Tersenyumlah pada Diri Sendiri November 28, 2007
Posted by tintabiru in Renung.1 comment so far
Kita diajar untuk memberikan senyum pada orang lain. Namun, sepertinya tak banyak orang belajar tersenyum pada dirinya sendiri. Mengapa kita tak memulainya? Ambillah cermin yang cukup besar. Bercerminlah tidak terlalu jauh atau terlalu dekat. Carilah jarak agar kita dapat melihat seluruh wajah kita dengan baik. Kemudian, tersenyumlah. Berikan senyum terbaik kita pada diri kita sendiri. Perhatikan seluruh lengkung bibir, penampakan gigi, kerut di sudut mata, garis pipi, desir rambut dekat telinga dan jangan lupa; cahaya yang terpancar dari bola mata serta air muka berseri-seri yang mengalir dari seluruh gerak senyum anda.
Tersenyumlah sedemikian rupa sehingga kita bisa menerima bahwa senyum kita telah menghibur diri kita sendiri.Ini bukan berlatih agar tampak cantik, tampan atau menarik. Sama sekali bukan. Ini adalah bagaimana kita bisa menerima dan berdamai dengan diri kita sendiri. Bila kita tidak mampu bersahabat dengan senyum kita sendiri, bagaimana senyum kita bisa menyejukkan orang lain?
Tersenyumlah… November 28, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Bila kondisi hari ini masih seperti kemarin di mana harapan belum menjelma menjadi nyata. Tetaplah tersenyum. Bukan berarti Allah mengabaikan doa-doa kita. Kita tahu, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya.
”Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya.” (QS Al mu’min:60).
Tak ada yang dapat meragukan janji-Nya. Doa kepada-Nya ibarat sebuah investasi. Tak akan pernah membuat investornya merugi. Karena penjaminnya adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dzat Yang Maha Welas Asih itu, tak akan pernah ingkar janji. Tidak akan sia-sia munajat yang kita mohonkan pada-Nya, baik di waktu siang apalagi di sepertiga malam. Ketika lebih banyak makhluk-Nya pulas, dalam dekapan dinginnya malam dan hangatnya selimut tebal.
Bila belum ada perubahan berarti tentang rencana-rencana kita, tetaplah tersenyum. Allah lebih mengetahui apa-apa yang baik untuk kita. Yakinlah, bahwa:
”Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah pasti akan datang, maka janganlah kalian minta untuk disegerakan.” (QS An Nahl:1).
Allah Maha Mengetahui kapan sesuatu pas untuk kita, baik dalam sisi timing maupun momentnya. Allah, Pencipta alam raya ini, adalah sutradara hebat, yang tidak akan membiarkan kita terpuruk dalam keburukan. Selama kita yakin akan kekuasaan-Nya, yakin akan kasih sayang-Nya.
Jika semua serasa mandeg, tak ada kemajuan berarti. Tetaplah juga tersenyum. Allah punya cara sendiri untuk membuat kita senantiasa dekat dengan-Nya. Mungkin, semua ini dibuat-Nya untuk kita agar kita senantiasa hanyut dalam sujud-sujud panjang di penghujung malam. Senantiasa larut dalam tangis penuh harap, dalam buaian doa-doa panjang nan khuyuk.
Semua tak akan tersia-sia begitu saja. Allah, mencatat setiap upaya yang kita lakukan dan doa yang kita panjatkan. Segala sesuatu yang kita perbuat, sekecil apa pun itu, akan menuai balasan di sisi-Nya kelak. Niatkan semuanya hanya untuk meraih ridha-Nya, agar perjuangan hebat ini tak hanya bermakna sementara. InsyaAllah kita akan memetik buahnya kelak, di waktu yang telah Ia tentukan.
Dunia ini fana. Tak ada yang kekal didalamnya. Pun perjuangan ini, pengorbanan ini, juga kesulitan ini. InsyaAllah, suatu hari nanti, harapan akan berbuah kebahagiaan. Akan menjelma menjadi kemudahan. Karena, sekali lagi, Allah telah menjamin:
”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah: 5-6)
”Allah pasti akan memberikan kemenangan atau mengadakan keputusan yang lain dari sisi-Nya.” (QS Al Maidah:52)
Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Tetaplah berharap sepenuh hati kepada-Nya. Tetaplah gantungkan asa setinggi apa pun itu, hanya kepada-Nya. Sekali lagi, hanya kepada-Nya.
”Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A’raf: 56)
”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS Yusuf: 87).
Dan, jika akhirnya harapan tidak menjelma seperti yang kita idamkan, tetaplah terus berbaik sangka kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Karena,
”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah: 216).
Teruslah berjuang. Demi sebuah azzam yang dipancangkan untuk meraih ridho Ilahi Robbi.
Wallahua’lam bishshowwab.
(Dari majalahpribadi.blogspot.com)
Saat Kusentuh Jemarimu dengan Mesra November 14, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Jemari itu tak lagi lentik, terasa beda saat pertama kali disentuh kala malam pertama. Kulitnya bersisik dan berkerut, karena getir kehidupan. Guratan bekas parutan pun membuatnya bertambah kasar. Tak jarang jemari itu basah, menahan kristal-kristal bening yang menggenang di telaga mata, pedih… teringat pedasnya kata-kata yang pernah menusuk hati. Kala keheningan malam menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta, kemudian perlahan dikecupnya sang kakanda dengan mesra.
Indah…
Sungguh teramat indah Al Qur’an melukiskannya, “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” [Al-Baqarah 187]
Adakah yang lebih indah dari rasa kasih sayang diantara kedua insan yang berlainan jenis dalam sebuah ikatan pernikahan? Ia adalah sebuah mitsaqan ghalidza (perjanjian yang kuat), karenanya yang haram menjadi halal, maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian dan kebebasan pun menjadi sebuah tanggung jawab. Dua hati yang berserakan akhirnya bertautan, ibadah… hanya itu yang dijadikan alasan. Keindahan cinta dalam sebuah mahligai pernikahan adalah harapan penghuninya. Cinta akan membuat seseorang lebih mengutamakan yang dicintainya, sehingga seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu akan mengutamakan perlindungan dan pemberian nafkah kepada istri tercinta. Cinta memang dapat berbentuk kecupan sayang, kehangatan, dan perhatian, namun bunga cinta tetaplah membutuhkan pupuk agar selalu bersemi indah. Karenanya, segala kekurangan akan menumbuhkan kebesaran jiwa, bahkan air mata yang mengalir itu pun adalah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena IA telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya. Lalu, masihkah kehangatan itu nyata seiring bertambahnya usia pernikahan?
Aaah…
Kadang kita sebagai suami lebih sering bersikap dzalim. Kesibukan tiada henti, rutinitas yang selalu dijumpai, lebih menjadi ‘istri’ daripada makna istri itu sendiri. Masihkah ada curahan kelembutan dari seorang qowwam (pemimpin) yang teduh? Adakah belaian kasih sayang yang begitu hangat seperti kala pertama kedua hati bersatu? Saat-saat awal pernikahan, duhai sungguh romantis. Rona mata penuh makna cinta terpancar saat saling berpandangan, kedua tangan saling bergandengan, hingga jemari tersulam mesra. Tak lupa bibir melantunkan seuntai nada …Sambutlah tanganku ini / Belailah dengan mesra / Kasihmu hanya untukku / Hingga akhir nanti… Amboi… sungguh membuat iri mata yang memandang. Malam dan siang silih berganti mewarnai hari, susah senang hilang timbul bagaikan gelombang laut, keluh dan bosan pun kadang menelusup, hingga akhirnya lirik lagu cinta pun meredup …Sepanjang jalan kenangan kita selalu bergandeng tangan / Sepanjang jalan kenangan kupeluk dirimu mesra / Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu / Menambah nikmatnya malam syahdu… Akhirnya kemesraan pun hanyalah sekedar kenangan.
Entahlah…
Entah kemana canda yang dahulu pernah membuat istri kita tertawa bahagia, ciuman di kening seraya berpesan “Baik-baik ya di rumah,” atau pun sekedar ucapan salam “Assalaamu alaikum ummi,” saat akan keluar rumah. Bahkan, lupa kapan terakhir tangan ini menyentuh, menggenggam mesra jemari istri tercinta. Padahal dosa-dosa akan berguguran dari sela-sela jemari saat kedua tangan disatukan.
Duhai Allah, Airmata itu pernah tumpah, deras bercucuran Luruh dalam isakan, menyayat kepedihan Hanya karena enggan jemari ini bersentuhan. Ampuni diri yang dzalim ini yaa Allah Sadarkan, sebelum saatnya harus beranjak pergi Jauh, dan… tak akan pernah kembali. Wallahua’lam bi showab.
(Tulisan Abu Aufa, dari entah berantah)
Cerkak: ‘Album Lawas’ November 14, 2007
Posted by tintabiru in Kayungyun.add a comment
Dening: Warisman, Mekarsari edisi 21 Oktober 2007
Ana owah-owahan pakulinane Kandar. Saiki ora tau ngrungokake lagu-lagu pop taun sewidakan, album lawas. Kamangka maune saben esuk jam lima nganti jam pitu mesthi nyetel radhio sing ana acarane lagu-lagu kenangan. Saiki ganti nyetel lagu-lagu anyar albume Ada Band, Ungu, Niji, Naff, Raja, Keris Patih, She, Agnes Monika lan sapanunggalane. Kamangka maune senengane ngrungokake lagu-lagune Tanty Yosepha, Titiek Sandhora, Ernie Djohan, Tety Kadi, Ana Mathovani, Broery Marantika, Bob Tutupoly, Alfian, Koes Plus, Bimbo, The Mercys, lan sapanunggalane.
“Nah ngono lagu-lagune genti dadi ora mboseni,” aloke Imah, bojone Kandar, sing maune asring grundhelan yen krungu lagu-lagu taun sewidakan. “Inggih Pak, kula melu seneng,” anak-anake padha ngegongi.
Kandar apal refrein lagune Naff “Akhirnya Ku Menemukanmu” : bila ku sanding dirimu, miliki aku dengan segala kelemahanku, bila nanti kau di sampingku jangan pernah lelah tuk mencintaiku. Utawa lagune Ungu “Demi Waktu” maafkan aku menduakan cintamu, berat rasa hatiku lupakan dirinya dan demi waktu yang bergulir di sampingmu, maafkanlah diriku sepenuh hatimu. Dhasare nalika enom Kandar main band, mula olehe nyanyi karo gitaran nganggo gitare anake.
Suwe-suwe nuwuhake pitakonan ing atine Imah. Kok sing diapalake lagune Ungu karo Naff? Apa Kandar slingkuh? Nanging ora tau mulih kasep, dhuwit blanja ora suda. HP dicek ora ana SMS nyalawadi.
Kandar pancen kesengsem karo Nia kanca kantor. Isih enom, senengane lagu-lagu penyanyi saiki. Mula Kandar melu ngapalake lagu-lagu anyar. Kandar wiwit nyedhaki Nia. Nalika nilpun Nia, HP-ne ana ringtone lagune Naff “Akhirnya Ku Menemukanmu”. Kandar klepeg-klepeg lali yen wis tuwa, lali kaceke umur karo Nia adoh, wangun dadi bapake.
Satemene, Kandar mandheg mangu, olehe arep jumangkah. Atine ngosikake, yen nganti Nia gelem, mesakake Nia. Kaceke umur adoh, kasenengane akeh bedane. Kejaba kuwi, Kandar kelingan Imah lan anak-anake. Imah sing bekti, bebarengan nglakoni pait getiring urip. Ora tega ninggal utawa ngedum rasa tresnane.
Mula banjur kupiya nglalekake Nia. Carane nyuda ketemu Nia, yen ora perlu banget, ora nemoni. Upama ora kejarag ketemu, ora perlu sambung gunem yen ora perlu. Kasenengane ngrungokake lagu anyar uga mandheg, bali ngrungokake lagu-lagu lawas, bali marang penyanyi Tanty Yosepha, Titiek Sandhora, Tety Kadi, Ernie Djohan lan penyanyi-penyanyi saangkatane. Upama lagu anyar ganti lagu religi kayata duweke Ungu, Bimbo, Raihan, utawa nasyid lokal Ustadz Anant, Nufi, Eling Karepe, Fatih, Suara Syuhada lan sapanunggalane. Mbaka sethithik Kandar bisa nglalekake Nia.
Nganti wusanane, bubar salat Idul Fitri wingi, Kandar ketemu Sinta tilas kanca SD biyen. Kandar kelingan nalika kelas enem, sepisanan ngrasakake kesengsem marang bocah wadon kanca sekelas, ya Sinta kuwi. Nalika semana sing hits lagune Tanty Yosepha “Seiring Sejalan”, lagune Titiek Sandhora “Gunung Fujiyama, Putus Cinta di Batas Kota”, lagune Ana Mathovani “Pria dan Wanita”. Sinta sing biyen sawise omah-omah pindhah Jakarta, saiki bali menyang Yogya nanging wis dadi randha. Biyen kelas enem SD nganti tekan kelas telu SMP runtang-runtung karo Sinta. Ya mung runtang-runtung nanging rasane endah banget. Pisah nalika kelas siji SMA marga beda sekolahane, lan Sinta banjur pacaran tenanan karo kancane SMA. Nalika semana sepisanan Kandar ngrasakake patah hati, mbeneri lagu “Patah Hati” duweke Rahmat Kartolo di-rekam maneh dening Kembar Group Alex & Yacob.
“Sinta panggah katon ayu, malah rasaku luwih nengsemake, apa marga umur wis mateng,” batine Kandar bengi nalika arep turu.
Rasa tresna kang sepisanan, thukul maneh ing atine Kandar. Lagu-lagu album lawas sing karepe kanggo nglalekake Nia, salin dadi gaman landhep ngiris atine Kandar. Krasa luwih perih, senajan biyen mung cinta monyet. Kandar bali bingung, bisa nglalekake Nia, nanging tatu lawas kumat marga ketemu karo Sinta. Kudune Riyaya atine bungah nanging dheweke malah bingung digawe dhewe. Banjur kepriye? Mbaleni cathetan lawas, apa njaga wutuhe kulawarga? Kandar bingung, album lawas kabukak tatu lawas mili getih. Saka radhione tangga keprungu lamat-lamat lagune Niji sadarkan aku Tuhan dia bukan milikku.
Ngayogyakarta awal Oktober 2007.
11 Januari – by Gigi November 12, 2007
Posted by tintabiru in Tembang.add a comment
Sebelas Januari bertemu,
menjalani kisah, cinta ini
Naluri berkata,
engkaulah, mi-lik-ku
Bahagia selalu dimiliki,
bertahun menjalani bersama mu
Ku nyatakan bahwa,
engkaulah, ji-wa-ku
Akulah penjaga mu
Akulah pelindung mu
Akulah pendamping mu
Di setiap langkah-langkah mu
Pernah ku menyakiti hati mu,
pernah kau melupakan janji ini
Semua karena, kita ini, ma-nu-sia
[Reff:]
Kau bawa, diri ku, ke dalam hidup mu
Kau basuh, diri ku, dengan rasa sayang
Senyum mu juga sedih mu, adalah hidup ku
Kau sentuh, cinta ku,
dengan lembut…
dengan sejuta warna
(makasih buat Gigi, lagu ini mengingatkan ‘memory Januari 1988′, meski tanggalnya beda dikit, seharusnya 4 Januari, tp gpp, skl lg makasih…)
Kiat Bermesraan dengan Pasangan November 11, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Dalam rumah tangga, hampa rasanya jika dalam satu hari saja tanpa bermesraan. Boleh juga diterapkan dan motto bagi pasangan suami istri “Tiada hari tanpa kemesraan”.
Hmmm..Bermesraan?? Iya doonk, bermesraan merupakan upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang, cinta dan ketulusan dalam bentuk verbal maupun non verbal. Sentuhan tangan, bercumbu, dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Namun komunikasi verbal juga merupakan salah satu faktor agar lebih merekatkan cinta dan kemesraan diantara suami istri. Saya punya tips dan pengalaman pribadi & istri agar tiap hari s’lalu mesra terussss.
Sangat dianjurkan mempraktekan anjuran dan tuntunan Rasul sebagaimana beliau juga mesra bersama istrinya :
1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah saw dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur)
2. Memberi wangi-wangian pada anggota badan
‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. (HR Ibnu Majah)
3. Mandi bersama istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (kedalam bejana).” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)
4. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata,“Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)
5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya ‘Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah ‘aqabah.” (HR Ibnu ‘Asakir)
6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)
7. Membelai istri
“Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)
8. Mencium istri
Dari ‘Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq). Dari Hafshah, putri ‘Umar ra, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa.” (HR. Ahmad)
9. Tiduran di Pangkuan Istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi saw biasa meletakkan kepalanya dipangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca Al-Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)
10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).
11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata,“Wahai ‘Uwaisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR Ibnu Sunni)
12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw diatas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi
ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu.” (HR Nasa’i)
13. Bermesraan walau istri haidh
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i’tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)
14. Saling memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, ‘Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan
memberikannya kepadamu.” Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)
15. Segera menemui istri jika tergoda oleh pesona kebaikannya
Dari Jabir, “Sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)
Begitu indahnya kemesraan Rasulullah kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. S’moga bisa bermanfaat bagi sahabat-sahabat.. InsyaAllah..
(dari entah berantah, semoga penulisnya tersenyum melihat artikelnya tampil disini)
Penyakit yg Sering Dialami Perempuan November 11, 2007
Posted by tintabiru in Humor.add a comment
Jangan ditanggapi serius, sekedar guyon…., ini juga cuma hasil ngopy dari milis tetangga, penyakit tersebut antara lain :
Nangisuitis
Akibat terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut, mata kedip-kedip. Efek sampingnya mata bengkak, saputangan banjir, hidung meler, bawaannya ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. Penyakit ini bisa diobati dengan obat Tegaridol, OBH (Obat Berhati Hamba).
Curhatitis B
Bawaannya pengen nyerocos. Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena Nangisuitis, Penyakit ini
bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan.
Shoping Syndrome
Gejalanya pengen jalan mulu, mata melotot. Efek sampingnya lidah ngiler, mulut nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium 4 (parah banget) dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold atau tablet PD (Pengendalian Diri).
Cerewetisme
Lebih parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma. Efek samping muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus karena sering mengelus. Lebih cepat makan pil dengar dan minum tablet bicara lebih diperlambat.
Lamanian Dandanitos
Pengennya diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak. Efek samping: menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagean makanan. Minum segera Sari Bawak (Bagi Waktu) dan Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum
Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi.
Cemburunotomy
Gejala muka lonjong, tangan mengepal, alis menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu.
Ngambekilation
Gejala hampir sama dengan Cemburunotomy. Minum Sabaron dan Bersyukurinis.
Rahasia di Balik Adzan November 11, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Mengapa lidah kelu disaat kematian? Tetapi kematian itu pasti menjelma. Hanya masa dan waktunya yang tidak kita ketahui. Coba kita amati. Mengapa kebanyakan orang yg nazak (hampir ajal) tidak dapat berkata apa- apa.. lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan ’sakaratul maut’.
Diriwayatkan sebuah hadis yg bermaksud: “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya.” Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa azan berkumandang.
Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati adzan. Banyak fadhilatnya. Jika lagu kebangsaan kita diajar agar berdiri tegak dan diamkan diri. Mengapa ketika azan kita tidak boleh mendiamkan diri? Lantas sesiapa yang berkata-kata ketika azan, Allah akan kelukan lidahnya ketika nazak.
Kita takut dengan kelunya lidah kita semasa ajal hampir tiba maka kita tidak dapat mengucap kalimah “Lailahaillallah..” yang mana sesiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut Allah dgn izinNya menjanjikan syurga untuk mereka. Dari itu marilah kita sama-sama menghormati azan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu semasa nyawa kita sedang dicabut.
“Ya Allah! Anugerahkanlah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia, lancarkan lidah kami mengucap kalimah “Lailahaillallah..” semasa sakaratul maut menghampiri kami. Amin..amin.. amin Yarobbal a’lamin..”
WASIAT NABI MUHAMMAD S.A.W. kepada SAIDINA ALI R.A.;
Wahai Ali, bagi orang MUKMIN ada 3 tanda-tandanya:
1) Tidak terpaut hatinya pada harta benda dunia.
2) Tidak terpesona dengan bujuk rayu.
3) Benci terhadap kebohongan dan perkataan sia-sia..
Wahai Ali, bagi orang ‘ALIM itu ada 3 tanda2nya:
1) Jujur dalam berkata-kata.
2) Menjauhi segala yg haram.
3) Merendahkan diri.
Wahai Ali, bagi orang yg JUJUR itu ada 3 tanda2nya:
1) Merahasiakan ibadahnya.
2) Merahasiakan sedekahnya.
3) Merahasiakan ujian yg menimpanya.
Wahai Ali, bagi org yg TAKWA itu ada 3 tanda2nya:
1) Takut berlaku dusta dan keji.
2) Menjauhi kejahatan.
3) Memohon yang halal kerana takut jatuh dalam keharaman.
Wahai Ali, bagi AHLI IBADAH itu ada 3 tanda2nya:
1) Mengawasi dirinya.
2) Menghisab dirinya.
3) Memperbanyakkan ibadah kepada Allah s.w.t.
Uang Rp 50.000 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket, 45 menit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk memasukinya.
Sumber: artikel di milis tetangga, maaf lupa (tidak tercopy) siapa penulis dan pengirimnya.
Kisah Tempayan Retak November 11, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyila pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun , hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja di tempayan yang tidak retak akan merasa bangga akan prestasinya, karena tidak dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya. Dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadanya.”
“Kenapa ?” tanya di tukang air, “Kenapa kamu merasa malu ?”
“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” Kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata “Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.”
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanan ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor. Dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata keapda tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu. Dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam bebih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah
sekarang.”
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.
(Sumber: pribadi.worpress.com)
Cinta Sejati atau Cinta Buta? November 11, 2007
Posted by tintabiru in Renung.add a comment
Saat kamu merasakan cinta sejati, kamu menyayangi seseorang apa adanya, memahami kekurangannya dan menutupi kelemahannya sambil melihat sisi terbaiknya.
Saat kamu cinta buta dengan seseorang, kamu menganggapnya dia begitu sempurna
hingga menutupi seluruh kekurangan yang ada pada dirinya.
Hmmmmm…
Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya perbedaan antara Cinta Buta dan Cinta Sejati
itu tipiiiiss banget ya?
Saat kamu mencintai seseorang begitu dalamnya, kemungkinan besar kamu akan mencoba memahami kekurangannya. Di saat itu.. apakah kamu mencintainya secara buta atau memang hanya mencintai dia apa adanya? Saat dia melakukan kesalahan dan kamu memaafkannya, karena namanya manusia memang tak pernah lepas dari kesalahan, apakah itu berarti mencintainya secara buta atau mencintai apa adanya?
Saat hadir seseorang yang lebih baik darinya, namun tak juga kamu berpaling dari sang kekasih apakah itu berarti mencintai apa adanya atau mencintai secara buta? Atau saat kamu menganggapnya begitu sempurna sehingga tak ada yang mampu menggantikan kehadirannya, apakah itu berarti mencintai apa adanya atau mencintai secara buta?
Sampai sejauh mana kita bisa mencintai apa adanya tanpa harus membutakan mata?
Apakah mungkin seseorang mencintai apa adanya tanpa menjadi buta? Ataukah mencintai secara buta berarti juga mencintai apa adanya?