Wedi Karo Bojo July 15, 2008
Posted by tintabiru in Humor.add a comment
Humor Suroboyoan…
Mari pegatan, Muntiyadi terus rujukan maneh karo Romlah. Masalahe Muntiyadi cinta pol karo Romlah.Kapanane ndek kesatuanne Muntiyadi, tentara diperintah baris.
Tapi komandan njaluk barisanne dibagi loro. Barisan sing pertama tentara sing wedi karo bojone. Barisan sing kedua tentara sing gak wedi karo bojone.
Pas komandan ngecek barisan.
Barisan sing pertama akeh pol…
Barisan sing kedua cuman siji yo Muntiyadi
Komandane takok nang Muntiyadi :
”Opo’o peno kok gak wedi karo bojo?”
“Lho aku iki ndek barisan kedua, dikongkon karo bojoku” jare Muntiyadi.
(Sumber: ketawa.com)
Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat? July 13, 2008
Posted by tintabiru in Renung, Spirit.add a comment
(sebuah perenungan dari sebuah kisah nyata)
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak…bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka. “Anak2ku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..” sejenak kerongkongannya tersekat,… ”kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta, yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun, coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?”
”Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.
“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”
(Cerita diatas saya copy dari sebuah milis, terimakasih untuk pengirimnya)
Dialog Dua Diri July 7, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
(Tulisan: Bayu Gawtama)
Pengalaman pahit masa lalu, sakit hati yang tak kunjung hilang, atau rasa kecewa yang tak pernah bisa kompromi untuk menyingkir dari bilik hati, senantiasa menjadi beban dalam hidup ini. Bahkan, tak jarang seseorang membawa-bawa beban ini sepanjang hidupnya, ke mana pun ia pergi, saat terpejam terlebih di saat sadar. Bayang-bayang orang-orang dari masa lalu yang pernah membuat hati tertusuk, tak pernah lenyap. Padahal segala upaya sudah dicoba untuk melupakannya, tetapi masih saja terus menggerayangi dan begitu dekat.
Benarkah? Benarkah telah benar-benar ingin melupakannya? Sudahkah kita melakukan cara yang benar untuk mengusir bayang-bayang masa lalu, sakit hati, dan kekecewaan yang tak pernah bisa terlupakan? Jangan-jangan kita hanya berteriak “pergiii, hai sakit hati…” Tetapi sesungguhnya kita tak mengizinkannya pergi. Kok bisa? Ya, karena yang meminta pergi hanya mulut ini, dan bukan hati.
Tahukah kawan? Sakit hati, kecewa, perasaan bersalah, iri, kesal, benci, dan lain sebagainya itu muncul lantaran ego menstimulus otak ini untuk kemudian menyimpulkan bahwa keadaan ini sebagai masalah. Persepsi yang muncul setelah dipengaruhi ego jelas-jelas menyatakan, bahwa keadaan yang tengah menimpa diri kita adalah masalah besar. Sehingga terus menerus pikiran ini terfokus pada dua hal; menghadapi masalah dan orang yang kita anggap telah menimbulkan masalah tersebut.
Padahal, boleh jadi kesimpulan yang diambil oleh otak -setelah dipengaruhi ego- itu hasil pembelajaran alam bawah sadar kita, berdasarkan pengetahuan yang keliru, kebiasaan lama yang salah namun terus menerus diulangi, lingkungan yang salah, bahkan bentuk kewajaran publik dan sejarah. Misalnya, kita kerap menganggap sesuatu pantas dikerjakan lantaran banyak orang mengerjakannya, atau melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Boleh jadi kebiasaan lama itu tak tepat, namun karena sudah biasa dan terus menerus dilakukan, maka terciptalah sebuah pembenaran. Dan seringkali kondisi semacam ini dijadikan referensi untuk mengambil kesimpulan, bahkan keputusan. Termasuk kesimpulan yang diambil oleh otak ini untuk mengatakan suatu keadaan itu sebuah masalah atau bukan.
Sadarilah, kita tidak sendirian menjalani kehidupan. Dalam diri juga masih terdapat sesosok yang bernama ‘hati nurani’. Jadi, lakukanlah dialog dua diri, Antara ‘AKU’ dan hati nurani. Aku yang dimaksud di sini lebih diartikan sebagai ego, dan ego inilah yang sering mengklaim paling memiliki diri kita. Padahal, hati nurani jauh lebih dalam bersemayam dalam diri dan semestinya hati nuranilah yang lebih dominan menjalani hidup kita. Atau lebih tepatnya, kita mengizinkan hati nurani mengambil peran lebih dalam diri kita, untuk merencana, mengambil sikap, membuat keputusan, dan menentukan ke mana arah akhir hidup kita.
Masalahnya, selama ini egolah yang terus menerus mendominasi diri. Hati nurani biasanya lebih berperan layaknya pahlawan kesiangan yang muncul belakangan, tepat satu langkah di belakang penyesalan. Coba ingat lagi, biasanya kebenaran dan kesadaran dari nurani baru muncul setelah kita menyesal telah melakukan sebuah kesalahan. Dimana ego pada saat itu? Ia bersembunyi, menciut, dan malu menampakkan dirinya. Setelah itu, barulah mulut ini berkata, “Bodohnya…”
Melakukan dialog dua diri, antara ego dan hati nurani tidak sedang bicara kalah atau menang. Sebab, seringkali hati nurani begitu mudah terkalahkan. Karena ego tidak datang sendirian, ia seringkali ditemani oleh kawan-kawannya, antara lain, nafsu, ambisi, keserakahan, dan ketidakpuasan. Karenanya, dialognya hanya berupa penyelarasan mana yang lebih baik untuk diri ini.
Tetapi, sungguh sulit nian melakukannya. Sekali lagi, bahkan barusan saja hati nurani ini terkalahkan oleh ego. Saat seperti ini -dan kita akan selalu menemui kondisi ini- yang kita butuhkan adalah Allah. Agar Dia senantiasa menunjukkan jalan yang lurus, jalan yang pernah ditunjukkan kepada orang-orang yang telah diberiNya nikmat, dan bukan jalan orang-orang yang sesat.
Burung Gagak July 7, 2008
Posted by tintabiru in Renung.1 comment so far
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah
mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Gagak lah ayah…….”.
Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? “Itu burung gagak, burung gagak ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu ditangannya. Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu”, pinta si ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut……….
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?”. Dan aku menjawab, “burung gagak”. Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, ”Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah.”
“Jagalah Hati Kedua Orang Tuamu, Hormatilah Mereka. Sayangilah Mereka Sebagaimana Mereka Menyayangimu Diwaktu Kecil”
(Sumber: Anonymous)