Mendidik Anak Tanpa Kekerasan May 29, 2008
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment
Seringkali orangtua menanyakan ke saya “Anak saya ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana sih caranya agar anak nurut dengan orangtua ? Apa musti dipukul dulu baru nurut ? ” Mendengar pertanyaan ini, seringkali saya jawab dengan singkat “Kenapa musti harus dengan kekerasan ? “. Dan seringkali saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka mengerti apa maksudnya Mendidik Anak Tanpa Kekerasan.
Pada suatu hari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico. Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya :
Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.
Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata,”Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”
Segera saja saya menyelesaikan pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18.00 !!!
Dengan gelisah ayah menanyai saya,”Kenapa kau terlambat ?” Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya menjawab, ”Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.”
Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu ayah berkata, ”Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”
Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.
Sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.
Ketika kita berhasil menancapkan suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi spontan belaka dan kemudian menyesal setelah melakukannya.
Jika kita mau berpikir sedikit ke belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil sekali maka di masa itulah semua ”bibit” perilaku dan sikap ditanamkan. ”Bibit” perilaku dan sikap inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan dewasanya. Siapakah yang menanamkan ”bibit” perilaku dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang menanamkan segala macam ”bibit” perilaku dan sikap itu.
Bagaimana jika sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan pengasuhnya ( baby sitter ). Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak dengan baik agar anak anda memperoleh ”bibit” sikap dan perilaku yang baik.
Seseorang bisa menjadi baik atau buruk pasti karena sesuatu ”sebab”. Perilaku, ucapan sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah suatu rentetan ”akibat” dari suatu ”sebab” yang telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi ”akibat” tanpa ”sebab” ? Mungkinkah anak kita berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita ”nakal” tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab ? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang bagaimana bertindak dan bersikap ?
Sewaktu kita mempunyai anak maka kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak. Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan. Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah terpenuhi ?
Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan ! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang dilakukan orangtua pada kita.
Tips Mendidik Anak Mengerti Keuangan May 29, 2008
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment
Disadari atau tidak uang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Pendidikan, motivasi dan dukungan terhadap anak untuk dapat menjadi penabung dan investor yang baik akan mempengaruhi untuk dapat menabung dan menghemat uang yang diterimanya. Kebiasaan ini akan mempengaruhi sikap anak di masa depannya. Dalam tulisannya di famili education Paul Richard menyebutkan setidaknya ada 15 cara yang bisa dipakai oleh orangtua dalam mengajarkan masalah finansial kepada anak. Namun disini sedikit banyak sudah saya modifikasi dengan pendapat saya sesuai dengan pengelolaan keuangan secara Islami yang tidak mengenal riba.
1. Kenalkan anak terhadap uang sejak dini, misalnya mulai usia 3 atau 4 tahun.Jelaskan dengan informasi yang dapat diterima dan sesuai logika anak, paling tidak mengajarkan anak mengetahui nilai uang di usia ini.
2. Observasi dan pengulangan adalah hal yang baik bagi anak untuk belajar. Komunikasikan kepada anak, sesuai usia pertumbuhannya tentang nilai uang, bagaimana menyimpannya, bagaimana membelanjakan dan bagaimana uang bisa bertumbuh.
3. Bantu anak belajar perbedaan antara kebutuhan dan keingingan. Pelajaran ini akan mendidik anak menjadi seorang yang pandai mengatur pengeluaran di masa mendatang. Ini bisa diajarkan pada anak yang telah mengerti keuangan. Misalnya mulai usia kelas 4 atau 5 SD.
4. Menentukan tujuan merupakan fundamental untuk mempelajari keuangan.
Jarang seseorang yang menentukan menetapkan dan menulis tujuan. Nggak perlu jauh-jauh, saat membelikan mainan buat anak, pasti jarang orang tua yang membuat tujuan pembelian mainan tersebut. Penentuan tujuan ini sebenarnya akan mendidik anak bertanggung jawab.
5. Kenalkan anak nilai pengeluaran uang dan menabung.Jelaskan kepada anak bagaimana konsep menabung dan keuntungannya. Misalnya menabung dapat memenuhi keinginan anak dengan uang sendiri tanpa harus meminta kepada orang tua. Pengenalan ini tentunya menggunakan bahasa anak-anak yang mudah dimengerti sesuai usia mereka.
6. Saat memberikan anak uang, ajarkan mereka untuk menabung sebagian. Misalnya saat kita memberi 10.000 ajarkan anak menabung terlebih dahulu sebanyak rp. 2000 sebelum anak membelanjakan uang tersebut. Kegiatan ini akan menjadi kebiasaan positif yang bisa dilakukan anak hingga dewasa kelak.
7. Perkenalkan anak dengan bank Syariah dan ajak untuk membuka rekening. Berikan pengertian kepada anak bahwa menabung secara teratur akan menjadi kebiasaan yang baik, yang mengantarkan kepada kesuksesan di masa depan
8. Ajarkan anak membuat catatan keuangan, berapa yang dibelanjakan, di tabung dan bahkan diinvestasikan jika anak sudah mengenal investasi. Usia SMA anak bisa mulai diajarkan tentang investasi supaya bisa jadi lahan untuk belajar sejak dini.
9. Gunakan acara berbelanja bersama anak sebagai ajang bagi anak untuk belajar mengerti dan memahami nilai uang. Jangan ragu mendidik anak Anda dengan cara mengajaknya saat Anda pergi berbelanja ke toko grosir atau pusat perbelanjaan. Dengan membandingkan beberapa harga di toko grosir dan tempat perbelanjaan biasa Anda bisa mengajarkan kepada anak bahwa belanja di toko grosir dapat sedikit lebih berhemat dibanding toko biasa.
10. Ajak anak untuk cermat dalam mengeluarkan uang. Kaya atau miskin mereka pasti akan mengeluarkan uang dalam kehidupan sehari hari. Ajarkan anak mengetahui mana yang seharusnya dipilih untuk dibeli dan mana yang tidak. Atur berdasarkan secara skala prioritas. Mungkin anak-anak belum mengerti skala prioritas tapi Anda harus mengajarkan sesuai dengan usia anak. Misalnya membeli buku bacaan dengan tabungan lebih baik dibanding membeli mainan yang sudah dimilikinya.
11. Tunjukkan anak bagaimana menilai iklan produk yang ada di radio, tv atau media lainnya. Ajarkan bahwa ngga semua produk yang masuk iklan itu semuanya bagus, sehingga anak-anak belajar memilih, tidak sekedar membelanjakan uangnya mengikuti iklan tv atau radio
12. Ingatkan putra putri kita jika mereka mulai punya kebiasaan kurang baik, seperti meminjam uang kepada temannya.
Anak-anak SMP dan SMA bisa jadi punya kebiasaan yang kurang baik..yaitu meminjam uang teman untuk membeli sesuatu yang sebenarnya kurang penting karena uang pribadi anak kurang cukup. Jika hal ini terjadi orangtua perlu extra mengawasi dan mengingatkan, karena jika berlanjut bisa menjadi kebiasaan buruk bagi anak hingga dewasa.
13. Beri penjelasan saat mengajak anak ke ATM atau berbelanja dengan kartu kredit atau kartu debet. ATM bisa jadi menjadi mesin uang bagi imajinasi anak-anak usia masih kecil, misalnya TK atau SD. Mereka bisa saja berasumsi bahwa jika uang habis bisa aja langsung ngambil di mesin uang. Anak-anak tidak akan pernah tahu kalau harus menabung dulu atau account harus ada uangnya jika kita mau ambil dari ATM atau Debet langsung. Oleh karena itu orang tua sebaiknya menjelaskan kepada anak bagaimana mesin ATM bekerja.
14. Hati-hati memberikan kartu kredit pada anak. Trend akhir-akhir ini adalah banyak orang tua memberikan account kartu kredit tambahan buat anak. Agar anak lebih gampang saat membeli sesuatu. Nah…ini perlu dicermati juga…barangkali tujuannya baik, namun tanpa bekal pendidikan keuangan yang baik bisa saja kartu kredit ini akan menjadi masalah. Misalnya anak akan menggunakannya untuk berbelanja semaunya bukan untuk hal yang penting, akibatnya bisa jadi di awal bulan tagihan membengkak dan menjadi masalah bagi orang tua.
Dongeng tentang Perangkap Tikus May 18, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Sepasang suami istri petani pulang ke rumah dari berbelanja ke pasar. Ketika mereka membuka belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil berfikir “Mmmm makanan apa lagi nih yang mereka bawa dari pasar??”
Ternyata salah satu barang yang dibeli oleh petani adalah Perangkap tikus. Si tikus tentu saja kaget. Ia segera berlari menuju kandang binatang ternak sambil berteriak: “Ada perangkap tikus di rumah! Ada perangkap tikus di rumah!!” berniat hendak memberitahukan teman-teman binatang yang lain
Pertama-tama ia mendatangi ayam dan berteriak: “Ada perangkap tikus!!”
Si ayam berkata: “Tikus yang baik, aku turut bersedih, tapi itu tidak ada pengaruhnya bagi diriku”
Si tikus lalu berlari menemui seekor kambing, sambil kembali berteriak:”Ada perangkap tikus!!”
Namun si kambing pun berkata: “Aku turut bersimpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, lagi pula buat apa repot-repot? perangkap tikus itu tidak dapat melukaiku”
Si tikus lalu menemui Sapi. Sayangnya Ia pun mendapat jawaban yang sama: “Maafkan aku, perangkap tikus itu tidak berbahaya sama sekali untukku”
Si tikus lalu berlari ke hutan dan bertemu ular. Si ular pun merespon sama “Aaah perangkap tikus sekecil itu tidak akan dapat mencelakaiku”
Akhirnya si tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui bahwa ia akan menghadapi bahaya ini sendiri.
Suatu malam petani dan istrinya terbangun mendengar suara keras. Ternyata suara tersebut datang dari perangkap tikusnya yang menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata bukan tikus, melainkan seekor ular berbisa yang terperangkap buntutnya pada perangkap tikus tersebut.
Merasa putus asa karena terperangkap, si ular menyerang dengan ganas, hingga akhirnya menggigit istri petani. Petani pun mengambil golok dan membunuh si ular.
Si petani membawa si istri ke tabib di desanya, namun si istri malah makin parah dan demam terus-menerus.
Di tengah demamnya si istri menggigau minta dibuatkan sop ayam oleh suaminya. Si petani dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak menjadi sop.
Ketika masih saja demam, sang tabib menyarankan untuk memberi si istri hati kambing. Si petani serta merta menyembelih si kambing untuk diambil hatinya.
Namun ternyata selang beberapa hari si istri akhirnya meninggal dunia akibat racun ular tersebut.
Teman-teman, sanak saudara, dan handai taulan petani datang untuk melayat si istri. Sehingga petani untuk menjamu para pelayat menyembelih sapinya.
Sementara dari kejauhan si tikus hanya bisa menatap penuh kesedihan. Perangkap tikus yang menjadi sumber masalah sudah lama tidak dipakai lagi.
Maka jika suatu hari datang kepada anda seseorang yang dalam kesulitan dan meminta tolong, jangan sekali-kali mengira itu bukan urusan anda….. fikirkan sekali lagi.
We are live in the same boat. When someone make a hole, but anybody don’t care, then everybody will drown.
(Sumber: Anonymous, regards to Beranigagal.com)
Motivasi dalam Keluarga May 17, 2008
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment
(Tulisan: Rahmat dalam www.motivasi-islami.com)
Keluarga adalah tempat tinggal landas kita. Jika tinggal landas kita baik, maka kita pun bisa terbang dengan baik. Artinya jika kita berangkat dari rumah diiringi dengan dorongan semangat, tentu akan membuat kerja kita menjadi lebih bersemangat pula. Sebaliknya jika kondisi keluarga kita kurang kondusif, hal ini bisa terbawa ke tempat kerja kita sehingga bisa saja kita bekerja dengan motivasi yang kurang.
Oleh karena itu jangan sepelekan masalah motivasi dalam keluarga. Bukan saja kita yang memerlukan dukungan motivasi tetapi pasangan kita dan juga anak kita memerlukan dukungan motivasi agar mereka bisa berprestasi juga. Dalam keluarga kita perlu saling memberikan motivasi satu sama lain. Sayang sekali, dari pengamatan saya, malah banyak yang sebaliknya. Bukan saling memberikan motivasi tetapi justru saling meruntuhkan.
Motivasi bisa muncul saat kondisi emosi kita sedang baik. Kondisi emosi sangat dipengaruhi oleh cara kita berkomunikasi. Oleh karena itu kita perlu memahami cara komunikasi yang baik agar terjadi saling menumbuhkan motivasi diantara keluarga. Yang pertama, usahakan komunikasi kita membawa kepada kegembiraan. Bisa dilakukan sambil terseyum, sambil bercanda, dan cara-cara lain yang menyenangkan. Kita juga perlu melihat saat yang tepat untuk membicarakan sesuatu masalah yang berat, jangan asal ngomong.
Yang kedua ialah pilihan kata yang baik. Jangan menggeneralisir sesuatu, apa lagi kekurangan. Sebagai contoh saat anak kita mendapat nilai jelek untuk matematika, jangan mengatakan anak kita bodoh, karena bisa saja dia kurang mampu dalam matematika tetapi bagus untuk hal yang lainnya. Begitu juga satu kesalahan jangan terlalu dihubung-hubungkan dengan masalah yang lain.
Yang ketiga ialah berikan arahan dan dukungan. Hindari kesan melarang, terutama kepada anak-anak. Larangan bisa mengurangi motivasi seseorang, maka kita harus pandai meramu cara berkomunikasi agar tidak terkesan melarang sesuatu yang kita tidak setujui, yaitu dengan mengarahkan. Sementara dukungan akan memberikan tambahan motivasi bagi seseorang, oleh karena itu, jika kebutulan setuju dengan apa yang dilakukan oleh salah satu keluarga kita, maka berikanlah dukungan.
Seringkali orang tua yang bermaksud menasihati anaknya, malah mendemotivasi. Sebagai contoh, saat anak mengemukakan cita-citanya, misalnya ingin menjadi seorang guru. Kita langsung bicara:
“Kamu itu tidak sabaran, tidak cocok menjadi guru!”
Apa kira-kira yang dirasakan oleh anak kita? Semangat dia bisa menjadi drop, dia bisa kehilangan motivasi, bukan saja untuk menjadi guru, tetapi untuk menjadi yang lainnya. Mengapa? Karena motivasinya untuk berprestasi sudah hilang.
Cobalah dialog lebih dalam sebelum Anda memberi vonis, tanyakan mengapa ingin menjadi guru? Apakah dia merasa cocok mejadi guru? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggali sehingga kita bisa mempertimbangkan. Bisa saja kita yang salah, sebenarnya anak kita sangat cocok mejadi guru, hanya saja kita yang kurang memahami anak kita. Jika memang dia tidak cocok menjadi guru, atau cita-citanya ke arah yang tidak baik, cobalah bicara dengan jalan yang mengarahkan sehingga seolah-olah keputusan yang diambil adalah pendapat dia sendiri.
Kehidupan Bagaikan Sungai May 13, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment

Suatu hari anak saya yang masih taman kanak-kanak sedang menghafal “Peraturan Taman Kanak-Kanak” : “Satu, membagikan setengah dari barang yang kita miliki kepada teman. Dua, jangan memukul orang lain dan mengucapkan kata-kata kotor. Tiga, jangan mengambil barang yang bukan merupakan milik kita. Empat, barang-barang selalu dalam keadaan rapi dan bersih. Lima, setelah bila orang lain harus meminta maaf…” Selesai menghafal saya bertanya pada anak saya, “Apakah semua ini sudah kamu lakukan?” Anak saya menjawab dengan penuh percaya diri, “Sudah saya lakukan.”
Tiba-tiba anak saya mengedipkan matanya sambil balik bertanya pada saya, “Ayah, apakah kesemuanya ini ayah lakukan juga?” Ditanya begitu oleh anak saya, di dalam lubuk hati yang paling dalam terjadi guncangan hebat, sungguh memalukan! Kadang kala, kita adalah orang dewasa yang telah kehilangan, kehilangan norma-norma paling mendasar menjadi seorang yang sesungguhnya.
Terpikir oleh saya aliran-aliran sungai. Di muara setiap sungai tersebut, kualitas airnya sangat jernih dan bening, akan tetapi setelah tiba di pertengahan dan hilir, airnya akan menjadi semakin keruh. Kejernihan semula yang dimiliki telah lenyap entah kemana. Ilmuwan lingkungan hidup menjelaskan bahwa dalam proses mengalirnya, setelah merusak tumbuhan di berbagai tempat, erosi tanah, pasir dan tanah terdorong turun sehingga terjadi pencemaran pada kualitas air.
Kehidupan manusia bagaikan sebuah sungai. Jika sungai ingin mempertahankan kejernihan seperti pada muaranya, maka di kedua sisi sepanjang perjalanan alirannya harus ada penghijauan, begitu juga dengan kehidupan manusia. Jika ingin selamanya mempertahankan ketulusan hati seperti pada masa kanak – kanak, maka keindahan sanubari harus selalu diperindah.
(Huang Xiaoping/The Epoch Times/lin)
(Maaf) Bila Istri Cerewet… May 12, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah kata terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?
Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.
Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya. Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.
Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.
Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini, beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap
sia-sia. Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.
Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang tiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang
tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu
Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, berkata, “akulah yang membuatnya begitu.” Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.
Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi angaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itu pun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Umar berdiam diri setiap istrinya mengomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.
Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasihati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara, tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.
Wallahu’ Alam
(Sumber: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com)
Ada 6 Kebiasaan Orang-orang yang Paling Tidak Efektif May 11, 2008
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Kehilangan sikap.
Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh.
Berhenti berkembang.
Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Tidak memiliki rencana dalam hidup.
Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,” Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa.”
Tidak bersedia berubah.
Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
Gagal dalam berhubungan dengan orang lain.
Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak akan pernah bergerak maju dalam hidupnya.
Tidak mau membayar harga kesuksesan.
Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh harus mengorbankan banyak.
(Sumber: Anonymous)
Mengajarkan Matematika pada Anak Balita dengan Dot Cards May 8, 2008
Posted by tintabiru in Spirit.add a comment
(Metode Glenn Doman)
Penulis : Drajat (Penulis buku Bersahabat dengan Matematika)
Bahan yang digunakan :
Pertama, Seratus potong kertas manila putih berukuran 28 x 28 cm, masing-masing pada salah satu mukanya ada DOTS atau bola merah dengan garis tengah 2 cm. Bola-bola ini berjumlah dari SATU hingga SERATUS pada kartu terakhir. Dibalik kartu terdapat angka yang menyatakan jumlah bola yang ada. Dots/bola digambarkan secara acak di atas kertas tsb.
Kedua, Seratus potong kartu yang lebih ringan 14 x 14 cm bertuliskan sebuah angka merah setinggi 12,5 cm mulai dari angka 1 hingga 100 pada kartu terakhir. Warna merah dipakai karena memang menarik bagi seorang anak.
Cara mengajarkan :
Ambillah kartu yang ada SATU bola merahnya saja, sekarang angkatlah kartu tersebut di luar jangkauan tangannya dan katakan kepadanya, “INI SATU”. (Jangan sampai si anak melihat benda-benda lain).
Tunjukkan kepadanya sesingkat mungkin. Dua atau tiga detik. Kemudian letakkan kartu tersebut terbalik di pangkuan kita. Pada mulanya anda akan merasa janggal. Namun demikian, semakin kita mahir menggunakan kartu-kartu itu, semakin cepat anak kita dapat memahaminya. Perlu diingat bahwa angka hanyalah simbol yang mewakili nilai dari bilangan.
Sekarang angkatlah kartu kedua, dan katakan, “INI DUA”. Lakukan seterusnya hingga kartu berjumlah SEPULUH BOLA. Seluruh proses ini kurang lebih memakan waktu kurang dari satu menit.
Lakukanlah setiap hari. Dalam waktu lima hari ia telah mengetahui fakta-fakta nyata dari angka satu sampai sepuluh, tetapi jangan meyuruhnya untuk membuktikan hal itu lebih dahulu.
Pada hari keenam, kita singkirkan kartu 1 dari kesepuluh kartu di pangkuan dan menambahkan kartu 11.
Pada hari ketujuh, kita singkirkan kartu 2 dan menambahkan kartu 12. Terus lakukan seperti itu hingga angka 100. Kegiatan ini kurang lebih akan memakan waktu tiga bulan. Yakinlah, kegiatan ini akan menghasilkan kemampuan anak yang luarbiasa. Kini ia akan dengan cepat dapat membedakan empat puluh lima bola dan empat puluh enam.
Langkah berikutnya PENJUMLAHAN.
Pada hari ke-30, anda telah memperlihatkan hingga 35 bola. Semakin banyak yang diperlihatkan bola-bola kepada anak berarti anda mulai mengajarkan penjumlahan.
Mulai kita melangkah mengajarkan penjumlahan dengan meletakkan bola-bola merah berjumlah dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, hingga sepuluh di pangkuan anda. Semuanya menghadap ke bawah dan kartu berbola dua diletakkan paling atas di tumpukan itu.
Dengan semangat katakanlah, “satu tambah satu sama dengan dua”. Kemudian kita perlihatkan kartu berbola dua. Perlihatkan tidak lebih dari satu detik. Jangan menjelaskan arti kata-kata “tambah” atau “samadengan”. Katakanlah “Satu tambah dua samadengan .” Jangan katakan “satu tambah dua menjadi….”
Jika kita mengajarkan fakta-fakta kepada anak-anak, mereka akan menarik kesimpulan tentang hukum-hukumnya lebih tepat dan cepat. Kemudian katakan “Satu tambah dua sama dengan tiga” hingga “satu tambah sembilan sama dengan sepuluh” yang kemudian kita perlihatkan hasilnya.
Lakukanlah tiga kali pada hari pertama, sambil kita meneruskan untuk memperlihatkan kartu-kartu berbola sebanyak tiga kali sehari. Sebaiknya anda mengatur keenam waktu secara merata saat daya tangkap anak sedang memuncak.
Pada hari ke-31 anda mengajarkan dua tambah dua, tambah tiga, dan seterusnya hingga tambah delapan. Apa yang kita ajarkan adalah arti dari bunyi kata “tambah” dan “samadengan”. Percaya atau tidak, pada saat kita bertanya “dua tambah empat samadengan enam” kepada seorang dewasa maka akan terlintas 2 + 4 = 6. Tetapi pada seorang anak akan terlintas dua bola tambah empat bola samadengan enam bola.
Sampai hari ke-31 ia sudah mengenal jumlah yang sbeenarnya sampai dengan 40 dan telah dapat menambah dalam setiap kombinasi yang ada sampai dengan 10. Tahap ini yang terpenting adalah, bahwa ia telah mengerti “tambah” dan “samadengan” walaupun kita tidak memberitahunya.
Mulai hari ke-36 dst kita tidak perlu mengajarkan dengan urutan tertentu lagi. Ia sudah memahami. Berikanlah ia sekarang soal penjumlahan maka dengan cepat ia akan bisa menjawab.
Langkah berikutnya PENGURANGAN.
Pola ini sama dengan pola penjumlahan. Katakan “sepuluh kurang satu samadengan sembilan” Dan perlihatkan sejenak kartu berbola sembilan. Kemudian katakan “sepuluh kurang sembilan samadengan satu”.
Pada hari ke-41 anda dapat mengajarkan mulai dari duapuluh kurang satu sampai dengan duapuluh kurang sembilan belas. Maka ia sekarang sedang menerima sembilan waktu belajar yang sangat ringkas setiap harinya dengan urut-urutan sebagai berikut: Kartu-kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan, kartu bilangan, penjumlahan, pengurangan.
Di hari ke-42 mulailah dengan tigapuluh kurang satu hingga tigapuluh kurang duapuluh sembilan. Pada hari ke-43 mulailah dengan soal-soal pengurangan dalam bentuk dan urutan yang tidak teratur sampai jumlah empatpuluh delapan.
Langkah berikutnya MEMECAHKAN SOAL.
Apabila apa yang kita sampikan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang, Insya Allah akan menghasilkan buah yang “harum” baunya dan nikmat rasanya. Kini kita siap mengajarkan memecahkan soal, ingat bukan mengujinya. Mulailah dengan bilangan-bilangan.
Berlututlah di lantai menghadap anak. Ambillah kartu dengan 18 bola dan 25 bola. Kemudian mintalah si anak untuk menunjuk pada 25. Permintaan ini diajukan sambil lalu dan riang. Jangan suruh dia mengucapkan duapuluh lima, sebab kita tidak sedang mengajar berbicara, tetapi sedang mengajarkan matematika. Jika ia tidak cukup cepat, katakan dengan gembira, “Yang ini, bukan?” sambil mengangkat kartu 25 bola. Inilah cara mengajar yang jujur.
Ulangi lagi hingga anak dapat menunjukkan dengan benar. Jika ia dapat mengetahuinya, pujilah dan peluklah. Bahwa ia adalah seorang anak yang terpandai yang pernah kita kenal. Hal ini memang betul bukan ?
Begitu kita meluapkan kegembiraan dia akan secepatnya menaruh minat pada matematika untuk selamanya. Ia menjadi yakin bahwa matematika lebih menyenangkan daripada “gula-gula”. Terus lakukan seperti itu, maka anak kita akan lebih cepat menunjukkannya. Lakukan setelah itu pengurangan.
Sebagai catatan jangan memberikan waktu khusus untuk memecahkan soal-soal, tetapi campuradukkan atau sewaktu-waktu saja. Hingga anak kita merasakan kesenangan. Toh tidak ada tekanan yang kita berikan kepada anak kita.
Langkah berikutnya PERKALIAN
Katakan kepadanya kita mengajarkan perkalian. Lakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Mulailah dengan mengatakan “dua kali dua samadengan empat” sambil memperlihatkan kartu berbola empat. Teruskan sampai “dua kali lima samadengan sepuluh”.
Pada hari ke-51, mulai dengan “tiga kali tiga samadengan sembilan”. Akhirnya “tiga kali delapanbelas samadengan limapuluh empat”.
Sampai hari ke 58 kita sampai pada “sepuluh kali enam samadengan enampuluh”. Pada waktu mengajarkan perkalian kita bisa menyelipkan satu persoalan perkalian.
Langkah berikutnya PEMBAGIAN
Pada hari ke-60 kita mengajarkan pembagian. Sampai langkah ini ia telah mengetahui nilai sebenarnya hingga enampuluh lima. Mulailah dengan mengatakan “empat dibagi dua samadengan dua” hingga enampuluh empat dibagi dua samadengan tigapuluhdua”.
Pada hari ke-68 kita sampai pada “tujuhpuluh dibagi sepuluh samadengan tujuh”.
Sewaktu-waktu kita selingi dengan soal pembagian.
Langkah berikutnya PERSAMAAN
Pada hari ke-70 kita sudah menjadi seorang ahli matematika. Katakanlah kita sedang mengajarkan persamaan dengan riang gembira.
Sebetulnya ia sudah mengetahui semua persamaan dua langkah. Sebab, memang dua tambah tiga samadengan lima, tujuhpuluh dikurangi tigapuluhsatu samadengan tigapuluh sembilan, delapan kali delapan samadengan enampuluh empat. Sekarang berikanlah soal persamaan tiga langkah. Katakanlah “tujuh tambah tigabelas kali tiga samadengan .” Kemudian perlihatkanlah kartu berbola enampuluh.
Setelah kita mengajarkan tiga langkah persamaan maka lanjutkanlah dengan langkah-langkah yang lain. Yakinlah apa yang kita ajarkan akan menghasilkan hasil yang memuaskan.
Langkah selanjutnya ANGKA-ANGKA.
Langkah ini amat mudah. Sekarang kita mengambil kartu-kartu yang bertuliskan angka (kartu dg ukuran 14 x 14 cm). Angkatlah kartu yang bertuliskan 1 berwarna merah, dan katakan “ini satu”.
Lakukan seterusnya hingga hari ke-99 ia akan mengetahui semuanya.
Selamat Mencoba !