorang bayi yang tergantung dan rewel daripada seorang bayi yang tenang yang makin lama makin bisa berbaur dengan lingkungannya. Mendengarkan dengan cermat sinyal bayi Anda dapat membantu Anda mengetahui tingkat keterlibatan yang diperlukan dari Anda. Jika dia hanya merengek, Anda mungkin bisa menggunakan suara Anda untuk menenangkannya. (Oh, sayang, Mami ada di sini, kok. Lagi cuci piring. Mami ingat, ada anak Mami yang manis di sana.)
Saat bayi Anda memulai latihan ketrampilan motoriknya (duduk, merangkak, dan berjalan) , Anda mungkin akan sulit menentukan batasan antara terlalu protektif dan tidak protektif. Bersama bayi, keamanan selalu merupakan prioritas utama, tetapi perlu diingat juga bahwa bayi perlu mengambil beberapa risiko untuk tumbuh dan berkembang. Jika anak Anda yang berusia 7 bulan berdiri dengan berpegangan pada jeruji boks, dia ingin memberitahu Anda bahwa dia sudah siap menerima tantangan fisik, walaupun dia masih perlu bantuan Anda untuk bisa duduk kembali.
Umur 1,5 sampai 3 tahun : Anak balita yang serba ingin tahu harus belajar berhati-hati
Putri saya, 2 tahun, senang main di bak pasir di taman. Tapi menurut tetangga saya, saya harus melarangnya karena tak tahu apa yang akan ditemukannya di sana. Apakah kekhawatiran tetangga saya itu benar ?
Keselamatan merupakan masalah paling penting bagi orangtua yang mempunyai anak balita di bawah 3 tahun karena kelincahan geraknya. Di saat anak balita Anda memulai penjelajahannya, Anda harus memberikan pengawasan penuh dan hati-hati. Akan tetapi, terlalu banyak ‘jangan’ pada usia anak yang masih terlalu dini dapat menghambat rasa ingin tahu yang merupakan dorongan untuk belajar, dan mempengaruhi motivasi normal yang mendorongnya untuk berprestasi.
Jadi, bagaimana caranya mendorong otonomi sambil memperhatikan keselamatan anak? Salah satu solusi adalah menggunakan perkembangan kecerdasan anak Anda untuk mengajari dia tentang kehati-hatian yang wajar dan tepat. Daripada sekedar berteriak, ‘jangan!’ pada waktu anak Anda meraih cangkir, sebaiknya dapat Anda jelaskan, “Kopinya panas, bisa membuat tanganmu sakit. Sesuatu yang panas, bisa membuat kamu sakit, seperti kompor panas, cahaya lilin, dan lampu terang”.
Jika Anda mencoba melindungi anak Anda dengan tak pernah semenit pun melepaskannya dari pengawasan Anda, berarti Anda terlalu protektif. Anda membuatnya terlalu tergantung kepada Anda untuk memproses informasi tentang keadaan sekelilingnya dan tidak mendorongnya untuk berpikir untuk dirinya sendiri melalui situasi-situasi baru. Anak-anak sama seperti kita, belajar lewat pengalaman.
Cara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, misalnya daripada melarangnya bermain di bak pasir, lebih baik membersihkan pasirnya dari kotoran-kotoran atau benda-benda berbahaya sebelum dia masuk ke dalam bak atau daripada berkata ‘jangan !’ setiap kali dia menarik kabel peralatan listrik, lebih baik amankan ruangan Anda sehingga anak Anda bebas menjelajahinya tanpa takut menghadapi masalah. Anak Anda akan matang lebih cepat jika Anda menyediakan beberapa peluang untuk kebebasan yang aman tetapi tetap di bawah pengawasan.
Umur 3 sampai 6 tahun : Anak pra sekolah harus belajar pelajaran hidup yang penting
Saya khawatir, anak saya, 4 tahun, terlalu ramah. Apakah bijaksana jika saya bersikap lebih keras terhadapnya ?
Pada usia ini, kepribadian anak Anda mulai terbentuk dan bisa dijadikan ukuran untuk menentukan jenis keterlibatan yang diperlukannya dari Anda. Dalam masalah fisik misalnya, anak yang berani dan tak bisa diam mungkin perlu bantuan Anda untuk belajar bagaimana cara mengendalikan dorongan-dorongannya. (Lompatan itu terlalu tinggi. Dan saya kira, kamu bisa jatuh di semen itu. Jadi, coba lompat di rumput saja). Anak penakut memerlukan dorongan Anda untuk percaya pada kemampuan fisiknya. (Lompatan itu tinggi. Tapi saya kira akan aman karena kamu akan mendarat di pasir. Kalau kamu ingin coba, saya akan menyambut kamu kalau jatuh).
Dalam masalah sosial, anak pemalu mungkin perlu dorongan untuk bicara. (Pak Toni sangat senang waktu kamu menyapanya. Dia benar-benar senang sama kamu). Anak yang terlalu ramah mungkin perlu diajari untuk membatasi keramahannya. (Kamu boleh saja mengucapkan selamat pagi. Tapi tak boleh duduk di pangkuan orang yang baru dikenal)
Ini merupakan usia di mana ketrampilan sosial anak Anda perlu dipoles. Dia masih memerlukan Anda untuk mengatur jadwal bermain dan aktivitas-aktivitasnya. Tapi jangan mencampuri dan mengendalikan permainan mereka. Setiap kali Anda melangkah mundur, Anda membantu anak Anda mengatur dirinya sendiri.
Karena anak Anda sudah cukup besar untuk menghabiskan waktunya bersama orang dewasa lainnya (tetangga, guru, penjaga toko dan sebagainya), tapi masih terlalu mudah untuk dibohongi, ini merupakan waktu yang paling baik untuk menanamkan aturan-aturan dasar tentang keselamatan dirinya. (Jangan bicara pada orang asing, walau mereka minta bantuan sekali pun. Jangan menerima makanan atau minuman dari siapa pun yang tidak kamu kenal. Jangan berdiri di dekat pintu mobil orang asing. Jangan pergi kemana-mana dengan seseorang tanpa seizin saya, walaupun dia bilang, dia akan membawa kamu bertemu dengan saya ). Cara terbaik untuk membantu anak Anda menyerap informasi ini adalah lewat permainan peran. Tanyakan dia, misalnya ada seorang anak remaja yang tidak kamu kenal minta tolong dicarikan anak kucingnya yang hilang ? Apa yang akan kamu lakukan ? Beritahu langsung anak Anda apa yang harus dilakukannya jika menghadapi situasi ini. Cepat lari dan cari orang dewasa yang kamu kenal atau polisi.
Umur 6 sampai 9 tahun : Anak usia sekolah harus berpikir untuk diri mereka sendiri
Waktu membantu anak kami mengerjakan pekerjaan rumah, saya jadi bertanya-tanya, apakah bantuan itu lebih banyak baiknya atau lebih banyak buruknya ?
Tahun-tahun antara umur 6 dan 9 merupakan masa yang penting untuk pencapaian ketrampilan intelektual dan sosial. Saat anak masuk sekolah dasar, Anda pasti akan mendorongnya agar berusaha keras belajar dan berprestasi. Tapi ingat, anak Andalah yang kini bertanggungjawab untuk belajar, bukan Anda.
Pekerjaan rumah khususnya, mungkin bisa menjadi penyebab perang antara anak yang suka menunda dengan orangtua yang pencemas. Orangtua yang terlalu ambisius untuk anaknya biasanya menjadi cemas dengan kinerja anaknya sampai akhirnya mereka mengerjakan tugas-tugas anaknya. Hal ini tidak hanya membuat anak merasa usahanya tidak ada harganya, tetapi juga membuat gurunya jadi tidak mengetahui perkembangan anak yang sebenarnya. Yang mana yang belum dimengerti dan mana yang sudah.
Ini juga merupakan waktu bagi Anda untuk tidak lagi mengatur waktu main atau main dengan siapa. Dorong anak Anda untuk membuat rencananya sendiri. ( Ada film baru di mall. Kenapa kamu tidak ajak Tessa untuk nonton bersama kita ? Sesudah itu, kita bisa makan pizza bersama ). Dengan cara ini, pesan yang ingin Anda sampaikan adalah bahwa ini waktu untuknya untuk mengatur hidupmu sendiri dan menjalankan segalanya untuk diri sendiri.
Umur 9 sampai 12 tahun : Anak pra remaja menantang perlindungan Anda
Anak saya, umur 10, senang masuk ruang internet dan saya khawatir, dia melihat sesuatu yang tak pantas. Apakah saya harus membatasi atau melarangnya ?
Menurut Dr. Ava, saat anak mendekati masa remaja, adalah normal jika mereka menolakusaha Anda untuk melindungi mereka. Mereka bukannya mau melawan, tapi latihan mengatur diri sendiri tanpa campur tangan Anda. Suatu perkembangan yang penting sebagai langkah menuju otonomi masa dewasa. Anda tetap harus memberikan perhatian pada masalah internet yang terus membayang-bayangi kehidupan anak pra remaja karena terlalu banyak stimulasi tanpa pembatasan atau larangan, sehingga mereka mereka bisa dengan bebas melihat apa yang mereka inginkan. Memang, Anda bisa membeli perangkat lunak untuk menyaring informasi-informasi elektronik yang berbahaya, tetapi cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengusahakan agar anak pra remaja Anda menggunakan internet untuk sesuatu yang berguna, atau paling tidak untuk sesuatu yang pantas dan wajar.
Pada masa ini, melebihi masa sebelumnya, Anda harus mengemukakan harapan-harapan Anda pada anak-anak Anda, menegaskan kembali nilai-nilai dan standar-standar Anda. Tetapi tetap penting untuk membiarkan anak pra remaja Anda mengambil peluang dan kemungkinan berbuat salah. Banyaknya jumlah perlindungan yang sering diikuti dengan sedikitnya jumlah kebebasan pada usia ini bisa menimbulkan tindakan yang oleh Dr. Ava disebut lie or defy (berbohong atau menentang). Pembatasan yang tidak masuk akal bisa membuat anak Anda menghindar atau tak mau mengakui perbuatannya secara terbuka. Hal ini bisa menciptakan suasana saling tidak percaya dan konflik dalam keluarga. Yang lebih buruk lagi adalah, terlalu memberikan perlindungan pada usia ini bisa mengakibatkan anak pra remaja yang begitu bergantung pada keluarganya, sampai tak bisa berpisah dari keluarganya. Terlebih lagi, tak bisa menciptakan hubungan baru dengan anak-anak seusianya atau membangun karakter yang merupakan perkembangan wajib yang penting pada masa remaja.
Jadi menurut Anda, apakah Anda orangtua yang terlalu protektif ? Hanya Anda yang tahu jawabannya. Semoga bermanfaat.