jump to navigation

Tumbuh Ber-AKAR December 14, 2009

Posted by tintabiru in Renung, Spirit.
add a comment

Pada suatu ketika saya membaca salah satu buku ensiklopedia anak-anak. Di dalamnya ada penjelasan tentang akar tumbuhan. Beberapa hal inti yang disampaikan misalnya saja bahwa akar itu tidak seindah daun atau bunga. Ia juga tidak berwarna-warni indah seperti mereka. Namun ia memiliki peran yang sangat penting. Ia bisa menunjang batang pohon dengan sangat kuat. Ia selalu berusaha mencari air dan mineral yang nantinya akan menjadi asupan bagi tanaman.

Dijelaskan pula bahwa akar memiliki dorongan mencari air yang sangat kuat sehingga ia mampu menjebol trotoar untuk mendekati air di sebuah hidran. Akar juga mampu menyesuaikan dirinya untuk masuk ke celah-celah kecil (mencari air di dalam relung-relung tanah) atau menghadapi kondisi iklim yang berbeda (mengakar pada batu karang di gunung bersalju). Tapi yang sungguh mengagumkan adalah ia bekerja dalam hening dan tidak terlihat dari luar.

Sampai sini terjadilah pencerahan! Saya menemukan sebuah kebijaksanaan dari akar. Saya dituntun untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa manusia sebaiknya meneladani akar. Ada hal-hal yang sebaiknya ada pada manusia, yang dapat diakronimkan sebagai AKAR, yaitu Angan-angan, Konsistensi, Adaptif dan Rendah hati. Sebagai manusia kita bisa bertumbuh dengan memperhatikan AKAR kita.

ANGAN-ANGAN
Agar hidupnya lebih terarah manusia disarankan untuk dengan sengaja memiliki angan-angan. Kemampuan menciptakan angan-angan barangkali salah satu karunia yang dimiliki oleh manusia. Saya membayangkan bahwa akar sangat memahami apa yang ia inginkan dan bagaimana merealisasikan keinginan tersebut.

Coba perhatikan sekeliling kita saat ini. Banyak kenyataan yang berawal dari mimpi. Misalnya saja komunikasi via email, pergi ke bulan atau keajaiban internet sebagai perwujudan mimpi manusia untuk mengadakan komunikasi antar komputer.

Untuk itu beranilah berangan-anganlah sebelum dilarang dan dikenai pajak!

KONSITENSI
Jika Anda telah memiliki angan-angan, maka tahap berikut untuk mewujudkan angan-angan itu adalah dengan berusaha secara konsisten. Perhatikan bahwa akar sangat konsisten untuk mewujudkan angan-angannya mencapai sumber air. Ia tidak menyerah walaupun kondisinya sulit. Komitmennya untuk mencari air sebagai tanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan daun, bunga dan sebagainya membuatnya akan berusaha sangat keras untuk menemukannya.

Sayang sungguh sayang bahwa konsistensi ini juga mengharuskan kerja keras dan ketekunan. Hal-hal yang tidak terlalu disukai oleh kebanyakan penghuni planet bumi. Tapi kebanyakan orang berhasil ternyata memiliki kualitas ini.

Konsistensi juga dapat menjadi salah satu bentuk pengujian terhadap angan-angan kita. Jika kita tidak cukup konsisten, maka kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah angan-angan tersebut memang sungguh-sungguh kita inginkan atau tidak. Bandingkan dengan akar bahwa konsistensi mencari air dan mineral memang sungguh-sungguh dilakukan tanpa menyerah.

ADAPTIF
Akar mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat hebat. Ia bisa membuat dirinya menjadi sangat kecil untuk masuk ke celah-celah tanah dalam rangka mencapai sumber air. Akar juga sanggup bekerja di pegunungan bersalju dengan menancap pada karang dengan sangat kuat untuk melindungi tanaman dari angin.

Dalam perziarahan di dunia ini, manusia kerap dihadapkan pada situasi-situasi dimana ia harus (mau tidak mau) melakukan adaptasi dalam berbagai hal dilingkungannya untuk bertahan. Namun kerap kita menemukan diri kita tidak mau atau tidak mampu melakukan penyesuain yang diperlukan dalam rangka mencapai angan-angan kita.

Kemampuan untuk melakukan adaptasi pada hakikatnya merupakan upaya pemecahan masalah, dimana kita memilih salah satu alternatif yang dianggap paling baik, berdasarkan pengenalan kita akan berbagai kondisi internal dan eksternal, termasuk asumsi-asumsi yang ada di dalamnya.

RENDAH HATI
Akar dengan sangat mengagumkan telah menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Dengan menyandang peran yang begitu besar dan penting ia bekerja tanpa banyak bicara, tidak perlu menampilkan diri. Tapi semua orang tahu bahwa jika ingin menghabisi sebuah tumbuhan, harus dihabisi sampai ke akar-akarnya.

Spirit seperti ini yang perlu dikembangkan dalam proses pengembangan diri, dimana seseorang tetap mampu merasa ada yang belum berkembang dalam dirinya dan mau menerima berbagai informasi secara terbuka. Hanya dengan memiliki kerendahan hati, seseorang akan mengalami sebuah proses pengembangan yang berkesinambungan.

Perasaan cepat puas dan merasa pendapat saya yang paling benar memang merupakan pagar pembatas yang sesungguhnya kita ciptakan sendiri, dan kadang-kadang kerap diperkuat oleh lingkungan.

Dengan demikian, jika kita ingin terus mengembangkan diri Anda (yang sesungguhnya adalah hak sekaligus kewajiban), ikutilah teladan akar.

Sekian dulu pemaparan tentang tumbuh meneladani AKAR, yang rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh sebagai konsep dasar dalam proses pengembangan diri.

Sumber: Buku Raising Drug-Free Children oleh Veronica Colondam ( tulisan Bobby Hartanto di pelangi-tc.com )

                                                                  .

Obyekan… December 4, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

( Cerpen Eko Hartono, dimuat di Solopos, Minggu, 11 Oktober 2009 )

“Sampeyan sudah sepuluh tahun kerja di pabrik, masak gajinya masih segitu saja. Lihat itu Mas Supri, baru tiga tahun kerja di pabrik sudah bisa beli tivi, motor, dan kulkas!” ucap istriku pagi itu tiba-tiba ngomongin soal Supri, tetangga dekat kami.

Belakangan ini Yatmi memang kerap menyinggung soal penghasilanku sebagai buruh pabrik yang sangat kecil. Yatmi iri melihat kehidupan tetangga kami yang lebih sejahtera.

“Supri anaknya cuma satu, sedang kita anak tiga. Biaya hidup dia lebih kecil dibanding kita, lagian istri Supri juga kerja di luar!” dalihku.

“Itu bukan alasan. Sampeyan kan lebih lama kerja dibanding dia. Soal istrinya yang kerja, aku juga bisa. Aku akan kerja, tapi nanti siapa yang mengurus anak di rumah? Sampeyan mau tinggal di rumah, aku yang kerja? Mau?”

Aku terdiam. Istriku pintar bicara. Selalu saja punya argumen untuk mematahkan pendapatku. Lagian percuma juga berdebat soal begini. Ujung-ujungnya, akulah yang dituntut, akulah yang mesti bertanggung jawab. Istriku menimpakan semua beban ini ke pundakku.

“Kalau gajiku memang cuma segitu, mau bagaimana lagi, Mi? Apa aku mesti merampok? Maling?” sergahku ingin mengakhiri perdebatan ini.

“Istilahnya jangan maling atau merampok, Mas. Kan bisa ngobyek atau cari kerja sampingan. Itu Mas Supri bisa ngobyek. Kalau mengandalkan gaji buruh, aku kira Mas Supri tidak bakal bisa beli motor. Dia tentu ngobyek. Entah ngobyek apa, yang penting dapat duit!” tandas Yatmi sekali lagi membandingkan.

Aku terdiam. Apa yang dikatakan istriku benar. Kalau tidak ngobyek alias cari sampingan, orang sepertiku tidak bakal dapat tambahan uang. Supri yang dibangga-banggakan istriku itu kelihatannya suka ngobyek. Dia orangnya memang ulet, lincah, dan gesit. Pergaulannya juga luas. Tak heran, dia bisa dapat uang di luar gajinya sebagai buruh.

Tapi aku dengar-dengar obyekannya berbau kriminal. Dia dan teman-temannya mencuri barang-barang pabrik untuk dijual keluar. Meski barang itu dalam kondisi rejeck alias gagal produk, tapi aturan pabrik tak boleh dibawa keluar. Karena bisa menjatuhkan pasaran produk yang sebenarnya. Tapi itulah, beberapa karyawan ada yang nakal melanggar aturan. Padahal bila ketahuan resiko dan sanksinya sudah jelas; dipecat tanpa pesangon!

Apakah aku mesti melakukan seperti Supri?

“Zaman sekarang, kalau tidak main serobot sana serobot sini tidak bakal dapat apa-apa, No. Mengandalkan kejujuran? Basi! Kita mesti berbuat sedikit licik dan kotor agar dapat uang. Yang namanya bisnis itu ya mesti pandai memanfaatkan peluang dan kesempatan. Tak peduli peluang itu menantang bahaya dan melanggar aturan. Di mana-mana bisnis itu mengandung resiko!” cerocos Supri ketika suatu hari aku berkesempatan ngobrol dengannya.

Aku meneguk ludah. Begitu enaknya Supri bicara. Bisnis di matanya seakan hanya sebuah perjudian. Bukan lagi berdasar etika dan aturan, tetapi bagaimana menjaring keuntungan dengan segala cara, tak peduli merugikan pihak lain. Bisnis ugal-ugalan namanya!

“Kita tidak usah munafik, No! Kamu pikir, para pengusaha yang punya pabrik itu tidak main licik dan kotor? Mereka lebih serigala dibanding kita, mereka adalah monster. Kalau serigala cuma makan bagian sedikit, tapi monster mencaplok semuanya. Bayangkan, untuk bisa mendapatkan keuntungan besar mereka memeras tenaga ribuan buruh, memainkan pasal-pasal perburuhan, mengelabui pajak, memanipulasi laporan keuangan, dan banyak lagi kecurangan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya!” tandas Supri.

Aku terdiam. Apa pun alasan yang dikatakan Supri, tindakannya main sikat barang orang, meskipun dirinya juga termasuk dirugikan oleh pemilik perusahaan, hal itu tetaplah salah! Tidak benar! Aku tak mau meniru cara Supri. Aku ingin mencari cara lain. Sejak ‘diteror’ istriku dengan tuntutan mencari uang tambahan di luar gaji buruh, aku memang berusaha mencari obyekan yang menguntungkan. Tentu saja obyekan ini harus bisa dilakukan di luar jam kerjaku sebagai buruh. Cuma kerja sampingan!

Tiba-tiba aku ingat Ipul, tetanggaku yang bekerja sebagai pedagang asongan. Kulihat dia cukup sukses. Bisa beli motor dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Aku punya kesempatan belajar pada Ipul saat bertemu di jalan sepulang kerja. Kami duduk-duduk di pinggir trotoar. Aku menanyakan, bagaimana suka duka Ipul berjualan asongan, berapa penghasilannya sehari, plus tips menghindar razia petugas ketertiban kota.

“Itu sih, tergantung pintarnya kita, Bang. Supaya dagangan laris, kita cari tempat yang ramai. Biar tidak kepergok petugas Tramtib kita saling kontak sama teman-teman lain. Jadi sebelum ketangkap, kita sudah kabur dulu!” tuturnya.

“Berapa penghasilanmu sehari?” tanyaku.

“Yaah, cuma pas-pasan, Bang. Paling banter limapuluh ribu!”

“Tapi kayaknya kamu kok sukses. Bisa beli motor, televisi, perabotan…?”

“Kalau itu mah, hasil sampingan, Bang.”

“Kamu masih kerja sampingan juga?”

“Iya, Bang!”

“Apa itu?”

“Rahasia, Bang.”

“Alaah, tidak usah pakai rahasia. Kita kan sudah lama temenan. Aku janji tidak akan membuka rahasiamu. Suer!”

Ipul tampak resah. Seperti orang ketakutan. Dia tengok kanan kiri sebentar sebelum kemudian berbisik ke telingaku. Mataku terbelalak mendengar bisikannya. Busyet! Pantesan penghasilan Ipul gede banget. Sampingannya jauh lebih besar dari kerja utamanya! Tapi kemudian aku tercenung. Haruskah kuikuti cara Ipul? Memang gede hasilnya, tapi kerjanya berbau kriminal. Jualan narkoba!

Ah, hatiku tiba-tiba dibuat kelu dan kecut. Hampir semua orang yang kudatangi semuanya memiliki kerja sampingan. Tapi kerja sampingan yang mereka lakukan kebanyakan tidak benar, melanggar hukum, dan berbau maksiat. Ah, kenapa semua orang mudah tergoda oleh uang? Seakan pekerjaan halal yang sudah dijalani, walau dengan hasil kecil, tak cukup lagi!

Jika dipikir-pikir, orang seperti Supri, Ipul, atau yang lainnya sudah cukup hidup dengan gaji mereka, meski pas-pasan. Mereka masih bisa ngasih makan keluarga. Hanya karena tuntutan kepantasan dan kepatutan untuk bisa hidup seperti tetangga atau dengan standar hidup yang tinggi; diukur dengan benda-benda sekunder seperti televisi, motor, perabotan, dan lain-lain, sehingga mereka merasakan hidup yang dijalani terasa kurang. Merasa paling miskin!

Hal sama juga terjadi padaku. Jika dikalkulasi, gajiku sebagai buruh pabrik sebenarnya sudah cukup untuk makan, bayar sewa rumah, listrik, bayar sekolah anak-anak, dan keperluan lain yang wajar. Tapi semua itu tidak cukup lagi ketika distandarkan dengan kebutuhan yang sifatnya sekunder dan insidentil macam biaya berobat, kegiatan sosial, nengok orang sakit, sumbangan, dan lain-lain.

Semua orang sepertinya tidak ada yang puas dengan pekerjaannya, dengan penghasilan yang didapat. Seorang PNS yang punya gaji tetap dan kelak dapat pensiun pun masih cari sampingan. Bahkan seorang pengusaha dan konglomerat yang bergelimang harta, masih berusaha ngobyek. Mereka main proyek dan tender gelap. Semua orang punya kerja sampingan. Semua orang ingin dapat hasil lebih. Mereka tidak puas dengan apa yang sudah didapat!

Seperti sopir omprengan yang dikejar setoran, semua orang sibuk mencari obyekan. Mungkin di dunia ini hanya aku satu-satunya orang yang terlalu jujur dan menerima apa adanya keadaan. Aku sebenarnya tak berkeinginan mencari obyekan kalau tidak dipaksa istri. Karena kerja sampingan bisa mengganggu dan merugikan kerja utama. Bayangkan, jika seorang PNS ngobyek di tengah jam kerja, bukankah itu sama artinya memanipulasi waktu kerja? Merugikan negara yang telah menggajinya!

Belajar mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan dan menerima apa pun keadaan memang sulit. Sama sulitnya dengan mengekang hawa nafsu!

Doa: Syukur atau Kufur..? November 15, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.

Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.

Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.

Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.

Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.

Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.

(Manhaj-salaf.net)

                                                                                             .

Biarkan Jatuh Cinta – by ST12 October 19, 2009

Posted by tintabiru in Kayungyun.
add a comment

tatap ini indah melihatmu
rasa ini rasakan cintamu
jiwa ini getarkan jiwamu
jantung ini detakan jantungmu

dan biarkan aku padamu
takkan menyesal hidup di dalam hidupku
rasa ini tulus padamu
dan kan ku biarkan sampai aku mati

reff:
biarkan aku jatuh cinta
pesona pada pandangan saat kita jumpa
biarkan aku kan mencoba
tak peduli kau berkata tuk mau atau tidak

tatap ini indah melihatmu
rasa ini rasakan cintamu
jiwa ini getarkan jiwamu
jantung ini detakan jantungmu

Hmm… October 7, 2009

Posted by tintabiru in Spirit.
add a comment

family-and-house

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

senyum aja lagi…

                                                                 

Orang Kaya yang Pandai Bersyukur ataukah Orang Miskin yang Selalu Bersabar? September 13, 2009

Posted by tintabiru in Renung.
add a comment

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

Inilah yang mungkin sering diperselisihkan oleh orang kaya dan orang miskin. Setiap golongan pun menyampaikan argumennya masing-masing. Tiap argumen yang disampaikan tidak mungkin ditolak karena sama-sama berlandaskan pada Al Qur’an, As Sunnah dan perkataan sahabat.

Imam Ahmad rahimahullah juga memiliki dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama: orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama. Pendapat kedua: orang miskin yang selalu bersabar lebih utama.

Di antara para ulama yang menyatakan bahwa orang miskin yang sabar lebih utama beralasan: orang miskin lebih cepat dihisab di akhirat nanti daripada orang kaya. Sedangkan ulama yang menyatakan bahwa orang kaya yang pandai bersyukur lebih utama beralasan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta pada Allah agar diberi sifat ghina (kaya, merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia).

Pendapat yang Lebih Tepat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyakan mengenai keutamaan suatu hal dari yang lainnya, di antaranya beliau ditanyakan mengenai manakah yang lebih utama antara orang kaya yang pandai bersyukur atau orang miskin yang selalu bersabar. Lalu beliau jawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, “Yang paling afdhol (utama) di antara keduanya adalah yang paling bertaqwa kepada Allah Ta’ala. Jika orang kaya dan orang miskin tadi sama dalam taqwa, maka berarti mereka sama derajatnya.” (Badai’ul Fawaidh, 3/683). Itu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon hal. 67.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Menurut para peneliti dan ahli ilmu bahwa keutamaan di antara orang kaya dan orang miskin tidak kembali pada miskin atau pun kayanya. Namun itu semua kembali pada amalan, keadaan, dan hakikatnya. … Keutamaan di antara keduanya di sisi Allah dilihat dari ketakwan, hakikat iman, bukan dilihat dari miskin atau kayanya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13)

Dalam ayat ini, Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya di antara kalian atau yang paling miskin di antara kalian.” (Madarijus Salikin, 2/442)

Dalam shohih Bukhari dan Muslim, terdapat riwayat dari Abu Hurairah,

Ada yang mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa.”

Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “(Yang paling mulia adalah) Yusuf, Nabi Allah. Dia anak dari Nabi Allah (Ya’qub). Dia cucu dari Nabi Allah (Ishaq). Dan dia adalah keturunan kekasih Allah (Ibrahim).”

Kemudian mereka yang bertanya tadi berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah mengenai barang tambang Arab yang kalian tanyakan? (Manusia adalah barang tambang), yang paling baik di antara mereka di masa Jahiliyah adalah yang paling baik di antara mereka di masa Islam, namun jika mereka memiliki ilmu.”

Semoga Allah memberi kita sifat taqwa, sifat ‘afaf (yang selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik) dan memberikan kita sifat ghina (merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia). Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

[Tulisan ini terinspirasi dari pelajaran kitab Al Furqon baina Awliya’ir Rohman wa Awliya’isy Syaithon bersama Ustadz Aris Munandar, S.S., M.Ag. pada tanggal 10 Muharram 1430 H>

Rujukan:
1. Al Furqon Baina Awliya’ir Rohman wa Awliya’isy Syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Maktabah Ar Rusyd
2. Badai’ul Fawaidh, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Asy Syamilah
3. Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Asy Syamilah

Pangukan, Sleman, 11 Muharram 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya.

Wallahu a’lam bish-shawab

                                                                                         

Kekuatan Pikiran September 7, 2009

Posted by tintabiru in Renung.
add a comment

FishJumpHand

Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya. Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasihat kepada putranya, “Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahkluk jelek, hitam, dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?” sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya.

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orangtuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orangtua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.

Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.

Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. “Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri, kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satu pun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan.”

Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu mengubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.

Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!

Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!

Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.

( Sumber : andriewongso.com )

                                                                              

Waspadai Pengapuran pada Sendi August 18, 2009

Posted by tintabiru in Serbaneka.
add a comment

gearJika jari terasa pegal, paling enak memang menarik jari-jari hingga berbunyi gemeretuk. Begitupun ketika pinggang terasa pegal, langsung memutir tubuh hingga bunyi gemeretuk. Setelah itu, pegal rasanya hilang seketika. Tetapi benarkah demikian?

Karena menurut dokter spesialis tulang (orthopedik) RS Siaga, dr Lukman Shebubakar, jari-jari atau sendi kaki yang suka mengeluarkan bunyi gemeretuk merupakan pertanda bahwa seseorang menderita pengapuran pada sendi atau osteoarhritis.

“Berbeda dengan osteoporosis yang berarti pengapuran pada tulang, maka osteoarhritis adalah pengapuran pada sendi,” kata dr Lukman Shebubakar dalam sebuah seminar tentang osteoarhritis, di Jakarta, belum lama ini.
Dijelaskan, tubuh manusia terdiri atas 206 tulang dan 230 sendi. Osteoartritis adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada tulang rawan sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan.

“Pengapuran sendi pasti akan dirasakan setiap orang, terutama oleh orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, hal itu dapat terjadi lebih dini,” ujarnya.

Osteoarhritis bisa dialami orang dewasa yang pernah mengalami kecelakaan, infeksi pada sendi, atau bisa juga pada bayi yang mengalami kelainan bawaan.
“Osteoarhritis bisa terjadi hampir pada semua sendi. Biasanya terjadi pada sendi yang biasa menahan beban berat dan juga pada sendi yang sering digunakan, misalnya lutut, pinggul, punggung atau tulang belakang, tangan, dan kaki,” tuturnya.
Gejala yang ditimbulkan dari osteoarhritis datang secara bertahap. Biasanya diawali dari satu sendi, adanya nyeri sendi, kesulitan naik dan turun tangga, sulit berdiri setelah lama duduk atau jongkok.

Orang-orang yang rentan dan berisiko tinggi terkena penyakit itu adalah orang yang pekerjaannya menimbulkan penekanan berulang pada sendi. “Penyakit yang timbul jika terjadi pengapuran pada sendi bisa sampai mengakibatkan berubahnya bentuk sendi,” ucapnya.

Mengapa terjadi pengapuran?

Dr Lukman menjelaskan, sendi lutut merupakan sendi dengan beban kerja yang cukup berat. Saat berdiri tegak, sendi itu dalam posisi mengunci agar posisi tubuh stabil. Sedangkan saat berjalan, sendi ini berperan laiknya engsel, sehingga gerakan kaki menjadi fleksibel.

“Saat kita berlari, atau berolahraga, sendi harus dapat menahan beban putaran dan daya saat kaki menekuk, melompat atau saat berlari. Hal itu menunjukkan bahwa sendi lutut memegang peranan penting dalam setiap posisi atau gerakan tubuh,” katanya.

Dijelaskan, dalam sendi lutut, terdapat tiga komponen tulang. Ujung tulang paha (femur), tulang tungkai bawah (tibia) dan tulang lutut (patella). Pada bagian ujung dari tulang, terdapat komponen yang disebut dengan tulang rawan.
Tulang rawan berperan melapisi ujung tulang di persendian. Dengan adanya tulang rawan, ketiga tulang tersebut bertemu, namun tidak terjadi gesekan, dan gerakan sendi menjadi mulus.

“Sesuai perjalanan usia, pada orang tua akan terjadi kerusakan pada tulang rawan (kartilago) sendi. Selain faktor usia, ada juga faktor lain yang dapat mempercepat proses kerusakan. Misalnya saja infeksi, trauma, aktivitas yang tinggi atau berat badan berlebih,” katanya.

Jika terjadi kerusakan, maka tulang rawan menjadi tipis dan permukaannya tidak rata. Akibatnya terjadi gesekan diantara tulang, menimbulkan nyeri. Selain itu pengapuran sendi lutut, juga dapat disebabkan oleh bentuk sendi yang tidak normal.
Ia menyebutkan tindakan menekuk keluar (valgus), atau menekuk ke dalam (varus). Kondisi ini mengakibatkan beban tubuh tidak lagi berada pada tempat yang ideal, melainkan bergeser ke arah luar atau ke dalam. Bagian yang mengalami beban berat akan lebih cepat mengalami pengapuran dibanding bagian yang tidak mendapat beban.

Kerusakan pada tulang rawan mengakibatkan gerakan tidak lagi mulus. Ujung-ujung tulang bertemu dan bergesekan satu sama lain. Kerusakan tulang rawan merangsang pertumbuhan tulang baru di dalam sendi, dikenal dengan osteofit. Dengan adanya osteofit, nyeri bertambah parah, dan tentu saja aktivitas terganggu.
Perlu diketahui bahwa selama ini ada di kalangan kalangan awam yang salah mengartikan pengapuran dengan osteoporosis. Osteoporosis merupakan pengeroposan tulang, sedangkan osteartritis adalah kerusakan pada tulang rawan sendi (kartilago).

Untuk menentukan ada tidaknya pengapuran pada sendi, selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang. Misalnya saja melakukan foto rontgen. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui kondisi sendi lutut dan memperkirakan derajat kerusakan.

Jika dicurigai adanya masalah pada jaringan lunak, semisal pada ligamen (urat) atau pada tendon di daerah sendi lutut, maka akan dilakukan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI).

Pemeriksaan itu dapat menemukan adannya robekan, atau penyakit lain, pada jaringan lunak di daerah lutut semisal otot, tendon atau ligamen. Penyebab kerusakan beragam diantaranya trauma atau infeksi.

Tentang pengobatan, dr Lukman menyebutkan ada beberapa lini terapi yang digunakan untuk mengatasi pengapuran pada sendi lutut. Tahap awal biasanya diberikan obat penghilang rasa nyeri. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), seminal asam mefenamat,ibuprofen, piroksikam dapat digunakan.

“Efek samping obat jenis ini, terjadi gangguan lambung. Selain itu minum, dapat diberikan anti nyeri yang dioleskan langsung ke kulit. Berbentuk jel atau spray disemprotkan langsung di daerah kulit sekitar lutut,” katanya.

Jenis AINS yang terbaru dikenal dengan COX-2 inhibitor. Efek samping obat ini terhadap saluran cerna lebih kecil disbanding dengan obat AINS biasa. Belakangan diketahui bahwa obat ini menimbulkan risiko jantung dan stroke. Sehingga penggunaanya pada penderita yang memiliki serangan jantung atau stroke perlu diwaspadai.

Jika pengobatan kurang mendapatkan hasil, dianjurkan bagi penderita untuk melakukan fisioterapi. Latihan dapat dilakukan dengan bantuan ahli fisioterapi,untuk mendapatkan gerak yang normal pada lutut, dan menghilangkan nyeri. Latihan yang dapat meningkatkan kemampuan otot di sekitar lutut, sehingga lebih stabil dan posisi tubuh seimbang.

Terapi lain adalah dengan menyuntikan langsung obat ke sendi lutut untuk menghilangkan rasa nyeri. Efek terapi dapat bertahan hingga beberapa bulan. Dokter akan mempertimbangkan masak-masak sebelum melakukan tindakan ini, karena jika terlalu sering malah mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendi.
Operasi yang dilakukan bisa melalui operasi arthroscopy, osteotomy, arthtoplasty, dan arthrodesis. “Selain operasi, terdapat cara penyembuhan lain yaitu dengan fisioterapi, atau program latihan lain. Selain itu dukungan psikososial sangat perlu, bahkan dengan cara yang sederhana, yaitu dengan cara mengonsumsi vitamin glukosomin, atau dengan olahraga yang tepat,” ujarnya.

Ditambahkan, selain itu pentingnya seseorang mempertimbangkan kegiatan dengan kekuatan sendi yang sesuai dengan umur.

“Untuk orang yang mengalami obesitas atau kegemukan, maka makanan yang dikonsumsi harus dijaga karena orang yang obesitas cenderung terkena penyakit ini,” terangnya.

(Sumber: dechacare.com)

Antara Facebook & Manusia Produktif August 9, 2009

Posted by tintabiru in Renung.
1 comment so far

( Tulisan Yesi Elsandra di dakwatuna.com, menarik ulasannya, terima kasih telah membantu mengingatkan… )

Kecanggihan teknologi informasi khususnya internet telah membawa kemajuan yang sangat pesat di seluruh aspek kehidupan. Berapa banyak kawan lama yang kembali bersilaturahim berkat situs jejaring rekaan Mark Zuckerberg bernama Facebook. Berapa banyak bisnis berjalan mulus dan berkembang berkat distribusi dan jaringan melalui internet. Berapa pula banyak orang yang menjadi religius berkat siraman rohani dari berbagai situs dakwah yang bertebaran di dunia maya.

Namun dibalik manfaat kecanggihan internet itu tidak sedikit pula mudharat yang bakal menimpa penggunanya. Edward Richardson, pria asal London, Inggris tega membunuh mantan istrinya. Penyebabnya hal sepele, yakni setelah mengetahui kalau mantan istrinya tersebut telah mengubah status ’single’ di Facebooknya. Tidak sedikit juga pengguna internet menjadi tidak produktif karena waktunya habis terbuang hanya untuk memperhatikan perkembangan Facebooknya.

Jika Facebook dan produk internet lainnya telah melalaikan dan menurunkan produktivitas kita sebagai seorang muslim itu tandanya kita harus waspada. Islam –dengan ke-syumul-annya– menawarkan konsep “manusia produktif” kepada setiap orang sekaligus mengantarkan mereka menembus nilai-nilai ilahiyyah yang sering tertutup oleh tabir kegelapan jahiliyyah. Sekurang-kurangnya ada empat prinsip yang diutarakan sebagai konsep Islam dalam membina manusia menjadi muslim produktif, duniawi dan ukhrawi.

Yang pertama, mengubah paradigma hidup dan ibadah. Dalam Islam, hidup bukanlah menuju kematian, akan tetapi menuju kehidupan yang abadi. Hidup merupakan ladang yang akan dituai hasilnya di kehidupan abadi nanti. Sehingga hidup ini merupakan durasi penyeleksian manusia dari amalan-amalannya, dari produktivitasnya di pentas dunia. Mana di antara mereka yang tingkat produktivitasnya tinggi dan mana yang tidak. Allah swt berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51:56)

Apabila paradigma (cara pandang) terhadap Facebook dan produk internet lainnya sebagai sarana atau media yang memberikan kemudahan kepada kita untuk beribadah kepada Allah SWT maka peningkatan produktivitas kita akan mengalami lonjakan kenaikan yang tinggi karena media itu telah memberi banyak manfaat kepada kita, bukan menjadi sarana yang menjerumuskan kita kepada kesia-siaan, waktu yang terbuang dan berbagai kemudharatan lainnya.

Yang kedua, memelihara kunci produktivitas, yaitu hati. Rasulullah saw bersabda: “Ingatlah dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, itu tidak lain adalah hati”.

Hati merupakan “ruh” bagi semua potensi yang kita miliki. Jika hati kita bersih pikiran dan tenaga tidak akan tercurahkan serta tersalurkan hanya untuk melihat foto-foto orang lain, atau membaca komentar-komentar orang lain di Facebook. Jika hati kita bersih kita juga tidak akan berbuat iseng kepada orang lain dengan mengambil gambar orang lain untuk keperluan yang tidak bermanfaat.

Hati yang terpelihara dan terlindungi akan memancarkan energi yang mendorong manusia untuk beramal lebih banyak dan lebih berkualitas lagi. Produktivitasnya akan terjaga bahkan akan terus bertambah sedikit demi sedikit. Dan tidak hanya itu, ‘amaliyah-nya (produktivitas) pun akan mempunyai nilai yang abadi. Nilai ini adalah nilai keikhlasan yang jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi dan duniawi.

Yang ketiga, bergerak dari sekarang. Seorang sahabat pernah berkata: “Jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu nanti sore, dan jika engkau di sore hari maka janganlah menunggu waktu besok”. Prinsip “bergerak dari sekarang” ini menunjukkan suatu etos kerja yang tinggi dan hamasah (semangat) beramal yang menggebu-gebu. Seorang muslim sangatlah tidak pantas jika menunda-nunda suatu amal, karena waktu dalam pandangan Islam sangatlah mahal (oleh karena itu, dalam Al-Qur’an Allah swt banyak bersumpah dengan waktu), Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengatakan bahwa “waktu adalah kehidupan” .

Dari prinsip ini, akan terlahir sosok-sosok manusia ‘amali. Manusia yang senantiasa menghiasi waktunya dengan produktivitas tinggi akan menjauhi hal-hal yang akan mengantarkannya kepada suatu yang sia-sia dan tak berguna. Apalagi menyibukkan waktunya untuk chatting yang tidak bermanfaat sampai melalaikan waktu shalat. Sosok muslim yang ideal telah digambarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya, ia berkata: “Di antara tanda bagusnya Islam seseorang, ia senantiasa meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya”.

Yang keempat, kontinuitas dalam beramal. Dalam Islam, masa produktif ialah sepanjang hayat, selama ia masih menghirup kehidupan, maka ia dituntut untuk terus beramal dan menjaga produktivitasnya, walaupun amalan itu dilakukan sedikit demi sedikit.

Dengan prinsip kontinuitas ini, maka Islam dapat menjaga kestabilan produktivitas seorang muslim. Islam tidak membiarkan seorang muslim beramal “besar” kemudian setelah itu padam dan surut kembali. Dorongan kontinyu (dawam) dalam beramal dengan bentuk ahabul a’mali ilallah (yang paling disukai oleh Allah) merupakan dorongan terbesar bagi setiap muslim untuk senantiasa terus produktif dan menjaga produktivitasnya.

Seharusnya kita dapat menjadikan Facebook dan media internet lainnya sebagai sarana untuk menyebarkan fikrah Islamiyah yang bersih. Satu saja orang bisa tersentuh cahaya Allah melalui tangan kita tentu akan melapangkan jalan kita ke surga.

Dunia dan segala apa yang ada di dalamnya hanyalah sarana yang akan menghantarkan kita pada perjumpaan dengan yang Maha Pencipta. Jangan terlalu dicinta yang membuat waktu kita habis bersamanya. Amatlah merugi jika sarana itu justru menghantarkan kita kepada kehinaan di neraka jahanam. Sebagai seorang muslim kita memahami bahwa hidup ini hanya sekali. Hiasilah ia dengan sikap produktif, kreatif, inovatif dan prostatic. Semoga kita semua menjadi manusia yang beruntung. Amin…

Mengalah untuk Menang August 4, 2009

Posted by tintabiru in Uncategorized.
add a comment
telurSeorang pria yang hidup di suatu kota kecil mempunyai kebun dan taman yang indah dibelakang rumahnya.

Tetapi tetangganya , memelihara sekawanan ayam yang sering dengan mudah menemukan jalan masuk melalui lubang – lubang pada pagar untuk melahap tanaman dan merusak taman tersebut.

Pemilik kebun itu berpikir bagaimana ia dapat memecahkan masalah ini sambil tetap menjaga hubungan damai dengan tetangganya , sementara ia sudah lelah memperbaiki pagar kebun yang dirusak.

Maka ia menemukan suatu gagasan yang cemerlang.
Ia pergi ke toko grosir dan memebeli beberapa butir telur ayam.

Sore itu juga ia mengantar dua butir telur ke tetangganya dan berkata : ” Ayam – ayam mu bertelur di kebunku , tetapi saya tidak mau mengambil apa yang bukan milikku. Maka saya memberikan telur – telur ini kepadamu ”.

Hari berikutnya pemilik ayam itu dengan tekun memperbaiki lubang – lubang pada pagar tersebut , dan tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka.

Sumber: tulisan Djodi Ismanto