jump to navigation

Pertanian Lahan Rawa February 4, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak masing-masing dengan luas 20,15 juta hektar dan 13,28 juta hektar. Lahan rawa yang telah dibuka atau direklamasi, termasuk eks lahan PLG Sejuta Hektar di Kalteng mencapai sekitar 5 juta hektar.

Dari keseluruhan lahan yang telah dibuka oleh pemerintah tercatat baru dimanfaatkan sekitar 1 ,5 juta hektar, di antaranya 0,80 juta hektar berupa lahan pasang surut dan 0,73 hektar berupa lahan lebak dan secara fungsional yang digunakan untuk pertanian sekitar 1 ,2 juta hektar, masing-masing 0,689 juta sebagai sawah, 0,231 juta hektar sebagai tegalan, dan 0,261 juta hektar untuk pemanfaatan lainnya.

Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.lmpor beras Indonesia pada masa itu mencapai hampir 20% dari pangsa yang diperdagangkan di pasar dunia sehingga secara murad (significant) mengurangi peruntukan dana pembangunan.

Komitmen pemerintah terhadap pengembangan rawa dimulai sejak tahun 1968 yang merencanakan membuka sekitar 5 juta hektar lahan rawa di Kalimantan dan Sumatera selama 15 tahun. Rencana pengembangan terhadap lahan yang dibuka ini kebanyakan tidak dilanjuti secara optimal dan semakin terancam menjadi lahan telantar atau bongkor (sleeping land). Luas lahan rawa yang menjadi lahan bongkor ini diperkirakan mencapai antara 60-70% atau 600 ribu hektar. Tingkat kesejahteraan kehidupan petani di lahan rawa juga terlihat masih memprihatinkan karena produktivitas kerja dan hasil produksi pertanian yang dapat dicapai masih rendah.

Pada keadaan laju pertambahan penduduk 1 ,5% (3 juta jiwa) dan laju konversi 3-50 ribu hektar per tahun, maka untuk mencukupi persediaan pangan nasional dipertukan tambahan produksi setiap tahun sekitar 1 juta ton gabah kering giling. Sementara, pertanian Pulau Jawa mengalami hambatan besar di tengah pesatnya penyempitan dan penyusutan lahan akibat alih fungsi lahan. Penyempitan pemilikan lahan usaha tani dari rata-rata 0,58 hektar menjadi 0,48 hektar dengan jumlah petani gurem (pemilik lahan <0,5 hektar) membengkak dari 8 juta rumah tangga menjadi 13 juta.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan persoalan pertanian lahan rawa berhubungan dengan potensi dan kendala pengembangannya.

Ekosistem dan Produktivitas

Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh (fragile) yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena alam (kekeringan, kebakaran, kebanjiran) maupun karena kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai beragam kendala. Misalnya, tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan kahat hara (nutrients defisiency). Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2-3) dan meningkatnya kelarutan Fe2+dan AI3+.

Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang holistik menyangkut gatra (aspect) perbaikan agrofisik lahan (tanah, air, dan tanaman) dan kemampuan sosial ekonomi (modal, kelembagaan, dan adaibudaya). Keragaman hasil yang dicapai pertanian lahan rawa cukup memadai walaupun masih beragam akibat keberagaman dari sifat agrofisik lahan (tipologi lahan, tipe luapan, mintakat perairan), teknologi pengelolaan, dan penggunaan masukan (input) seperti varietas, kapur, pupuk, dan lainnya.

Selain tanaman pangan (padi, palawija, dan umbi-umbian) dan perkebunan (karet, kelapa, kelapa sawit), beberapa tanaman sayur-mayur (kubis, tom at, selada, dan cabai) dan buah-buah seperti rambutan, yang memadai dengan pengelolaan yang baik.

Produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun seperti pada umumnya petani, penanganan pasca panen, termasuk pengelolaan hasil masih lemah, terkait juga dengan pemasaran hasil yang terbatas sehingga diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta komitmen pemerintah propinsi/kabupaten dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani rawa.

Memajukan Pertanian Lahan Rawa

Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik, termasuk sifat-sifat tanah, air, dan lainnya sangat diperlukan dan tidak dapat diremehkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa walaupun cukup banyak tersedia, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus-menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan.

Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan lahan tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi, gambut menjadi kering tak balik (ineversible drying) dan hidrofob (benciu air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya pemasaman (pH turun 2-3), kahat (deficiency) hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, dan peningkatan kelarutan racun AI3+, Fe2+, dan H2S, CO2 dan asam-asam organik.

Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpensatif. Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.

(Tulisan: Muhammad Noor dan Achmadi Jumberi, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)

                                                                        .

Lahan Rawa Pasang Surut untuk Budidaya Kelapa Sawit January 11, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

Lahan pasang surut merupakan lahan marjinal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai areal budidaya kelapa sawit. Potensi tersebut didasarkan pada karakteristik lahan maupun luasannya. Meskipun demikian, terkait dengan karakteristik tanah pada lahan pasang surut, pengembangan kelapa sawit di lahan pasang surut dihadapkan pada berbagai tantangan baik dalam pengelolaan lahan, kultur teknis maupun investasi untuk pembangunan infrastruktur. Untuk itu, pengembangan lahan rawa pasang surut memerlukan perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan yang tepat serta penerapan teknologi yang sesuai, terutama pengelolaan tanah dan air.  Dengan upaya seperti itu diharapkan lahan rawa pasang surut dapat menjadi lahan perkebunan kelapa sawit yang produktif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

            Kajian terhadap karakteristik lahan rawa pasang surut di perkebunan kelapa sawit telah dilakukan melalui pengamatan profil tanah Typic Sulfaquent dan Sulfic Endoaquept di Sumatera Selatan. Perbedaan utama kedua jenis tanah tersebut  adalah kedalaman lapisan pirit. Typic Sulfaquent memiliki lapisan pirit pada kedalaman sekitar 50 cm dari permukaan tanah, sedangkan tanah Sulfic Endoaquepts memiliki kedalaman pirit sekitar 100 cm. Pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit umumnya semakin baik dengan semakin dalamnya posisi lapisan pirit dari permukaan tanah. Secara umum, pertumbuhan tanaman dan produksi kelapa sawit pada lahan rawa pasang surut yang memiliki kandungan pirit juga sangat ditentukan oleh kualitas kultur teknis khususnya pengaturan tata air.  Kondisi tata air yang efektif mampu mengendalikan drainase sesuai kebutuhan tanaman, sekaligus mampu mencegah over drainage yang dapat mengakibatkan oksidasi pirit secara berlebihan.

            Hasil penelitian di Sumatera Selatan tersebut menunjukkan bahwa secara umum, budidaya kelapa sawit pada lahan pasang surut dengan jenis tanah sulfat masam masih dapat dilakukan, namun dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu: (1) kedalaman lapisan pirit harus lebih dalam atau sama dengan 90 cm dari permukaan tanah; dan (2) pembangunan sistem tata air yang efektif untuk mencegah terjadinya oksidasi pirit sekaligus menyediakan ruang yang cukup untuk perakaran, yaitu dengan mempertahankan ketinggian air pada level sekitar 70 cm dari permukaan tanah.
(sumber: iopri.org)
                                                                                  .

Siapa Tertarik dengan Lahan Gambut? January 7, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

Menghindari citra negatif komoditas sawit dari sisi kelestarian lingkungan, pemerintah membuat pagar pembatas.

Dalam rangka memproduksi minyak sawit berkelanjutan, pemerintah mendorong pelaku bisnis mengikuti sertifikasi Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Kecuali itu, pemerintah juga mengeluarkan regulasi No.14/Permentan/PL.110/2/2009 pada 16 Februari 2009. Permentan ini berisi Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit. “Diharapkan pedoman tersebut dapat memberikan kepastian usaha dan menjaga kelestarian fungsi gambut,” kata Mentan Anton Apriyantono dalam suatu jumpa pers.

Peraturan baru tersebut lebih mengetatkan persyaratan lahan gambut yang boleh dibuka untuk kebun sawit. Kriterianya adalah berada pada kawasan budidaya; ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 meter; lapisan mineral di bawah gambut tidak boleh berupa pasir kuarsa dan tanah sulfat masam; tingkat kematangan gambutnya harus matang atau setengah matang; tingkat kesuburan tanahnya dalam kategori eutropik, yaitu tingkat kesuburan gambut dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya sawit sebagai pengaruh luapan ai sungai dan/atau pasang surut air laut.

Total luas lahan gambut yang ada di Indonesia, menurut Achmad Mangga Barani, Dirjen Perkebunan, sekitar 23 juta—25 juta ha. Berdasarkan ketentuan sebelumnya yang hanya mensyaratkan kedalaman gambut di bawah 3 meter, sekitar 3 juta—4 juta bisa dimanfaatkan untuk bertanam sawit. “Namun dengan peraturan baru ini, luasannya akan menciut agar bisa berkelanjutan,” ujar Dirjen pada kesempatan yang sama.

Relatif Mahal

Menurut Triyanto Sagisoemarto, konsultan perkebunan sawit, lahan gambut bisa dibilang pilihan terakhir setelah lahan mineral, berbukit, dan rawa. Alasannya, paling tidak ada lima.

Biaya pembukaan lahan lebih mahal dibandingkan di lahan darat/mineral. Hal ini terjadi akibat mahalnya biaya pembuatan infrastruktur, seperti parit, pintu air, penimbulan jalan, banyaknya jembatan, dan sulitnya alat berat bermanuver.

“Saat ini biaya pembukaan lahan di darat berkisar Rp5 juta—Rp7 juta per ha areal siap tanam, sedangkan untuk lahan gambut antara Rp8 juta—Rp12,5 juta per ha tergantung dari spesifikasi pekerjaan,” jelas lulusan MMA IPB 2007 ini. Pernyataan Tri Sawit, begitu sapaannya, dibenarkan Bachtiar Karim, Presdir Musim Mas Group yang mengatakan, biayanya 30%—40% lebih tinggi daripada di tanah mineral.

Kecuali itu, teknis operasionalnya relatif lebih sulit karena tanah gambut bersifat lembut dan labil sehingga mempersulit manusia maupun kendaraan dan alat berat beroperasi. Akibatnya, produktivitas tenaga kerja dan alat menurun sehingga biaya membengkak.

Gambut juga mengandung sifat yang kurang menguntungkan sebagai media pertumbuhan tanaman. Antara lain, pH sangat masam, ketersediaan hara makro N,P, K, Mg, Ca, dan hara mikro Zn, Cu, dan B rendah. Jadi, perlu perlakuan khusus seperti aplikasi pupuk mikro seperti CuSO4, ZnSO4 dan ekstra Boron.

Pohon kelapa sawit umumnya mudah roboh atau miring sehingga perlu sering dilakukan konsolidasi. Pengaturan ketinggian air dari permukaan lahan mutlak diperlukan untuk menjaga agar gambut tidak amblas, tidak terbakar pada musim kemarau, dan penyediaan air yang cukup bagi tanaman. 

Produksi tandan buah segar (TBS), lanjut pria asli Pangkalanbun, Kalteng itu, juga lebih rendah. Pengalaman di beberapa kebun kelapa sawit yang memiliki lahan gambut, produksi rata-rata 22—24 ton per ha per tahun, di bawah produksi lahan mineral yang 28—30 ton.

Lalu, masih adakah investor yang tertarik menggarap gambut? “Lahan gambut dilirik para investor karena dalam satu hamparan masih sangat luas dan umumnya masyarakat belum pernah memanfaatkan lahan tersebut sehingga akan mengurangi biaya ganti rugi lahan,” ujar Tri.

(sumber: agrina-online.com)

                                                                .

Sekilas Benih Kelapa Sawit January 6, 2010

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

Akhir-akhir ini ramai diberitakan tentang benih (dalam bentuk benih berkecambah ataupun bibit) palsu kelapa sawit. Pemberitaan tentang benih palsu di beberapa harian bahkan muncul beberapa kali. Keberadaan benih palsu di pertanaman kelapa sawit di Indonesia sebenarnya telah lama diketahui.

Kesenjangan antara produktivitas nyata dengan yang diharapkan merupakan bukti banyaknya penggunaan benih ilegitim di pertanaman kelapa sawit di Indonesia. Diperkirakan antara 20 – 25% pertanaman kelapa sawit di Indonesia ditanami dengan benih ilegitim.

Secara umum dapat dikatakan bahwa produksi tandan dan minyak dari tanaman yang berasal dari benih ilegitim setinggi-tingginya hanya 50% dari tanaman yang berasal dari benih unggul. Selain merugikan konsumen dari segi produksi, penggunaan benih ilegitim menimbulkan kerugian pada berbagai sub sektor seperti :

1. merusak peralatan pabrik karena harus mengolah biji bercangkang tebal,
2. merusak citra produsen benih yang benihnya dipalsukan,
3. menurunkan tingkat produktivitas dan daya saing nasional di bidang perkelapasawitan.

Makalah ini mencoba memaparkan apa yang disebut dengan benih palsu atau benih ilegitim. Selain itu akan dipaparkan metode pemuliaan dan sistem produksi yang secara umum digunakan untuk menghasilkan benih kelapa sawit. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk menanggulangi meluasnya peredaran benih palsu kelapa sawit juga akan ikut dibahas dalam makalah ini.

Sistem Produksi Benih
Sistem produksi benih kelapa sawit pada dasarnya merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari beberapa subsistem, meliputi (1) subsistem pemuliaan tanaman, (2) subsistem pengelolaan pohon induk dura dan pohon bapak pisifera, dan (3) subsistem processing benih, serta (4) subsistem pemasaran.

Subsistem pemuliaan tanaman memiliki fungsi untuk menyediakan kandidat tetua dura dan tetua pisifera yang merupakan output dari program seleksi. Subsistem pengelolaan pohon induk memiliki fungsi untuk mengelola seluruh kegiatan di pohon induk dura yang ditujukan untuk menghasilkan tandan benih, mulai dari penyediaan dan prosesing tepung sari (polen), pengamatan identitas bunga hingga pemanenan tandan benih.

Subsistem processing benih berfungsi untuk mengolah tandan benih yang dihasilkan menjadi kecambah siap salur dengan tetap mempertahankan aspek kemurnian varietas¬nya. Sementara itu, unit kerja pemasaran bertanggung jawab terhadap penyaluran bahan tanaman hingga ke tangan konsumen, dan secara pro aktif melakukan kegiatan pelayanan purna jual bahan tanaman tersebut kepada para konsumen.

Prosedur Pemuliaan Tanaman
Secara umum, pemuliaan tanaman dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Untuk dapat menghasilkan dan mengembangkan varietas kelapa sawit, setiap institusi riset kelapa sawit harus memiliki beberapa hal sebagai berikut :

a. Populasi dasar dura dan tenera/pisifera

Seluruh kegiatan pemuliaan kelapa sawit berawal dari pembentukan populasi dasar yang terdiri atas grup dura, tenera, dan pisifera dari berbagai orijin di tingkat seleksi. Jumlah dan jenis orijin/famili yang digunakan oleh setiap lembaga riset dapat berbeda, bergantung pada arah pemuliaan dan kapasitas benih yang akan dihasilkan.

Ketersediaan populasi dura dan populasi tenera/pisifera menjadi penting bagi sumber benih karena berkaitan dengan kesinambungan program pemuliaan. Dengan demikian diharapkan institusi yang menjadi sumber benih dapat melakukan aktivitas pemuliaannya (perakitan dan pengembangan varietas) secara independen, tanpa bergantung pada institusi lain. Hal penting lainnya dalam pembentukan populasi dasar ini adalah ketersediaan informasi pedigree (silsilah keturunan) yang jelas dari masing-masing orijin/famili dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

b. Prosedur Pemuliaan

Dalam bidang pemuliaan tanaman dikenal berbagai skema seleksi, dan yang sering digunakan pada pemuliaan kelapa sawit adalah reciprocal recurrent selection (RRS) dan modified recurrent selection (MRS). Secara umum, di setiap prosedur pemuliaan kelapa sawit terdapat tahapan inti mencakup pembentukan populasi dasar, evaluasi, seleksi, serta rekombinasi.

Dari populasi dasar yang telah dibentuk dilakukan suatu tahapan evaluasi melalui pengujian keturunan (progeny test) untuk menganalisis dan menentukan persilangan terbaik yang akan direproduksi berdasarkan nilai daya gabung umum (GCA) dan daya gabung khusus (SCA) dari tetua (progenitor) yang diuji. Berdasarkan informasi daya gabung tersebut tersebut dilakukan seleksi untuk menentukan tetua-tetua yang dapat dijadikan pohon induk untuk produksi benih.

Selain untuk menentukan materi pohon induk, pada tahapan seleksi ini juga dilakukan pemilihan tetua yang akan direkombinasikan untuk mencari materi persilangan dengan potensi yang lebih baik yang digunakan pada siklus pemuliaan berikutnya. Melalui rekombinasi diharapkan dapat membentuk suatu populasi dasar baru dengan sifat-sifat yang lebih baik dari populasi dasar sebelumnya.

c. Proses pengujian keturunan (projeni)

Pengujian keturunan merupakan rangkaian percobaan yang didesain untuk menilai dengan akurat keragaan suatu hibrida (persilangan). Pengujian ini merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan oleh setiap sumber benih, karena materi yang sampai ke tangan konsumen adalah hibrida DxP.

Pengujian dilakukan mengikuti metode statistik baku, mencakup perancangan percobaan (jumlah persilangan, jumlah ulangan, jumlah individu, standard cross ), masa pengamatan (minimal selama 6 tahun setelah tanam), lokasi percobaan (dilakukan minimal pada 3 lokasi), dan metode analisis data yang digunakan untuk memprediksi nilai hibrida DxP yang akan direproduksi.

Prosedur produksi Benih
Pohon induk/bapak yang digunakan untuk menghasilkan benih komersial dilakukan dengan mereproduksikan persilangan terbaik yang telah diuji pada pengujian projeni. Skema RRS (gambar di bawah) secara fleksibel menunjukkan cara pemilihan pohon induk/bapak yang dapat diperoleh melalui perkawinan sendiri (selfing) maupun rekombinasi intra-grup.

Secara prinsip, apabila Di dan Dj telah diketahui mempunyai daya gabung umum (GCA/general combining ability) yang baik, maka keseluruhan tanaman selfing maupun rekombinasi keduanya- Dii, Djj, Dij, dapat digunakan sebagai pohon induk untuk produksi benih. Demikian juga dengan Pp, Tnn atau Tnm.

Namun demikian untuk memperoleh gain selection lebih tinggi biasanya dilakukan seleksi intra-persilangan terhadap karakter-karakter yang dianggap akan lebih menguntungkan konsumen, seperti pertumbuhan meninggi yang lebih lambat. Selain itu selection pressure ditujukan untuk mendapatkan keseragaman yang lebih tinggi pada tanaman yang dihasilkan. Adapun pengamatan produksi dan kualitas tandan lebih ditujukan untuk kelanjutan program seleksi yaitu dengan cara memilih pohon induk yang baik dan telah diketahui karakteristik genotipenya.

Benih Palsu
Benih palsu atau benih ilegitim adalah benih yang diproduksi tidak mengikuti standar proses produksi benih seperti yang lazim dilakukan oleh produsen benih dan dipersyaratkan oleh pemerintah melalui standar nasional Indonesia (SNI, sedang dalam tahap penggodokan final) untuk benih kelapa sawit. Benih ilegitim umumnya diproses dari biji asalan yang berasal dari tanaman komersial.

Seperti layaknya tanaman hibrida, benih yang diperbanyak dari tanaman komersial akan bersegregasi menjadi tanaman yang memiliki sifat seperti induk dan bapaknya. Tipe kelapa sawit dura yang dijadikan sebagai pohon induk umumnya memiliki cangkang (tempurung) tebal dan memiliki rendemen minyak rendah (< 18%), sedangkan tanaman tipe pisifera yang digunakan sebagai pohon bapak, meskipun tidak bercangkang, umumnya tidak menghasilkan tandan buah karena terjadi aborsi pada saat pembuahan.

Beberapa hal yang mendorong penggunaan benih ilegitim adalah sebagai berikut.
1.Kesenjangan permintaan dan kemampuan produksi benih.
2.Kurang informasi dan pengetahuan konsumen mengenai bahan tanaman yang benar dan baik.
3.Harga benih ilegitim jauh lebih murah dari benih unggul. Harga benih unggul kelapa sawit tahun 2009 bervariasi dari Rp. 6.000 sampai Rp. 12.000 per butir kecambah.
4.Prosedur pembelian benih dari produsen yang ditunjuk pemerintah dianggap masih terlalu merepotkan oleh sebagian konsumen (diperlukan surat permohonan, surat tanah, SP2BKS, dll.).

Selain faktor-faktor di atas, pengembangan kelapa sawit yang tidak sepenuhnya mengacu pada pola pewilayahan komoditas mengakibatkan banyak tanaman ditanam pada lahan yang tidak sesuai (kelas lahan N1 pada klasifikasi lahan kelapa sawit). Hal ini mendorong masyarakat menggunakan benih ilegitim karena kelangkaan benih unggul dan memubazirkan benih unggul (seed waste) karena tanaman yang dihasilkan tidak akan berproduksi optimal (yield potential losses).

Solusi
Untuk meredam peredaran dan penggunaan benih ilegitim kelapa sawit, maka peran dan program PPKS ke depan adalah sebagai berikut.

1.Sumber benih diharapkan lebih mendekatkan diri kepada konsumen dengan jalan menggalakkan program waralaba (varietas, benih, bibit, dll.) serta ikut mengambil tanggung jawab bagi penyediaan bahan tanaman berkualitas untuk masyarakat pekebun di wilayah yang berdekatan dengan kebun produksi benihnya.

2. Perlu lebih ditingkatkan peran Dinas Perkebunan di provinsi maupun di kabupaten pengembangan kelapa sawit untuk mempermudah pemasaran benih kelapa sawit, terutama kepada pekebun rakyat. Dalam hal ini Dinas Perkebunan dapat bertindak sebagai outlet pemasaran benih dan teknologi kelapa sawit yang dihasilkan oleh sumber benih.

3. Sumber benih harus terus melanjutkan sosialisasi kerugian penggunaan benih ilegitim, terutama untuk pekebun kecil, di seluruh wilayah Indonesia.

4.Sumber benih diharapkan mendorong dan membantu pemerintah untuk terus meningkatkan pengawasan peredaran benih/bibit kelapa sawit.

 (Razak Purba dan Witjaksana Ds., Pemulia PPKS Medan; sumber : pengawasbenihtanaman.blogspot.com)

                                                                                        .

Teh dan Manfaatnya December 18, 2009

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

Sejak dulu teh memang terkenal memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Dengan meminum teh dapat membuat tubuh lebih relaks dalam menjalani aktivitas. Teh dapat dikonsumsi dengan berbagai cara, diseduh dengan air panas atau ditambah dengan es, sama nikmatnya. Bahkan ada jenis daun teh yang dapat dimakan.

Teh merupakan hasil pengolahan pucuk (daun muda) dari tanaman teh (Camellia sinensis) yang dipakai sebagai bahan minuman. Ada berbagai legenda asal mula teh, namun yang terpopuler adalah legenda Kaisar Shen Nung dari provinsi Yunan-Cina pada tahun 2737 SM. Ketika sedang memasak air minumannya, dengan tidak sengaja sehelai daun yang berasal dari ranting kering yang dipakainya sebagai kayu bakar, terbang dan tercelup ke dalam ketel air. Air seduhan daun tersebut kemudian menghasilkan sebuah minuman baru yang beraroma khas yang hingga kini dikenal sebagi teh.

Teh yang baik dihasilkan dari bagian pucuk (pecco) ditambah 2-3 helai daun muda, karena pada daun muda tersebut kaya akan senyawa polifenol, kafein serta asam amino. Senyawa-senyawa inilah yang akan mempengaruhi kualitas warna, aroma dan rasa dari teh.

Dasar utama pengolahan teh adalah pemanfaatan oksidasi senyawa polifenol yang ada di dalam daun teh. Proses oksidasi ini lazim disebut fermentasi. Berdasarkan sifat fermentasinya, dikenal empat macam jenis teh, yaitu:

• Teh hitam (black tea)

Teh hitam mudah dikenali di pasaran karena warnanya hitam dan paling luas dikonsumsi. Dalam proses pengolahan diberi kesempatan penuh terjadi fermentasi (mengalami perubahan kimiawi sempurna sehingga hampir semua kandungan tanin terfermentasi menjadi theaflavin dan thearubigin) yang akan merubah warna daun teh dari hijau menjadi kecoklatan dan dengan proses pengeringan berubah menjadi hitam.

• Teh oolong

Umumnya diproduksi dari tanaman teh yang tumbuh di daerah semi tropis. Prosesnya sama seperti teh hitam, namun proses fermentasinya hanya sebagian (lebih singkat sekitar 30-70% dan perubahan berlangsung setengah sempurna sehingga masih mengandung sebagian tanin dan beberapa senyawa turunannya) sehingga warna dan aromanya di antara teh hitam dan teh hijau.

• Teh hijau (green tea)

Daun teh tidak diberi kesempatan fermentasi (hampir tidak mengalami proses perubahan kimia). Biasanya pucuk teh diproses langsung dengan panas/steam untuk menghentikan aktivitas enzim sehingga sama seperti raw leaf (daun teh awalnya), karena itu selain warnanya masih hijau juga masih mengandung tanin yang relatif tinggi.

• Teh putih (white tea)

Merupakan jenis teh terbaik karena untuk mendapatkannya, hanya diambil dari satu pucuk tiap satu pohon, yakni pucuk tertinggi dan utama. Kandungan antioksidan paling tinggi. Dalam prosesnya, daun teh dibiarkan layu secara alami sehingga warnanya menjadi putih.

Mutu teh merupakan kumpulan sifat yang dimiliki oleh teh, baik sifat fisik maupun kimianya. Kedua sifat ini telah dimiliki sejak masih berupa pucuk teh maupun diperoleh sebagai akibat teknik penanganan dan pengolahan yang dilakukan.

Kandungan senyawa kimia dalam daun teh terdiri dari tiga kelompok besar yang masing-masing mempunyai manfaat bagi kesehatan, yakni:

1. Polifenol

Polifenol merupakan antioksidan jenis bioflavonoid yang 100 kali lebih efektif dari vitamin C dan 25 kali dari vitamin E. Manfaatnya:

o Menurunkan kadar kolesterol

o Menurunkan tekanan dan kadar gula darah

o Membantu kerja ginjal dan mencegah terjadinya batu empedu

o Memperlancar pencernaan

o Melarutkan lemak dan mencegah kolesterol jahat

2. Kafein

Unsur kafein dalam teh jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kopi. Manfaatnya:

o Bersifat sebagai mild stimulant pada sistem saraf pusat sehingga memperlancar sirkulasi darah ke otak

o Dengan minum teh secara teratur akan menaikkan tingkat ingatan, cognitive performance, feeling of pleasant dan mood.

3. Essential oil

Teh juga mengandung protein yang dirasakan besar peranannya dalam pembentukan aroma. Manfaatnya:

o Melarutkan lemak

o Memperlancar pencernaan dan peredaran darah

Ada berbagai manfaat teh terhadap kesehatan, diantaranya:

• Menurunkan resiko penyakit kanker

Berbagai studi menunjukkkan konsumsi teh berperan dalam menurunkan resiko penyakit kanker. Senyawa polifenol dalam teh mampu memberikan perlindungan terhadap zat karsinogenik. ECCG (epigallocatechin gallate) yang terdapat dalam teh hijau merupakan senyawa aktif yang berperan dalam mencegah terjadinya kanker.

Studi epidemiologis di Jepang menunjukkan penduduk yang mendiami daerah produsen utama teh hijau sangat sedikit tingkat kematiannya akibat kanker. Studi di Iowa, Amerika Serikat terhadap 35 ribu wanita pasca-menopause, melaporkan bahwa teh memiliki khasiat melawan kanker. Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa mereka yang mengkonsumsi minimal dua cangkir teh setiap harinya akan mengurangi resiko terhadap penyakit kanker kandung kemih (40%) dan kanker saluran pencernaan (68%) bila dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi teh.

Teh dapat mencegah dan menyembuhkan gangguan pada ginjal karena mampu menetralisir radikal hidroksil yang menyebabkan gangguan metabolisme protein pada ginjal.

• Menurunkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular

Penyakit kardiovaskular antara lain terkait dengan kadar lipid (lemak) darah dan tekanan darah. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa teh memiliki khasiat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dengan menurunkan kadar tekanan dan kolesterol darah.

pencegahan yang terjadi disebabkan polifenol teh memiliki kemampuan menghambat penyerapan kolesterol dan menghambat penggumpalan sel-sel platelet sehingga akan mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

• Menurunkan berat badan

Studi terbaru yang dilakukan terhadap potensi teh adalah peranannya dalam menurunkan berat badan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Institut Fisiologi, Universitas Fribourg, Swiss, menunjukkan bahwa teh hijau diketahui mempunyai potensi sebagai termogenesis sehingga mampu meningkatkan pembakaran kalori dan lemak yang berdampak terhadap penurunan berat badan.

• Mencegah osteoporosis

Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan salah satu masalah yang dihadapi wanita pasca-menopause karena produksi hormon estogen sebagai pemicu pertumbuhan tulang, telah terhenti. Osteoporosis menyebabkan massa tulang menyusut dan mudah patah.

Studi terbaru yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa kebiasaan minum teh secara teratur dapat mempertahankan keutuhan tulang dan mencegah terjadinya osteoporosis. Senyawa aktif yang terkandung di dalam teh berperan menyerupai hormon estrogen lemah yang membantu melindungi tulang terhadap proses kerapuhan.
(Sumber: dechacare.com)
                                                                   .

Tumbuh Ber-AKAR December 14, 2009

Posted by tintabiru in Renung, Spirit.
add a comment

Pada suatu ketika saya membaca salah satu buku ensiklopedia anak-anak. Di dalamnya ada penjelasan tentang akar tumbuhan. Beberapa hal inti yang disampaikan misalnya saja bahwa akar itu tidak seindah daun atau bunga. Ia juga tidak berwarna-warni indah seperti mereka. Namun ia memiliki peran yang sangat penting. Ia bisa menunjang batang pohon dengan sangat kuat. Ia selalu berusaha mencari air dan mineral yang nantinya akan menjadi asupan bagi tanaman.

Dijelaskan pula bahwa akar memiliki dorongan mencari air yang sangat kuat sehingga ia mampu menjebol trotoar untuk mendekati air di sebuah hidran. Akar juga mampu menyesuaikan dirinya untuk masuk ke celah-celah kecil (mencari air di dalam relung-relung tanah) atau menghadapi kondisi iklim yang berbeda (mengakar pada batu karang di gunung bersalju). Tapi yang sungguh mengagumkan adalah ia bekerja dalam hening dan tidak terlihat dari luar.

Sampai sini terjadilah pencerahan! Saya menemukan sebuah kebijaksanaan dari akar. Saya dituntun untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa manusia sebaiknya meneladani akar. Ada hal-hal yang sebaiknya ada pada manusia, yang dapat diakronimkan sebagai AKAR, yaitu Angan-angan, Konsistensi, Adaptif dan Rendah hati. Sebagai manusia kita bisa bertumbuh dengan memperhatikan AKAR kita.

ANGAN-ANGAN
Agar hidupnya lebih terarah manusia disarankan untuk dengan sengaja memiliki angan-angan. Kemampuan menciptakan angan-angan barangkali salah satu karunia yang dimiliki oleh manusia. Saya membayangkan bahwa akar sangat memahami apa yang ia inginkan dan bagaimana merealisasikan keinginan tersebut.

Coba perhatikan sekeliling kita saat ini. Banyak kenyataan yang berawal dari mimpi. Misalnya saja komunikasi via email, pergi ke bulan atau keajaiban internet sebagai perwujudan mimpi manusia untuk mengadakan komunikasi antar komputer.

Untuk itu beranilah berangan-anganlah sebelum dilarang dan dikenai pajak!

KONSITENSI
Jika Anda telah memiliki angan-angan, maka tahap berikut untuk mewujudkan angan-angan itu adalah dengan berusaha secara konsisten. Perhatikan bahwa akar sangat konsisten untuk mewujudkan angan-angannya mencapai sumber air. Ia tidak menyerah walaupun kondisinya sulit. Komitmennya untuk mencari air sebagai tanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan daun, bunga dan sebagainya membuatnya akan berusaha sangat keras untuk menemukannya.

Sayang sungguh sayang bahwa konsistensi ini juga mengharuskan kerja keras dan ketekunan. Hal-hal yang tidak terlalu disukai oleh kebanyakan penghuni planet bumi. Tapi kebanyakan orang berhasil ternyata memiliki kualitas ini.

Konsistensi juga dapat menjadi salah satu bentuk pengujian terhadap angan-angan kita. Jika kita tidak cukup konsisten, maka kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah angan-angan tersebut memang sungguh-sungguh kita inginkan atau tidak. Bandingkan dengan akar bahwa konsistensi mencari air dan mineral memang sungguh-sungguh dilakukan tanpa menyerah.

ADAPTIF
Akar mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat hebat. Ia bisa membuat dirinya menjadi sangat kecil untuk masuk ke celah-celah tanah dalam rangka mencapai sumber air. Akar juga sanggup bekerja di pegunungan bersalju dengan menancap pada karang dengan sangat kuat untuk melindungi tanaman dari angin.

Dalam perziarahan di dunia ini, manusia kerap dihadapkan pada situasi-situasi dimana ia harus (mau tidak mau) melakukan adaptasi dalam berbagai hal dilingkungannya untuk bertahan. Namun kerap kita menemukan diri kita tidak mau atau tidak mampu melakukan penyesuain yang diperlukan dalam rangka mencapai angan-angan kita.

Kemampuan untuk melakukan adaptasi pada hakikatnya merupakan upaya pemecahan masalah, dimana kita memilih salah satu alternatif yang dianggap paling baik, berdasarkan pengenalan kita akan berbagai kondisi internal dan eksternal, termasuk asumsi-asumsi yang ada di dalamnya.

RENDAH HATI
Akar dengan sangat mengagumkan telah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Dengan menyandang peran yang begitu besar dan penting ia bekerja tanpa banyak bicara, tidak perlu menampilkan diri. Tapi semua orang tahu bahwa jika ingin menghabisi sebuah tumbuhan, harus dihabisi sampai ke akar-akarnya.

Spirit seperti ini yang perlu dikembangkan dalam proses pengembangan diri, dimana seseorang tetap mampu merasa ada yang belum berkembang dalam dirinya dan mau menerima berbagai informasi secara terbuka. Hanya dengan memiliki kerendahan hati, seseorang akan mengalami sebuah proses pengembangan yang berkesinambungan.

Perasaan cepat puas dan merasa pendapat saya yang paling benar memang merupakan pagar pembatas yang sesungguhnya kita ciptakan sendiri, dan kadang-kadang kerap diperkuat oleh lingkungan.

Dengan demikian, jika kita ingin terus mengembangkan diri Anda (yang sesungguhnya adalah hak sekaligus kewajiban), ikutilah teladan akar.

Sekian dulu pemaparan tentang tumbuh meneladani AKAR, yang rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh sebagai konsep dasar dalam proses pengembangan diri.

Sumber: Buku Raising Drug-Free Children oleh Veronica Colondam ( tulisan Bobby Hartanto di pelangi-tc.com )

                                                                  .

Obyekan… December 4, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

( Cerpen Eko Hartono, dimuat di Solopos, Minggu, 11 Oktober 2009 )

“Sampeyan sudah sepuluh tahun kerja di pabrik, masak gajinya masih segitu saja. Lihat itu Mas Supri, baru tiga tahun kerja di pabrik sudah bisa beli tivi, motor, dan kulkas!” ucap istriku pagi itu tiba-tiba ngomongin soal Supri, tetangga dekat kami.

Belakangan ini Yatmi memang kerap menyinggung soal penghasilanku sebagai buruh pabrik yang sangat kecil. Yatmi iri melihat kehidupan tetangga kami yang lebih sejahtera.

“Supri anaknya cuma satu, sedang kita anak tiga. Biaya hidup dia lebih kecil dibanding kita, lagian istri Supri juga kerja di luar!” dalihku.

“Itu bukan alasan. Sampeyan kan lebih lama kerja dibanding dia. Soal istrinya yang kerja, aku juga bisa. Aku akan kerja, tapi nanti siapa yang mengurus anak di rumah? Sampeyan mau tinggal di rumah, aku yang kerja? Mau?”

Aku terdiam. Istriku pintar bicara. Selalu saja punya argumen untuk mematahkan pendapatku. Lagian percuma juga berdebat soal begini. Ujung-ujungnya, akulah yang dituntut, akulah yang mesti bertanggung jawab. Istriku menimpakan semua beban ini ke pundakku.

“Kalau gajiku memang cuma segitu, mau bagaimana lagi, Mi? Apa aku mesti merampok? Maling?” sergahku ingin mengakhiri perdebatan ini.

“Istilahnya jangan maling atau merampok, Mas. Kan bisa ngobyek atau cari kerja sampingan. Itu Mas Supri bisa ngobyek. Kalau mengandalkan gaji buruh, aku kira Mas Supri tidak bakal bisa beli motor. Dia tentu ngobyek. Entah ngobyek apa, yang penting dapat duit!” tandas Yatmi sekali lagi membandingkan.

Aku terdiam. Apa yang dikatakan istriku benar. Kalau tidak ngobyek alias cari sampingan, orang sepertiku tidak bakal dapat tambahan uang. Supri yang dibangga-banggakan istriku itu kelihatannya suka ngobyek. Dia orangnya memang ulet, lincah, dan gesit. Pergaulannya juga luas. Tak heran, dia bisa dapat uang di luar gajinya sebagai buruh.

Tapi aku dengar-dengar obyekannya berbau kriminal. Dia dan teman-temannya mencuri barang-barang pabrik untuk dijual keluar. Meski barang itu dalam kondisi rejeck alias gagal produk, tapi aturan pabrik tak boleh dibawa keluar. Karena bisa menjatuhkan pasaran produk yang sebenarnya. Tapi itulah, beberapa karyawan ada yang nakal melanggar aturan. Padahal bila ketahuan resiko dan sanksinya sudah jelas; dipecat tanpa pesangon!

Apakah aku mesti melakukan seperti Supri?

“Zaman sekarang, kalau tidak main serobot sana serobot sini tidak bakal dapat apa-apa, No. Mengandalkan kejujuran? Basi! Kita mesti berbuat sedikit licik dan kotor agar dapat uang. Yang namanya bisnis itu ya mesti pandai memanfaatkan peluang dan kesempatan. Tak peduli peluang itu menantang bahaya dan melanggar aturan. Di mana-mana bisnis itu mengandung resiko!” cerocos Supri ketika suatu hari aku berkesempatan ngobrol dengannya.

Aku meneguk ludah. Begitu enaknya Supri bicara. Bisnis di matanya seakan hanya sebuah perjudian. Bukan lagi berdasar etika dan aturan, tetapi bagaimana menjaring keuntungan dengan segala cara, tak peduli merugikan pihak lain. Bisnis ugal-ugalan namanya!

“Kita tidak usah munafik, No! Kamu pikir, para pengusaha yang punya pabrik itu tidak main licik dan kotor? Mereka lebih serigala dibanding kita, mereka adalah monster. Kalau serigala cuma makan bagian sedikit, tapi monster mencaplok semuanya. Bayangkan, untuk bisa mendapatkan keuntungan besar mereka memeras tenaga ribuan buruh, memainkan pasal-pasal perburuhan, mengelabui pajak, memanipulasi laporan keuangan, dan banyak lagi kecurangan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya!” tandas Supri.

Aku terdiam. Apa pun alasan yang dikatakan Supri, tindakannya main sikat barang orang, meskipun dirinya juga termasuk dirugikan oleh pemilik perusahaan, hal itu tetaplah salah! Tidak benar! Aku tak mau meniru cara Supri. Aku ingin mencari cara lain. Sejak ‘diteror’ istriku dengan tuntutan mencari uang tambahan di luar gaji buruh, aku memang berusaha mencari obyekan yang menguntungkan. Tentu saja obyekan ini harus bisa dilakukan di luar jam kerjaku sebagai buruh. Cuma kerja sampingan!

Tiba-tiba aku ingat Ipul, tetanggaku yang bekerja sebagai pedagang asongan. Kulihat dia cukup sukses. Bisa beli motor dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Aku punya kesempatan belajar pada Ipul saat bertemu di jalan sepulang kerja. Kami duduk-duduk di pinggir trotoar. Aku menanyakan, bagaimana suka duka Ipul berjualan asongan, berapa penghasilannya sehari, plus tips menghindar razia petugas ketertiban kota.

“Itu sih, tergantung pintarnya kita, Bang. Supaya dagangan laris, kita cari tempat yang ramai. Biar tidak kepergok petugas Tramtib kita saling kontak sama teman-teman lain. Jadi sebelum ketangkap, kita sudah kabur dulu!” tuturnya.

“Berapa penghasilanmu sehari?” tanyaku.

“Yaah, cuma pas-pasan, Bang. Paling banter limapuluh ribu!”

“Tapi kayaknya kamu kok sukses. Bisa beli motor, televisi, perabotan…?”

“Kalau itu mah, hasil sampingan, Bang.”

“Kamu masih kerja sampingan juga?”

“Iya, Bang!”

“Apa itu?”

“Rahasia, Bang.”

“Alaah, tidak usah pakai rahasia. Kita kan sudah lama temenan. Aku janji tidak akan membuka rahasiamu. Suer!”

Ipul tampak resah. Seperti orang ketakutan. Dia tengok kanan kiri sebentar sebelum kemudian berbisik ke telingaku. Mataku terbelalak mendengar bisikannya. Busyet! Pantesan penghasilan Ipul gede banget. Sampingannya jauh lebih besar dari kerja utamanya! Tapi kemudian aku tercenung. Haruskah kuikuti cara Ipul? Memang gede hasilnya, tapi kerjanya berbau kriminal. Jualan narkoba!

Ah, hatiku tiba-tiba dibuat kelu dan kecut. Hampir semua orang yang kudatangi semuanya memiliki kerja sampingan. Tapi kerja sampingan yang mereka lakukan kebanyakan tidak benar, melanggar hukum, dan berbau maksiat. Ah, kenapa semua orang mudah tergoda oleh uang? Seakan pekerjaan halal yang sudah dijalani, walau dengan hasil kecil, tak cukup lagi!

Jika dipikir-pikir, orang seperti Supri, Ipul, atau yang lainnya sudah cukup hidup dengan gaji mereka, meski pas-pasan. Mereka masih bisa ngasih makan keluarga. Hanya karena tuntutan kepantasan dan kepatutan untuk bisa hidup seperti tetangga atau dengan standar hidup yang tinggi; diukur dengan benda-benda sekunder seperti televisi, motor, perabotan, dan lain-lain, sehingga mereka merasakan hidup yang dijalani terasa kurang. Merasa paling miskin!

Hal sama juga terjadi padaku. Jika dikalkulasi, gajiku sebagai buruh pabrik sebenarnya sudah cukup untuk makan, bayar sewa rumah, listrik, bayar sekolah anak-anak, dan keperluan lain yang wajar. Tapi semua itu tidak cukup lagi ketika distandarkan dengan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan insidentil macam biaya berobat, kegiatan sosial, nengok orang sakit, sumbangan, dan lain-lain.

Semua orang sepertinya tidak ada yang puas dengan pekerjaannya, dengan penghasilan yang didapat. Seorang PNS yang punya gaji tetap dan kelak dapat pensiun pun masih cari sampingan. Bahkan seorang pengusaha dan konglomerat yang bergelimang harta, masih berusaha ngobyek. Mereka main proyek dan tender gelap. Semua orang punya kerja sampingan. Semua orang ingin dapat hasil lebih. Mereka tidak puas dengan apa yang sudah didapat!

Seperti sopir omprengan yang dikejar setoran, semua orang sibuk mencari obyekan. Mungkin di dunia ini hanya aku satu-satunya orang yang terlalu jujur dan menerima apa adanya keadaan. Aku sebenarnya tak berkeinginan mencari obyekan kalau tidak dipaksa istri. Karena kerja sampingan bisa mengganggu dan merugikan kerja utama. Bayangkan, jika seorang PNS ngobyek di tengah jam kerja, bukankah itu sama artinya memanipulasi waktu kerja? Merugikan negara yang telah menggajinya!

Belajar mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan dan menerima apa pun keadaan memang sulit. Sama sulitnya dengan mengekang hawa nafsu!

Doa: Syukur atau Kufur..? November 15, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.

Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.

Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.

Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.

Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.

Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.

(Manhaj-salaf.net)

                                                                                             .

Biarkan Jatuh Cinta – by ST12 October 19, 2009

Posted by tintabiru in Kayungyun.
add a comment

tatap ini indah melihatmu
rasa ini rasakan cintamu
jiwa ini getarkan jiwamu
jantung ini detakan jantungmu

dan biarkan aku padamu
takkan menyesal hidup di dalam hidupku
rasa ini tulus padamu
dan kan ku biarkan sampai aku mati

reff:
biarkan aku jatuh cinta
pesona pada pandangan saat kita jumpa
biarkan aku kan mencoba
tak peduli kau berkata tuk mau atau tidak

tatap ini indah melihatmu
rasa ini rasakan cintamu
jiwa ini getarkan jiwamu
jantung ini detakan jantungmu

Hmm… October 7, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

family-and-house

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

senyum aja lagi…